Kamis, 20 Agustus 2009

PEMETA SENI RUPA

Di balik kemeriahan pameran seni rupa, tersimpan kerja keras dan kejelian kurator dalam mengonsep serta memilih gagasan dan karya terbaik para perupa.

Di antara gegap gempita pasar seni rupa dan eforia lonjakan harga karya ke tingkat paling fantastis, ada sebuah jalan yang hanya dilalui sedikit orang. Jalan para kurator ini, masih terbuka luas, karena masih sedikit orang yang memilih profesi tersebut. Dalam lingkaran kecil kurator yang dimiliki seni rupa Indonesia, ada bidang lebih kecil lagi yang diisi para perempuan kurator. Namun, meski sedikit, mereka bisa mewarnai dunia seni rupa kontemporer Indonesia lewat kiprah yang tak layak diabaikan. Empat orang pilihan dewi kali ini setidaknya akan bisa mewakili kiprah para perempuan kurator memetakan ranah seni rupa Indonesia.

Alia Swastika

Kurator Ark Galerie

Ketika bergabung dengan surat kabar mahasiswa, Newsletter Surat, yang diterbitkan Yayasan Cemeti Yogyakarta, Alia Swastika sama sekali tak menyangka kalau dunia tulis-menulis akan membawa langkahnya memasuki sebuah ‘jalan sunyi’ dalam seni rupa. Menjadi kurator bukan tujuan awal kariernya, meskipun Alia selalu punya ketertarikan pada dunia seni lain seperti teater, musik, dan film. Persinggungan intensif dengan seni rupa ketika ia bekerja di Surat, mempertemukannya dengan sebuah peluang yang ketika ia jajaki, memberi kepuasan tersendiri buatnya. “Suatu hari saya melihat lowongan sebagai manajer artistik di Rumah Seni Cemeti. Mengkurasi pameran adalah salah satu kerja yang harus dilakukan. Saya coba mengambil peluang itu dan ternyata menikmatinya,” kata Alia yang kini menjadi kurator in house Ark Galerie.

Masa awal memulai kerjanya sebagai manajer artistik, Alia mengaku banyak mengamati dan mempelajari bagaimana duo pemilik Rumah Seni Cemeti, Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo mengelola galeri. “Saya perhatikan cara mereka membuat konsep kurasi dan berhubungan dengan seniman. Banyak yang bisa saya pelajari dari sana, karena mereka juga sering kedatangan publik seni internasional,” Alia berkisah. Perempuan yang menyukai teater ini, lantas mendapat sebuah ide menarik saat ia menonton sebuah pertunjukan. “Saya melihat properti pertunjukan itu seperti sebuah patung. Lalu saya pikir, kenapa tidak membuat pameran dengan properti panggung teater dan tari sebagai instalasi seni?” Ia lalu mengajukan proposal kurasi ke Cemeti yang langsung disetujui. Orisinalitas ide Alia menjadi daya tariknya.

Saat itu Alia mengundang Teater Garasi, Teater Payung HItam di Bandung, dan Boi G. Sakti untuk terlibat dalam pameran yang ia beri judul In The Shadow of Light. “Sebab saya melihat, cahaya juga merupakan elemen seni rupa yang penting dalam sebuah pertunjukan teater,” kenangnya. Debutnya pada 2005 itu mendapat sambutan baik, karena saat itu jarang sekali ada pameran dengan format yang berhasil menarik pula publik teater dan tari yang berada di luar seni rupa. “Karena dianggap memiliki ketertarikan pada kerja kurasi, setelah pameran pertama itu saya dipercaya mengambil alih beberapa proyek kurasi di Cemeti. Bersama Mella dan Nindit, saya menangani beberapa pameran rutin dan mempersiapkan pameran di luar negeri,” katanya.

Ada proses kerja panjang yang harus dilalui seorang kurator untuk menggelar sebuah pameran. “Tiap pameran, persiapannya bisa mencapai 8-12 bulan. Walaupun untuk pameran kelompok, saya melakukan pendektan yang sama seriusnya dengan pameran tunggal. Begitu pula perlakuan saya terhadap seniman, baik seniman senior, yang sudah tenar atau seniman baru. Tidak ada perbedaan,” katanya. Integritas, adalah hal penting untuk memastikan setiap proses persiapan berjalan lancar. “Saya orang yang sangat percaya prinsip integritas. Ketika bekerja dengan para seniman, itu yang saya pegang. Saya mencoba bekerja sesuai prosedur dan kesepakatan dengan mereka,” katanya tegas. Menurutnya, kerja kurasi yang baik baik adalah bentuk apresiasinya pada kerja kreatif seniman.

Hal penting yang juga perlu dilakukan dalam profesi ini menurutnya adalah melakukan riset, mengenal seniman, dan juga mengetahui jenis karya yang akan dipamerkan. “Dia harus kenal seniman, harus tahu kecenderungan karyanya dan paham bagaimana itu harus dipresentasikan. Karena dari situ, konsep bisa dielaborasi lebih jauh dan dipresentasikan ke publik dengan cara yang tepat,” kata kurator yang baru saja menggelar pameran pameran Golden Age di Museum Akili itu. Seorang kurator, dalam pandangan Alia, tak bisa dibilang sukses jika publik seni hanya menemukan karya-karya bagus dalam ruang pamerannya. “Kalau itu yang terjadi, yang berhasil adalah senimannya, bukan kuratornya. Karena yang mengerjakan itu senimannya. Keberhasilan kurator diukur dari apakah publik bisa membaca gagasan di balik pameran itu,” tukas kurator yang menghindari melakukan ‘kerja jarak jauh’ dengan senimannya ketika sedang mempersiapkan pameran.

“Modal utama menjadi kurator adalah persahabatan dengan seniman. Sepintar apa pun seorang kurator, kalau tidak bisa menjalin hubungan baik dengan seniman atau tidak bisa membuat seniman percaya, ya tidak akan ada manfaatnya. Pasti susah sekali,” kata kurator. Tanpa latar belakang seni rupa, lulusan Komunikasi dari Universitas Gajah Mada ini yakin, bahwa pengetahuan dan ketajaman rasa dalam seni, itu bisa dipelajari sambil jalan. “Saya merasa banyak diuntungkan oleh kesempatan untuk pergi ke luar negeri. Kalau saya tidak mengalami itu, mungkin yang saya ketahui hanya sebatas apa yang ada di katalog dan buku-buku,” ungkapnya. Ia merasa diperkaya pengalaman itu, yang berimbas langsung pada sensibilitasnya terhadap seni.

Sensibilitas, menurut kurator yang sempat magang di Asia Society Museum New York ini merupakan hal penting yang tidak berdiri sendiri. “Dia dikonstruksi oleh konsep, pengetahuan, dan pengalaman,” ungkap Alia yang senang memerhatikan kerja seniman karena memperkaya pengetahuan teknisnya. (Untuk itu ia sering menyempatkan diri bertandang ke studio seniman dan melihat langsung proses pembuatan karya).

Lalu apa sebenarnya yang membuatnya jatuh cinta pada profesi ini? “Buat saya, bersahabat dengan seniman adalah kemewahan yang tidak semua orang punya kesempatan untuk itu. Mereka punya pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan orang. Saya menikmati sekali petualangan gagasan yang sangat menarik. Seperti duduk di roller coaster ketika berinteraksi dengan para seniman yang memiliki latar pengaruh berbeda,” tandasnya.

Farah P. Wardani

Kurator Independen

Di antara kurator yang terlibat dengan sebuah institusi seni, terdapat pula mereka yang memilih untuk tidak terikat satu lembaga seni sebagai kurator dan bahkan menjalani profesi kurator hanya sebagai profesi pendamping. Salah satu yang memilih itu adalah Farah P. Wardani. Sejak awal, ia memang memilih untuk menjadi kurator lepas. Farah yang kini menjadi manajer Indonesian Visual Art Archive (IVAA), memilih untuk lebih berfokus pada lembaga nirlaba yang mengurusi pendokumentasian catatan tentang perkembangan seni rupa Indonesia itu. “Apalagi sekarang ini saya dan IVAA sedang sibuk mempersiapkan peluncuran Online Archive. Jadi sementara memang tidak terlalu aktif sebagai kurator,” katanya.

Tapi itu tidak lantas membuatnya sama sekali vakum mengkurasi. Setelah menjadi kurator dalam pameran di Nadi Galeri dan Galeri Nasional Jakarta, Farah sempat juga mengkurasi pameran Bambang Toko di Valentine Willy Gallery di Kuala Lumpur. “Sekarang ini saya lebih banyak menulis pengantar pameran saja, seperti untuk pameran Bob Sick dan S. Teddy D. kemarin di Yogyakarta,” ujar Farah yang kini juga sedang membantu Edwin Rahardjo dari Edwin’s Gallery mempersiapkan pameran untuk memperingati 25 tahun galerinya – salah satu dari 25 kurator yang diminta menangani pameran koleksinya.

Mengkurasi koleksi sebuah lembaga seni, menurut Farah yang pernah aktif di Ruang Rupa Jakarta ini, memang kerja seorang kurator yang umumnya bekerja di museum, “Tapi dalam perkembangannya, di luar museum juga ada lembaga-lembaga seni lain seperti galeri dan biennale.” Hal ini, dalam pandangannya, membuat infrastruktur seni rupa jadi berkembang makin kompleks. Kurator akhirnya tidak lagi hanya mendekam di museum, tapi melangkah ke luar, menjadi partner seniman untuk menciptakan inovasi atau perkembangan baru dalam seni rupa. “Sayangnya, hal itu belum berjalan terlalu sempurna di sini. Karena di sini, museum seni rupa yang sangat memadai seperti Museum of Modern Art (MOMA) di New York, atau Fukuoka Asian Art Museum itu belum ada,” katanya. Tak heran, Farah menangkap fakta kalau kurator di Indonesia akhirnya lebih berperan sebagai penggagas pameran. “Saya lebih suka menyebutnya dengan istilah program director untuk acara seni, entah pertunjukan atau pameran, ketimbang kurator. Mirip dengan music director, tapi untuk acara seni rupa,” Farah menambahkan.

Kondisi dilematis itu, menurut analisisnya, terjadi karena belum adanya dukungan memadai dari pemerintah terhadap pengembangan seni rupa. “Memang belum memungkinkan selama pemerintah juga belum memberi dukungan yang memadai. Sekarang memang seni rupa sedang sangat meriah dan sudah bisa jadi sumber penghidupan. Tapi kalau boleh bicara, secara esensi, kerja seni rupa itu belum selesai,” ungkapnya. Farah mengambil IVAA sebagai contoh. Kerja pendokumentasian yang dilakukan di IVAA menurutnya adalah upaya untuk mengisi kekurangan referensi yang seharusnya menjadi begian kerja pemerintah. “Orang yang ingin tahu sejarah seni rupa, ingin tahu proses yang terjadi di situ, belum punya banyak sarana untuk itu. IVAA ini adalah salah satu sarana yang bisa digunakan untuk hal tersebut,” Farah menjelaskan.

Di luar keterbatasan sarana itu, lulusan Desain Komunikasi Visual dari Universitas Trisakti ini merasa referensi adalah elemen penting yang sangat membantu kerjanya sebagai seorang kurator. “Saya dapat banyak referensi untuk kerja kurasi dan kerja kurasi saya juga menambah daftar rujukan di IVAA,” ungkapnya. Kadar kebutuhan atas referensi itu sendiri, menurut salah satu penulis buku Indonesian Women Artist The Curtain Opens ini sangat tergantung pada pameran yang digelar. “Kalau seperti saya yang banyak menangani seniman muda dan bertindak layaknya seorang talent scout sekaligus memberi masukan untuk seniman muda itu, referensi yang saya gunakan tidak banyak mengenai seniman muda itu, tapi lebih pada soal kajian budaya dan fenomena apa yang diwakili dan sebagainya meski kadarnya berbeda tergantung skala pameran,” jelasnya.

Farah yang memang lebih sering membawa nama-nama baru dalam pamerannya itu, merasa perlu menjelaskan tak hanya penilaian secara estetik, melainkan juga kedudukan seniman itu dalam peta generasi seni dan fenomena sosial tertentu. “Ini sama halnya seperti dalam musik. Selalu perlu ada sesuatu yang ditawarkan. Itu memang pekerjaan yang tak pernah habis kalau memang terus dipelajari. Itu bagian dari profesi,” katanya. Untuk menjaga bobot kualitas pameran yang ia tangani, Farah mengaku mematok hanya mau menerima maksimal lima saja tawaran menggelar pameran. “Karena saya sebenarnya lebih suka antara pameran yang satu dengan pameran lainnya tidak berbarengan. Satu pameran saja tiap kali,” ungkap peraih master sejarah seni dari London’s Goldsmith College ini. Apalagi saat ini, prioritas utamanya memang tengah tertuju pada IVAA dan kurator diakuinya sebaai kerja sampingan saja.

Namun, kendati sudah mengatur agar kelima pameran itu tidak terjadi dalam bulan yang sama, tak jarang tenggat waktu perupa yang mundur membuatnya harus mengerjakan beberapa proyek di waktu yang berbarengan. “Kerja kurator itu memang susah-susah gampang. Dibilang susah dan menyita waktu sekali juga tidak. Tapi saya juga harus menjaga mood saat memantau seniman-senimannya, butuh fokus sendiri. Jadi ketika ada yang menawarkan pekerjaan, biasanya saya menolak. Tapi seringkali terjadi, dalam prosesnya, seniman seringkali mengundur pameran, jadilah ujung-ujungnya numpuk juga. Tapi itu juga sudah saya perkirakan. Karena seniman seringkali menunda hingga galeri pun terpaksa mengikuti mereka,” keluhnya.

Kondisi itu tak jarang menempatkannya pada posisi tengah yang tak nyaman. “Seringnya berada pada posisi sebagai jembatan yang melintang antara manajemen galeri dan proses berkarya seniman yang sangat cair. Itu sudah bagian kerja kurator sebenarnya, tak bisa dihindari,” katanya. Karena itu biasanya Farah memilih bekerajsama dengan galeri yang memang bisa memahami proses kerja seniman. “Apalagi sekarang banyak sekali galeri. Saya sangat selektif memilih galeri supaya bisa menghindari kondisi seperti itu,” katanya menambahkan. Untuk mengatasi hal itu, ia lantas selalu membuat tenggat waktu yang tegas untuk para seniman, dengan toleransi penangguhan waktu yang hanya boleh dilakukan dua kali saja. “Lebih dari itu, saya biasanya memilih membatalkan pameran, walau ini belum pernah terjadi,” kisahnya.

Konsekuensi dari pilihan tidak membatalkan pameran itu, membuat Farah justru kerap harus berkompromi dengan idealisme konsepnya sendiri. “Buat saya, kalau memang jadi, ya jadi. Tapi ya itu, ide-ide saya akhirnya banyak yang belum bisa terealisasi,” katanya sambil tertawa. Ia lantas mengambil pameran Bohemian Carnaval di Galeri Nasional beberapa waktu lalu sebagai contoh yang tak memungkinkannya menerapkan seluruh ide. Membawa 18 seniman muda dari Yogyakarta, ia harus mengurangi banyak konsep artistik yang tak mungkin diterapkan karena terbentur kondisi para seniman yang tengah disibukkan oleh tugas akhir kuliah mereka. “Tadinya kami ingin sesuatu yang sangat eksperimental dan ingin merepresentasikan spirit anak Jogja sekarang. Tapi akhirnya saya bilang pada mereka kalau kami tidak mungkin melakukannya karena waktu pameran tidak mungkin diundur. Alhasil, jadi tidak seheboh yang kami bayangkan,” Farah mengenang.

Sebagai seorang kurator, Farah menganggap gagasan adalah hal paling utama yang harus dimunculkan, dan juga dipertanggungjawabkan. Itu sebabnya, ia sangat peduli pada soal penyebutan dirinya dalam sebuah pameran. “Saya, hanya menyebut diri saya sebagai kurator kalau konsep pameran itu muncul dari saya atau bisa juga idenya muncul dari seniman, tapi saya benar-benar mengikuti proses berkaryanya sejak awal, seperti waktu saya membantu pameran Angki Purbandono di Biasa Artspace tahun lalu,” ungkapnya. Akan berbeda keadaannya jika ia baru terlibat belakangan dan hanya membuat tulisan tentang pameran tersebut. “Misalnya saat saya membantu pameran Teddy dan Bob Sick. Saya hanya menyebut diri saya sebagai penulis karena tidak terlibat sama sekali dalam proses kreatifnya,” ia menjelaskan.

Bagi Farah, kerja kurasi menjadi sah hanya ketika ia juga memiliki otoritas untuk menentukan pesan. Soal ini bukan tanpa alasan. Ia tak mau terjebak kerancuan istilah dan mengambil tanggung jawab yang tak seharusnya ia pikul. Seperti juga Inda, ia berpendirian bahwa tidak semua penulis yang membahas sebuah pameran di dalam katalog bertindak sebagai kurator pameran itu. Oleh karenanya, penulis tidak bertanggung jawab akan konsep sebuah pameran, karena ia hanya membuat semacam review, merespons apa yang terlihat, bukan menyampaikan sebuah pesan. “Kalau saya mengkurasi pameran, saya punya ide dan mengajak mereka berkarya atas konsep yang saya buat. Kalau itu, silakan tanya apa yang ingin saya ungkapkan,” kata Farah yang senang dengan perkembangan seniman sekarang yang umumnya sudah matang secara konsep.

Inda C. Noerhadi

Kurator Galeri Nasional

Di antara deretan laki-laki yang menjadi kurator di Galeri Nasional (Galnas) Jakarta, terdapat satu perempuan yang tak asing bagi publik seni, Inda C. Noerhadi. Bersama Rizki A. Zaelani, Agus Burhan, dan mendiang Maman Noor, pada 2003 ia diangkat menjadi tim kurator. Namun jauh sebelum itu, ia sudah menjalani kerja kurator saat Galeri Cemara 6 didirikan pada 1993. “Karena harus mempersiapkan pameran, mau tidak mau saya terlibat banyak dalam pemilihan karya Mochtar Apin dan Salim yang digelar untuk meresmikan galeri. Diskusi dengan Mochtar yang terjadi secara intensif saat itu, tanpa saya sadari melibatkan saya pada kerja kurator, misalnya menentukan fokus pameran, diskusi dengan seniman, dan sebagainya. Saat itu, belum banyak orang yang menjadi kurator. Baru ada nama seperti Jim Supangkat, Asikin Hasan, dan beberapa lainnya,” kenang Inda.

Sambil terus mengasah kematangannya dalam pengelolaan galeri, perempuan pelukis ini juga terus melakukan kerja kuratorial, bersinergi dengan kurator lain. “Pada 1998, atas anjuran Jim Supangkat, saya mengikuti workshop kurator yang pertama kalinya diadakan Japan Foundation bekerjasama dengan Departemen Pendidikan. Pada saat bersamaan, saya juga sedang sibuk menyiapkan pameran Galeri Cemara 6 yang diadakan di Vatikan, berjudul Woman in the Realm of Spirituality yang diikuti para perempuan perupa,” kisahnya. Sepuluh peserta dari workshop itu dikirim ke Jepang, termasuk Inda. Perjalanannya ke sana memberi banyak masukan pada pemahamannya tentang kerja kurasi. “Di sana, kami berkeliling ke berbagai museum untuk melakukan studi banding, mulai dari melihat koleksi, berdiskusi dengan para kurator dan kepala museum, hingga melihat loading barang,” kisah Inda.

Menurut Inda yang menyelesaikan pendidikan Sejarah Seni di University of Pittsburgh itu, ada perbedaan mendasar antara pemahaman kurator di luar negeri dengan di Indonesia. “Di sana, kurator adalah penanggung jawab koleksi museum. Mereka yang tahu soal asal-usul dan segala hal tentang sebuah karya termasuk kedudukannya dalam sejarah seni rupa. Kerjanya lebih banyak berhubungan dengan arkeologi. Karya seni dalam konteks itu jadi mirip dengan artefak,” Inda menjelaskan. Kerja kurator yang juga ia pahami adalah sebagai kritikus seni yang menulis, menggali problem, dan presentasi yang disuguhkan oleh seniman. “Tapi mungkin akhirnya kerja kritikus seni tidak populer lagi karena orang malas membaca kritik seni. Maka pergeseran itu mulai terjadi. Kurator lebih populer dalam konteks sebagai pengesah pameran. Karena pameran kalau tidak ada kurator dianggap tidak seru, tidak berbobot. Itu kecenderungan yang terjadi sekarang dan menurut saya, ini membahayakan,” katanya.

Kekhawatiran Inda memang cukup beralasan. Sebab menurutnya, membuat kritik seni sebenarnya adalah bagian terbesar kerja seorang kurator. Dengan pola kerja seperti yang lazim dilakukan sekarang, Inda curiga akan terjadi degradasi pemahaman profesi kurator hanya sebagai event organizer. “Istilah kurator mulai populer di sini setelah terbuka akses untuk berpameran ke dunia internasional. Perupa-perupa kita banyak peluang pameran ke luar negeri, dan kebutuhan adanya orang yang bisa menjelaskan konsep dan pesan karya serta persoalan seni di baliknya menjadi penting.“ Ini, menurut Inda, menjadikan kurator mempunyai otoritas cukup tinggi dalam percaturan seni rupa. “Ketika kita bicara dalam konteks pasar seni, kurator akhirnya menjadi seperti legitimasi dan penentu posisi seorang seniman dalam pasar,” katanya.

Kerja kurator sekarang ini juga menjadi sangat tergantung pada bagaimana sebuah institusi seni – seperti museum atau galeri – menempatkannya. “Ada yang terlibat penuh sejak urusan membuat konsep hingga memajang karya di ruang pamer, ada juga yang hanya mengantar pameran, dan sebenarnya ia sedang melakukan kritik seni,” Inda memaparkan. Itu sebabnya, salah besar jika mengartikan semua orang yang menulis kuratorial dalam katalog sebagai kurator. Selain memiliki porsi kerja yang berbeda, penulis pengantar tidak lantas menjadi kurator yang bertanggung jawab atas konsep pameran. Melihat perkembangan yang ada, Inda mengaku ingin sekali ada sebuah standarisasi yang mengatur rambu dan etika profesi ini. “Bukan untuk mengekang, tapi memberi arahan, supaya kurator tidak lantas sekadar menjadi humas seniman. Sebab sekarang ini, ada kecenderungan kurator memegang seniman tertentu sehingga nilai seniman terutama soal harga menjadi booming karena nama kuratornya,” katanya. Inda tidak menyalahkan hal itu, namun ia mengaku khawatir hal itu akan memengaruhi objektivitas kurator dan itu akan berimbas pula pada kualitas kurator itu sendiri.

Lebih dari satu dekade bergelut dalam dunia kurasi, Inda menangkap adanya kondisi tak seimbang antara posisi kurator dan dinamika pasar. “Kurator seperti terbanting oleh dinamika pasar yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Dia mau tidak mau dipaksa mengikuti arus besar pasar yang mengarah pada seni kontemporer. Asumsi bahwa seni kontemporer yang bagus, membuat orang tak lagi tertarik pada banyak karya bagus yang tidak masuk dalam seni kontemporer dan itu membuat kurator cenderung tak berani menyuguhkan sesuatu yang berada di luar seni kontemporer,” keluhnya. Inda lalu memberi contoh pameran Umi Dahlan, di Galeri Nasional. ”Meski Jim Supangkat mengatakan bahwa itu adalah pameran yang sangat penting, tetap saja pameran itu tidak menarik minat pencinta seni karena tidak termasuk aliran kontemporer. Sedangkan dalam seni kontemporer, yang akhirnya dibicarakan hanya sebatas besarnya perputaran uang yang terjadi di sana, tapi abai pada persoalan seberapa penting sebuah karya atau perupa dalam percaturan seni rupa,” ungkapnya prihatin.

Tapi Inda, menganggap, keleluasaan pilihan ada di tangan para kurator. Bidang seni rupa yang masih tidak terlalu diminati ini menurutnya masih membutuhkan lebih banyak orang dengan peluang eksplorasi yang juga masih sangat luas. “Semua kembali pada masing-masing kurator untuk memilih bagaimana cara mereka menggali kelebihan, kesungguhan menjalani profesi, dan sebagainya. Peluang di bidang ini sangat baik. Beberapa orang dulu selalu bilang pada saya, buat apa jadi perupa, karena sudah banyak. Lebih baik jadi kurator yang masih jarang.”

Mella Jaarsma

Kurator Rumah Seni Cemeti

Berbicara tentang seni rupa kontemporer Indonesia, kita pasti akan menyebut Yogyakarta sebagai salah satu kantung seni rupa. Dan membicarakan Yogyakarta, tak akan sah rasanya kalau tidak membicarakan Rumah Seni Cemeti yang bisa dibilang merupakan lokomotif pembawa perubahan dalam perkembangan seni rupa kontemporer di sana. Dan bicara tentang Cemeti, tak akan lengkap tanpa menyebut dua penggagasnya, suami istri Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo.

Perjalanan kedua orang itu dimulai dari kesadaran mereka akan ketiadaan ruang pamer di Yogyakarta. Mereka ingin membangun ruang pamer yang memiliki pusat informasi seni rupa serta ruang berdiskusi. “Pada era 1980-an, sudah banyak sekali mahasiswa di ISI dan seniman yang membuat karya menarik seperti Heri Dono atau Eddie Hara. Tapi biasanya, ketika mereka selesai kuliah, susah memamerkan karyanya di sini, apalagi untuk mencari uang. Mereka kebanyakan lalu pindah ke Bali atau Jakarta dan selalu hilang,” kenang Mella tentang Rumah Seni Cemeti yang kini menjadi satu institusi seni penting dalam percaturan seni rupa Indonesia..

Itu juga yang lantas menghubungkan perupa kelahiran Emmloord, Holland ini berkesplorasi dengan berbagai media dengan kerja kurasi. “Satu alasan kami membuat ruang pamer itu supaya orang bisa melihat perkembangan seni rupa di sini. Karena pada waktu itu yang tampil hanya galeri batik komersial yang benar-benar seperti toko. Kami ingin sesuatu yang berbeda yang lebih menampilkan kreativitas teman-teman,” katanya. Menurut Mella, di balik ide pembukaan galeri itu, ada kerja yang terfokus pada bagaimana mengedukasi masyarakat agar bisa mengapresiasi seni. Ia lalu terlibat dalam penentuan, siapa saja seniman yang akan ditampilkan di galeri yang berawal dari ruang tamu sebuah rumah di daerah Keraton yang berukuran 4X7 meter. “Dari ruang itu, kami mengembangkan visi yang lebih luas,” kata Mella yang selalu menyebut dirinya sebagai kami, ketimbang saya.

Dulu, ia mengenang, karena keterbatasan ruang yang ada, hanya pameran tunggal yang bisa digelar dengan jumlah karya yang tergantung pada ukuran karya tersebut. “Kalau seniman membawa lukisan kecil, yang dipamerkan bisa banyak. Tapi kalau ukurannya lumayan besar, hanya beberapa saja. Ya, apa yang bisa diharapkann dari dinding di ruangan seluas 4X7 meter, yang masih pula dipotong pintu dan jendela,” tukasnya sambil tertawa. Sejak awal, Mella sebenarnya telah melakukan kerja kurasi di Cemeti. “Tapi pada waktu itu kata kurator belum dikenal. Bahkan istilah contemporary art saja belum terdengar, baru ada modern art,” katanya menjelaskan. Mengandalkan kesenimanannya, Mella dan Nindityo melakukan pengamatan, penilaian, dan pemilihan seniman untuk diajak berpameran di ruang rupa mereka.

“Kalau kami dengar ada teman yang punya karya menarik, kami undang mereka untuk berpameran di Cemeti. Lama-lama, kami memang mengkurasi pameran. Tapi tidak selalu saya dan suami yang melakukan. Kami juga sering mengundang kurator untuk mengkurasi pameran atau bisa juga senimannya yang memilih kuratornya sendiri,” ungkapnya. Sejauh pengamatan dan pengalamannya, Mella mengaku, ada banyak fungsi yang harus dijalani oleh seorang kurator. “Dalam kancah seni rupa Indonesia, mungkin bisa juga dibilang kurator ini satu profesi yang tidak begitu jelas kerjanya,” kata Mella yang hanya setahun saja berkuliah di Institut Seni Indonesia. Ia memberikan sinyalemen, telah terjadi kerancuan yang acap terjadi dalam mendefinisikan kurator. “Kadang-kadang hanya menulis satu artikel dalam katalog sudah disebut kurator. Menurut saya, kurator harusnya lebih mengikuti perkembangan seni rupa seorang seniman. Jadi bukan hanya memikirkan tema, mengundang seniman dan menulis kuratorial, tapi juga harus melakukan survei mendalam tentang perkembangan seorang seniman,” katanya.

Namun Mella merasa, hal penting itu kerap diabaikan oleh beberapa orang yang menyebut diri sebagai kurator. “Kadang-kadang kurator sama sekali tidak turun langsung ke lapangan untuk mengikuti proses kreatif yang dialami seniman dan hanya mengambil teori dari berbagai buku,” ujarnya gusar. Padahal, ia melihat, upaya itu penting dilakukan dan harus dilihat sebagai sebuah riset terhadap perkembangan seniman. Itu sebabnya, Mella melakukan aturan itu secara ketat di Cemeti. Ketika ia mengundang seorang seniman untuk berpameran, itu selalu terjadi setelah beberapa lama ia menjalin hubungan dan melewati banyak sesi diskusi. “Jarang sekali kami langsung mengundang seniman di saat pertama kami melihat karyanya. Pasti semua melalui proses. Biasanya kami datang ke studionya, ngobrol, melihat karya lama dan membandingkannya dengan perkembangan karyanya yang sudah kami amati,” Mella memaparkan.

Untuk kerja kurasinya, Mella memang tak pernah mengabaikan hal itu. Baginya, survei dan membangun hubungan personal dengan seniman sama pentingnya, karena karena dari situ ia akan bisa melihat sikap, cara berpikir, dan bagaimana konsep di belakang karya seniman tersebut. “Saya jarang sekali berangkat dari objek visualnya saja,” katanya. Itu ia lakukan karena pameran baginya bukan sekadar bertujuan menjual karya, tapi lebih pada keinginan untuk mencatat perkembangan artistik setiap seniman yang ditampilkan. “Kami ingin bisa memberi sesuatu yang terus bisa diingat, membawa orang pada sesuatu. Bukan sekadar membuat objek yang indah, nikmati sebentar dan selesai,” katanya. Itu sebabnya, konsistensi seorang seniman menjadi indikasi penting pula dalam pengamatan Mella. “Tapi ini juga akan menunjukkan tingkat keseriusan seorang kurator. Apakah dia benar-benar melakukan riset yang serius atau hanya sekadarnya saja dan mengundang seniman hanya karena alasan nama besar atau karena karyanya pasti laku dijual,” paparnya dengan kritis.

Namun, kendati begitu tegas dalam soal pengamatan, Mella mengaku menerapkan litasi waktu yang relatif untuk setiap seniman. “Kadang-kadang bisa agak cepat, kalau dibantu rekomendasi untuk mengamati karya seorang seniman dan atau saya melihat karya menariknya di sebuah pameran. Tapi bisa juga prosesnya lebih lama, bisa mencapai setahun sampai dua tahun setelah pengamatan, kami baru berani mengajak seorang seniman berpameran,” ungkapnya. Buat Mella, referensi memang juga hal yang tak bisa diabaikan dalam proses pengamatan. “Itu sebabnya saya berusaha selalu aktif datang ke pameran di tempat lain, browsing internet, dan sebagainya. Tapi sekarang begitu banyak pameran, tidak sanggup juga mendatanginya semua,” cetusnya sambil tertawa.

Dengan usia yang terbilang panjang dan menjadi saksi lahirnya aliran kontemporer dalam seni rupa Indonesia, tak pelak banyak seniman besar saat ini yang pernah menjadi ‘anak asuh’ Mella dan Cemeti. Tapi, kendati lebih dari 30 seniman kontemporer yang 'dihasilkannya', Mella dengan rendah hati menolak sebutan sebagai ‘pengorbit’ seniman. “Tidak adil kalau dibilang seperti itu. Karena kemajuan seniman pun tergantung cara mereka membangun jejaring. Kami membantu mereka awal kariernya dengan coba mencarikan mereka residensi di luar negeri, mempromosikan mereka ikut di biennale dan triennale di luar negeri. Karena pada saat itu, kurator dan kolektor Indonesia juga belum terlalu mengikuti perkembangan seni kontemporer di sini.” ungkapnya.

Sebagai kurator yang juga seniman, Mella punya indikasi sendiri tentang kerja kurasi. Menurutnya, secara ideal, kurator harus paham benar perkembangan seniman yang dia kurasi, bukan hanya dari baca dan berbincang, tapi juga bisa mengupas dan melihatnya dalam konteks besar seni rupa. “Kurator juga harus bisa menulis. Itu sebabnya, saya sebenarnya tidak berani menyebut diri saya kurator, karena meski mengkurasi pameran, saya merasa tidak pandai menulis,” cetussnya sambil tergelak. Mengapa menulis menjadi indikasi penting? “Karena seorang kurator harus bisa menjelaskan pada khalayak tentang kenapa karya seorang seniman menjadi penting dengan bahasa yang mudah dipahami dan diterima lingkup yang lebih luas,” katanya berteori. “Tak hanya bagus,” lanjutnya, “Tulisannya juga harus analitis. Kurator juga sebaiknya pandai berbahasa Inggris, karena ini penting untuk membuka jejaring yang lebih luas dan tidak hanya berkutat dengan perkembangan seni rupa local,” tandasnya. Satu hal yang tak boleh absen dari seorang kurator, menurut Mella, adalah memiliki visi khusus, “Kalau tidak punya visi, bagaimana dia bisa mengambil posisi? Dan pilihan visi itu boleh berbeda dengan orang lain. Dia harus ambil sikap yang jelas,” tandasnya tegas. (Indah Ariani) Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Dany David, Fotografer: Suryo Tanggono, Ferdy, Busana: Rias Wajah& Rambut Alia Swastika:Aries, Lokasi: Museum Akili, Galeri Nasional, Rumah Seni Cemeti, IVAA

Senin, 08 Juni 2009

DUNIA NADA DEWI DAN PETER





Lewat musik dan tangan dinginnya, mereka berdua berhasil ‘membawa dunia’ ke Indonesia.

Pada paruh akhir 2004, di tengah kesenyapan festival musik jazz tanah air, setelah vakumnya Jak Jazz yang cukup fenomenal pada dekade ‘90an, pecinta jazz Jakarta dikejutkan sebuah kabar tentang akan digelarnya Jakarta International Java Jazz Festival. Dengan slogan bringing the world to Indonesia, banyak orang yang memandang festival tersebut terlalu ambisius. Namun itu tak mengurangi antusiasme warga Jakarta menanti nama-nama besar seperti James Brown, Laura Fygi dan Incognito yang direncanakan datang ke festival itu. Sepanjang ‘penantian’ menuju Maret itu, aura jazz seakan membalut Jakarta. Radio-radio dan media cetak seperti menjadikan ajang yang lebih kerap disebut dengan nama Java Jazz ini sebagai tema seksi yang selalu menarik dibicarakan. Berbagai kuis berhadiah tiket masuk Java Jazz digelar beberapa radio dan selalu kebanjiran peserta. Semua dibuat penasaran oleh Java Jazz. Itu baru di udara. Di kantor Java Festival Production(JFP) di bilangan Permata Hijau, kesibukan tak henti berputar mempersiapkan hajatan besar yang debutnya digelar pada 2005. Belum lagi, sebulan terakhir sebelum hari H, setiap puluhan wartawan seliweran keluar masuk ruang media relation untuk mengurus kartu identitas mereka. Entah untuk difoto atau mengambil id card yang sudah jadi.

Memasuki awal 2005, debaran jantung para pecinta jazz berdetak makin kencang seiring semburan musik jazz yang terus saja mewarnai langit Jakarta. Dan degupan yang dipendam berbulan-bulan itu seakan tumpah di jantung Jakarta, tepatnya di Jakarta Convention Center(JCC) pada awal Maret 2005. Buncahan gembira itu bersambut gempita musik yang memancar dari berbagai ruang di seluruh JCC. Nyaris tak ada ruang yang sepi pengunjung. Dari konser besar James Brown, hingga klinik musik tak pernah ditampik pecinta jazz yang rela berlari-lari dari saru ruang ke ruang lainnya. Ratusan lainnya duduk menggeletak di tepi-tepi ruangan, melepas lelah, meluruskan kaki sambil berceloteh girang tentang apa yang barusan mereka lihat bersama teman-temannya. Pemandangan unik yang lantas jadi generik terjadi pada setiap Java Jazz yang terus saja meningkat pengunjungnya hingga tahun kelima digelar. Festival jazz yang dengan jujur diakui mengambil konsep North Sea Jazz Festival yang sangat terkenal itu, menangguk sukses bahkan melebihi acuannya.

Tahun 2009 ini, tak kurang dari 80 ribu orang memenuhi JCC untuk menyaksikan Java Jazz. Semua pengunjung seperti datang ke rumah sendiri dan sudah tahu aturan mainnya. Mereka mengantre berjam-jam untuk menonton artis idola mereka seperti Jason Mraz atau Bryan Mc Knight. Mereka membuang sampah di tong-tong sampah atau plastic-plastik besar yang disediakan di hamper setiap sudut ruangan. Yang paling mengharukan adalah, ketika sebuah konser akan dimulai, seisi ruangan dengan lantang menyanyikan Indonesia Raya yang membuat bulu kuduk akan meremang. Kendati mungkin terlihat kecil, hal-hal detail ini sanggup membuat kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia muncul. “Kami memang ini menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia bangsa berbudaya yang bisa punya festival kelas dunia,” kata Peter F. Gontha yang bersama putrid tercintanya berhasil mengukuhkan Java Jazz sebagai sebuah festival penting di percaturan musik jazz dunia. Tapi bukan kberarti segalanya mudah bagi mereka. Ada banyak cerita tersimpan di balik sukses festival yang tahun 2010 mendatang akan menempati ‘rumah’ baru di area Jakarta Fair di Kemayoran. Tak ada kata coba-coba dalam kamus mereka karena apa yang dilakukan pasti sudah melalui pertimbangan dan perdebatan panjang yang kadang-kadang berujung ‘perseteruan’ antara Peter dan Dewi. Namun meski mereka berdua kerap lelah dan berpikir untuk menyudahi kerja mereka, keduanya toh sepakat kalau Java Jazz tak boleh mati. Namun mereka menolak disebut sebagai spesialis jazz. “Karena kami membuat festival musik lain juga.

Kelihatannya Java Jazz sekarang ini bukan lagi sekadar ajang musik, tapi sudah melebar menjadi sebuah ajang gaya hidup. Banyak hal yang biasanya seperti tidak bisa diterapkan nyatanya bisa diterapkan dengan baik pada JJF, misalnya soal kebersihan, soal budaya mengantri dan itu sebuah fenomena yang menarik. Bagaimana pendapat Anda tentang ini?

Peter F. Gontha(PFG): Gini, sebetulnya, kami sedang mendidik orang untuk menghargai industri kreatif. Kalau di dunia, entertainment industry itu industri yang paling besar, lebih besar dari pada industri otomotif atau yang lainnya. Di Amerika, pendapatan yang diperoleh dari industri kreatif ini paling besar nilainya. Ini termasuk dari televise, film, radio, talkshow, musik, drama dan sebagainya. Di Indonesia juga sebenarnya demikian. Hanya saja belum disadari. Bayangkan saja, dari ring back tone (RBT) volume pemakaiannya sedemikian besar di Indonesia dan revenue yang dibuat dari sana sedemikian besar. Tapi ini kan ada beberapa kendala. Kalau kita lihat penonton sebuah konser musik rock, itu yang datang rocker semua dan rocker itu punya tendensi konsernya akan terkesan ugal-ugalan. Padahal tidak. Ini kami buktikan ketika kemarin kami menghadirkan Slank di arena JJF. Nyatanya banyak orang yang suka musik rock juga. Cuma karena kesannya urakan, orang yang senang rock jadi tidak datang. Ketika kemarin konsernya digelar di ajang yang teratur, mereka datang dan meski pun dalam pertunjukan Kaka buka baju, tapi mereka menerima itu sebagai part of a concept. Sampai kemarin para personil Slank sendiri cukup kaget ketika menyadari penonton mereka kebanyakan perempuan. Mereka berkomentar lucu,” Kalau polisi punya polwan, ternyata kami punya Slank-wan. Perempuan penggemar Slank.” Ini kan sebuah bukti kalau musik itu punya kemampuan menembus batas apapun. Memang JJF ini jadi satu fenomena tersendiri. Tapi jangan salah, tiap kali kita bikin usaha, ada hal menarik yang saya amati, yang terjadi dengan pers. Pers punya tendensi untuk ‘memusuhi’ pengusaha yang membuat sesuatu dan memberi penilaian ‘miring’ pada apa yang dilakukan oleh pengusaha. Tapi itu tidak terjadi dengan JJF. Ini seperti anomaly. Mungkin karena musik entertaining, menyenangkan orang, jadi tanggapannya juga selalu positif. Wartawan ini contoh ekstremnya. Saya piir, hal yang sama juga terjadi pada lingkup masyarakat yang lebih luas. Melalui musik mereka jadi senang, sehingga, ini jadi sesuatu yang ditunggu. Dari pengamatan kami, begitu sudah Senin sebelum festival, itu sudah terasa hype jazz-nya. Semua terasa bersemangat dan ketika Senin setelah JJF terasa juga keengganan mereka meninggalkan JJF. Itu fenomena aneh menurut saya. Kalau kami sendiri, setelah ini selesai, kami plong.

Dewi Gontha – Sulisto(DGS): Tapi juga ada perasaan kosong setelah hari-hari padat menjelang Java Jazz.

Bisa dibilang Java Jazz ini adalah ‘bayi’ yang Anda berdua lahirkan dan asuh. Pasti ada pasang surutnya. Bisa diceritakan?

(Sebelum Dewi menjawab, Peter menyambar cepat, “ Ada yang harus diluruskan dulu. Java Jazz ini lahirnya memang dari saya. Tapi setelah itu bayinya ditinggal. Dewi yang mengasuh dan membesarkannya jadi seperti sekarang, hahaha...”)

DGS: Wah, Papa bisa saja. Sebenarnya sih kalau ditarik ke awal berdirinya Java Jazz ini, yang paling banyak membantu itu media. Karena dari tahun pertama, media memberi kontribusi besar pada JJF. Media cetak dan radio biasanya bahkan sudah memberitakan JJF sejak Desember tahun sebelumnya. Belum lagi beberapa grup media besar yang secara konsisten mendukung baik sebagai sponsor maupun media partner. Dengan pemberitaan yang demikian intensif dan luas, jelas tingkat keterdengaran tentang JJF jadi tinggi juga. Begitu juga dari sponsor. Awalnya sponsor bertanya-tanya apa yang kami jual? Lalu satu sponsor masuk dan akhirnya sponsor-sponsor lain ikut masuk. Pendekatannya memang dari Pak Peter karena saat itu kami belum punya akses ke perusahaan-perusahaan tersebut. Tapi pemilihan media juga membantu kami menentukan market yang hip dan kalau dilihat sekarang, akhirnya, media cetaknya juga memang yang dekat ke lifestyle, terutama untuk majalah. Kalau untuk surat kabar sifatnya lebih umum yang bisa menjangkau berbagai lapisan sosial dan umur. Cuma dari situ ternyata pasar terbentuk dengan sendirinya. Yang paling menentukan sebenarnya adalah pemilihan artis. Siapa saja artis yang akan tampil di pertunjukan, akan menentukan siapa saja yang datang, perempuan atau lelaki, umur berapa, itu akan terpengaruh dari artis yang datang.

PFG: Mungkin ini satu hal yang harus diceritakan, dan saya minta ini ditulis. Salah satu orang yang ikut melahirkan dan mensukseskan Java Jazz itu Angki Kamaro. Tanpa Angki Kamaro yang saat itu jadi Direktur Utama Sampoerna, nggak akan ada Java Jazz ini. Saat itu saya mengejarnya sampai ke Los Angeles, saya tunggui dia di hotel untuk menjelaskan tentang konsep acara ini. Angki langsung melihat keunikan acara ini dan langsung setuju bahwa acara ini harus terjadi. Dia, dengan A Mild memutuskan untuk menjadi sponsor pertama. Maka saya berpikir akan membuat Angki Kamaro Award di Java Jazz, karena tanpa dia tidak akan ada event ini.

Apa ini ‘bocoran’ apa yang akan terjadi di Java Jazz tahun depan?

DSG: Hahaha, mungkin. Karena biasanya, kalau sudah tercetus begini, tinggal dieksekusi saja.

PFG: Ya, boleh ditulis soal ini. Karena saya pikir, The Angki Kamaro Award ini akan jadi sebuah jadi penghargaan kami buat Angki Kamaro.

Untuk pemilihan artis penampil, porsi pengambilan keputusannya bagaimana? Di mana biasanya kompromi dilakukan?

DGS: We don’t compromised. Hahaha… Tapi sebenarnya begini, Papa membuat semua menjadi balance. Beliau yang menjaga keseimbangan sehingga apa yang disebut jazz oleh orang-orang, akan tetap pada tempatnya. Kalau saya mungkin lebih larinya ke acid jazz dan pop. Biasanya kami yang muda-muda mengusulkan beberapa nama yang memang menurut kami sedang hip, seperti misalnya Baby Face atau Jason Mraz.

PFG: Saya belum pernah dengar Jason Mraz dan saya Tanya pada mereka, siapa yang kalian datangkan ini? That’s what happened.

Artinya tingkat kepercayaan harus tinggi dalam pengajuan usulan nama ini ya? Bahwa nama-nama yang diajukan sudah sesuai dengan segmen Java Jazz dan akan bisa menyasar pasar dengan tajam, ya?

DGS: Iya. Tahun pertama, saya dan teman-teman tidak ikut campur . Hanya Papa dan bagian programming yang mengatur siapa saja artis yang akan tampil. Dari situ kami melakukan evaluasi sehingga tahun kedua, kami sudah tahu formatnya akan seperti apa. Kami menyarankan siapa yang harus tampil di tahun kedua, lalu Papa dan bagian programming menentukan mana yang akan diambil dan mana yang harus diganti. Makin ke sini, kami makin berani memberi usulan nama-nama baru.

PFG: Seperti sekarang, saya sudah mulai memutuskan untuk tahun 2010. Tahun 2010, umpamanya kalau kita lihat ini (Peter menunjukkan laptop Apple-nya yang tengah menayangkan deretan nama artis yang akan tampil tahun depan sementara Dewi berkomentar, “Waduh… di-release duluan nih, hahaha…”) kita sudah ada Arturo Ferrel, ada Four Brothers, Harry Allan, kemudian ada Sierra Walton, Hendrick Warkins dan untuk tahun depan, headliners kita ini, ada Santana, Baby King, Winton Merzalaes dan sebagainya. Ini email dari road manager-nya Santana, Chris Dalton (Peter kembali menunjukkan layer laptopnya). Saya akan ketemu dia minggu depan, kebetulan saya akan ke LA. Dia mau ketemu saya minggu besok. It takes a whole process untuk mendatangkan orang-orang seperti Santana. Sebab Santana harus ditarik kemari bukan hanya dengan uang. Santana nggak mau datang ke Indonesia karena dia tahu Indonesia tukang babat hutan sementara dia seorang environmentalist. That’s why the motto for next year will be Green and Clean.

Jadi memang harus ada isu-isu yang dimunculkan untuk memberi benang merah dalam setiap festival ya?

DGS: Iya. Tahun ini kami mengusung tema Festival for All. Tahun depan Green and Clean. Tapi sebenarnya, sudah dua tahun terakhir ini kami bekerja sama dengan LSM lingkungan hidup juga untuk recycling project. Kami bekerjasama dengan WWF dan beberapa lembaga lain. Makanya sejak 2008, di sudut-sudut tertentu kami memasang video tentang lingkungan hidup.

Efektifkah memasukkan isu-isu sosial seperti itu dalam sebuah festival gaya hidup seperti Java Jazz?

DGS: Efektif atau tidak, kami tidak tahu. Karena bukti apakah mereka menyerap dan melakukan pesan yang disampaikan di sini atau tidak akan terjadi di luar sana. Tapi paling tidak, pesannya itu sampai ke mereka. Kalau kami memberi flyer belum tentu mereka baca. Kalau ini, sebelum show, kami memutar videonya dan mereka akan melihat dengan harapan, awareness mereka tumbuh. Kami hanya bisa melakukan sampai di titik menyampaikan pesannya. Apakah mereka melakukan atau tidak, itu akan tergantung manusianya masing-masing.

Bicara soal ideal, apakah Java Jazz ini sudah memenuhi kriteria ideal Anda berdua untuk sebuah festival?

DSG: For me its never enough. Pasti selalu ada yang bisa diperbaiki. Pasti akan selalu ada perbandingan dengan tempat lainnya. Kalau tempat lain bisa membuat itu, kenapa kami tidak? Jadi biasanya kami juga melakukan studi banding dengan festival-festival sejenis di tempat lain. Biasanya Pak Peter yang sering keliling-keliling dan kalau kembali biasanya selalu dengan ide baru. Contohnya seperti kemarin, beliau ingin pakai e-ticket, tiba-tiba semuanya harus online. Memang inovasinya sering dalam hal-hal kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang. Tapi pengerjaannya tetap memakan waktu. Bikin ID seperti apa, flownya seperti apa, itu biasanya kami belajar dari melihat di tempat lain lalu coba diaplikasikan dan digabungkan dengan yang sudah berjalan. It’s good enough for now tapi pasti bisa lebih baik. Kalau nggak, jadi nggak kreatif.

PFG: Dan kami selalu ingin menonjolkan musisi Indonesia. Artis-artis Indonesia sering salah memahami kami. Kebanyakan mereka punya perasaan kalau kami menganaktirikan mereka. Itu sama sekali tidak benar. Contohnya saja, kemarin kami membuat konser Dwiki Dharmawan dan Saung Angklung Udjo. Itu buat membuka mata orang asing kalau Indonesia juga punya talent yang luar biasa. Ada hal yang sangat membanggakan saya di Java Jazz kemarin ketika sedang ada musisi asing yang terkenal main, penonton justru membludak di tempat Kla Project. Itu kan bukti bahwa musik negeri sendiri tetap jadi tuan rumah. Saya benar-benar bangga melihat itu. Yang juga tidak banyak diketahui orang adalah bahwa kami juga memproduksi banyak sekali DVD Java Jazz yang kami pasarkan di seluruh dunia dan sekarang DVD itu sudah mulai sangat laku terjual. Setidaknya sudah lima proyek, seperti Bob James, Tetsuo Sakurai, Jody Watley, Baby Face

Ini kabar baik di tengah kebanyakan orang Indonesia justru membeli produk luar negeri kan?

PFG: Problemnya adalah, produk kami ini justru sudah dibajak di Indonesia. Padahal, Java Jazz ini juga terkenal di luar negeri itu karena DVD ini. Karena ini orang kenal Java Jazz, orang kenal Indonesia.

Bagaimana animo pasar luar negeri terhadap DVD ini?

PFG: Besar sekali. Sama dengan animo orang membeli produk Amerika.

DGS: Karena DVD ini, ada satu stasiun televisi Amerika yang ingin membeli semua program kami untuk tayang di channel mereka.

Apakah dengan begitu Anda lebih mudah mengadakan pendekatan dan mengundang artis-artis dunia untuk tampil di Indonesia?

DGS: Iya, tentu saja. Cuma kalau boleh mengutip Papa, the best ambassador for the festival, sebenarnya adalah artis yang tampildi Java Jazz. When they go back, they tell others, they wanna come back with the different project. Karena akhirnya, artis-artis yang kami undang hanya perlu melihat profil kami di website, melihat nama artis-artis yang pernah tampil festival dan mereka bilang iya. Tanpa sadar kami sudah membangun kredibilitas perusahaan dan jadi jauh lebih mudah untuk meminta mereka datang, termasuk untuk soal negosiasi. Posisi kami jadi lebih kuat. Enaknya kalau festival itu adalah kalau satu artis nggak bisa datang, kami bisa mendatangkan artis lain yang sekelas. Beda dengan konser tunggal yang kalau artisnya nggak datang, acaranya selesai. Jadi kami selalu punya kelebihan untuk nego lebih baik. Dan dari sisi eksekusi, kemudahan lainnya adalah kami sudah punya sistem yang baik dan hanya perlu disempurnakan terus menerus. Yang sedikit jadi hambatan itu justru menyangkut perijinan di dalam negeri. Selalu lama, meskipun kami banyak dapat dukungan dari pemerintah DKI dan Departemen Pariwisata. Tapi itu pun tetap kami cari solusinya supaya tiap tahun kendala yang menghadang kami bisa terus diminimalisir.

Ayah dan anak terlibat dalam satu kerjasama professional. Bagaimana menjaga profesionalitas ketika dalam keadaan hectic?

PFG: Justru itu yang sering membuat saya bilang, “Sudah deh, berhentiin saja Java Jazz kalau kita jadi berantem. Kadang hari saya piker, udah deh, nggak mau kerjain Java Jazz, kamu kerjain aja sendiri, saya nggak mau turut-turutan. Jadi ribut.” Biasanya itu terjadi karena ada satu pendapat ada yang saya anggap lebih penting, ada yang dia anggap lebih penting padahal dia musti jalanin. Contohnya saja kemarin, saya mengajak Dewi untuk ketemu dengan orang perizinan. Tapi di saat yang sama, dia janji juga ketemu dengan sponsor. Menurut saya, perizinan sebaiknya ditemui dulu karena kalau ada sponsor tapi izinnya nggak dapat kan sama saja, acaranya nggak mungkin bisa terlaksana. Kadang-kadang soal prioritas seperti ini yang membuat kami jadi ribut.

DGS: Padahal menurut saya kalau sponsornya nggak ada, acaranya nggak akan jalan. So that’s where’d they become an argument. Karena menurut saya, apa bisa kita bisa bagi badan? Sementara beliau ini agak susah ‘ditawar’. Kalau beliau mau ke perizinan dulu, maka saya harus ikut ke perizinan. Sementara saya memegang sponsor yang penting dan mereka ini punya kebiasaan kalau nggak ketemu langsung dengan saya, mereka nggak mau. Karena biasanya mereka langsung ngomong branding dan sebagainya. Nah, dalam kondisi seperti itu sebenarnya enak sekali bekerja dengan ayah, karena saya tahu beliau ini kreatif sekali dan pikirannya lebih maju dari kita-kita. Cuma memang beratnya justru karena jadi anak, beliau jadi lebih keras, (Dewi cepat-cepat menyelipkan kata “berasanya” setelah mengucapkan kalimat ini) kepada saya untuk menunjukkan pada yang lain, “I’m not giving you special priorities. You’re my daughter, but you part of company.” Nah, gitu-gitunya kadang-kadang yang membuat hati kecil saya bilang “waduh, aku kan anaknya. Tapi kok keras sekali ya sama aku?” Cuma pada akhirnya saya coba saja lakukan apa yang harus dilakukan. Untungnya tim kerja saya pun menyadari kalau ini memang perusahaan keluarga, jadi sudah maklum. Biasanya kalau sudah mentok sama saya, Papa akan minta tolong pada yang lain.

Jadi enak tidak kerjasama dengan anak atau ayah?

PFG: Nggak juga. Mau marah itu anak, nggak dimarahin saya yang stres. Nggak juga kalau dibilang enak. Tapi ya oke-oke saja, hahaha...

DGS: Kalau saya, sejak pulang memang sudah kerja dengan Papa. Jadi ritme kerjanya yang sangat cepat itu yang justru membuat saya terpacu untuk ikut cepat maju. Soalnya kalau dapat orang yang lebih slow atau tidak sepintar papa, mungkin saya juga akan berkembang dengan lambat karena tantangannya kurang. Jadi kalau ditanya enak atau tidak, tentu enak karena saya bisa belajar banyak. Baru kemarin saya bilang, kalau nggak ada Papa, mungkin, I might, I might not wanna do it anymore. Karena yang nge-push ini Java Festival Production ini adalah Papa. (Peter menyahut cepat begitu mendengar kalimat ini. Katanya, “Itu satu kesalahan. Saya selalu bilang, ada atau tidak ada saya, Java Jazz tidak boleh tidak ada. Kalau Dewi tidak lagi mengerjakannya, orang lain saja yang mengerjakan. Karena Java Jazz ini tidak boleh lagi berhenti. Karena bagaimana pun, festival ini sudah jadi kebanggaan Indonesia.”). Tapi saya serius. Enaknya bekerja bersama Papa adalah karena saya bisa belajar banyak. Setiap tahun saya belajar banyak hal dari beliau dan ide-ide yang dilontarkannya. Papa itu punya kebiasaan, kalau maunya A, maka kemungkinan A yang akan terjadi itu lebih banyak. Papa tidak senang yang formatnya negosiasi. Kalau negosiasi itu terjadi jauh-jauh hari, fine, beliau masih bisa terima. Tapi kalau negosiasi itu terjadi sebulan sebelum acara, itu sudah tidak ada lagi kemungkinannya. Kalau beliau maunya ini ya sudah, ini yang harus jalan. Itu mungkin yang membuat kerjabarengnya jadi susah. Karena posisi saya adalah pemimpin perusahaan, di satu sisi, kondisi ini membuat dilemma buat saya karena pasti orang berpikir, ini kok pemimpin perusahaannya nggak bisa bicara apa-apa ya kalau komisarisnya datang? Tapi menurut saya semuanya enak-enak saja. (Peter tiba-tiba bertanya pada Dewi, “Tapi so far, masih ok ya apa yang kita putuskan? Dewi menjawab sambil tertawa, “Masih oke. Tambah kemari sih saya makin diberi kebebasan untuk memutuskan kok.” Peter melanjutkan, “Saya sekarang ini juga sudah semakin tidak involve kok.”)

Kabarnya lokasi penyelenggaraan Java Jazz akan dipindah dari Jakarta Convention Centre ke arena Jakarta Fair di Kemayoran. Ini rencana jangka panjang atau coba-coba yang akan di kembalikan ke tempat semula kalau ternyata jumlah pengunjung berkurang dan sebagainya?

PFG: Nggak boleh coba-coba. Kami sudah merencanakan kepindahan ini sejak tiga tahun yang lalu. Tapi kami memang menunggu sampai Java Jazz ini lima tahun berjalan dulu. Kami juga ingin membangun image baru tentang Jakarta Fair. Selain itu, di sana parker lebih gampang. Kalau dibilnag jauh, tidak juga. Saya dan Dewi sudah mengetes pergi bermobil ke sana pada hari Jumat sore, Sabtu sore dan Minggu sore. Dari Semanggi sampai ke Kemayoran, hanya 25 menit. Kalau sekarang kita lihat di Java Jazz, orang mau mengantri, parkirnya di lapangan tennis atau bahkan di Hotel Mulia dan harus berjalan kaki cukup jauh. Sementara kalau di Kemayoran nanti, parkir tersebut bisa diatasi. Orang nggak akan lagi kesulitan mencari parkir dan bisa menikmati jazz dengan tenang. (Indah S. Ariani) Pengarah Gaya: Ayunda Wardhani, Foto: Honda Tranggono, Busana (jaket dan kemeja Dewi): Sally Koeswanto, Rias Wajah: Billy Arya

Kamis, 07 Mei 2009

JAM SESSION Slank dan Ursula


Lewat gambar, mereka ‘menyanyikan’ Indonesia dengan irama yang tak biasa.

Siapa tak kenal Slank? Grup musik rock legendaris era 90-an yang eksistensinya masih terpancang kokoh hingga kini. Berbasis fans yang mereka sebut sebagai Slankers, mereka mewarnai tak hanya kancah musik, tapi juga sosial politik lewat lirik lagu mereka yang ‘slengean’ dan sangat lugas. Tahun 2008 silam, mereka menapak usia 25. Sebuah daya tahan cukup fantastis dari sebuah grup musik. Maka tak salah kalau Garin Nugroho tertarik membuat catatan tentang mereka dalam bahasa visual. Ide yang sempat tercetus saat jarig ke-20 Slank ini sempat beku oleh kesibukan dua pihak. Ide yang lalu menggeliat setelah lima tahun tertidur karena Garin bertemu Ursula Tumiwa yang setuju membiayai pembuatan filmnya. “Iya, seperti orang gila mencari orang gila. Kalau nggak gila, Ula (sapaan Ursula) tentu tidak akan mau membiayai film ini, “ tukas Bimbim sambil tertawa.

Maka mulailah mereka menyusun rencana. “Slank cuti konser dua minggu penuh supaya bisa mentaati jadwal syuting yang sangat berbeda dengan pola kerja mereka di musik. Tawar menawar waktunya juga cukup alot dengan pihak produksi,” cerita Masto, manajer Slank, di sela-sela latihan merka untuk tampil di Java Jazz 2009 lalu. Banyak hal baru yang ditemui para personil Slank, juga Ursula yang baru pertama kali memproduseri sebuah film musik. Banyak bahasa visual yang cukup susah mereka mamah. Namun banyak pula hal menyentuh yang mereka rasakan sepanjang proses pembuatan film yang diberi tajuk Generasi Biru. “Awalnya mau dibuat film biografi. Tapi saya nggak mau film yang terlalu mengkultuskan Slank. Saya pikir, akan lebih baik merekam kecintaan kami pada bangsa ini dengan lagu-lagu kami sebagai benang merahnya,” ungkap Bimbim.

Maka hadirlah Indonesia yang getir dan sedih, terlukai oleh berbagai kejadian tak berpihak pada rakyat seperti penculikan, kerusuhan dan kejahatan kemanusiaan. “Kami ingin bicara banyak sekali lewat film ini. Betapa rakyat kerap jadi korban demi Negara yang dicintainya,” air wajah Bimbim redup saat mengatakan ini. Tapi tak semua suram. Sebab asa adalah hal yang juga ingin mereka semat dan gantungkan di pucuk tertinggi segala pesan yang tersirat. Peace, Love, Unity, Respect, empat kata yang menjadi jiwa Slank, juga jadi pesan penting. “Indonesia akan bangkit kalau punya damai, cinta, kesatuan dan respek. Kelam dan muram yang terpampang dalam film kami sesungguhnya pengingat bahwa kerusuhan, penculikan dan penindasan hanya akan merusak. Bangsa ini bisa besar kalau itu tak ada.” Pesan yang sama sekali tak sumir dari sebuah film tentang sekelompok musisi rock.

Siapa yang punya ide awal membuat film Generasi Biru?

Ursula Tumiwa(UT) : Ide awal membuat film ini sebenarnya saya dan Mas Garin. Tapi film ini juga tidak akan pernah terwujud kalau teman-teman Slank tidak menerima ide kami. Mas Garin sendiri memang sudah pernah menawarkan ide ini ke mereka beberapa tahun lalu. Cuma belum sempat terwujud karena belum ketemu orang yang mau membiayai. Lalu kami bertemu, ngobrol dengan Bimbim dan senang sekali karena komunikasi berjalan lancar. Konsepnya meluncur dengan cepat. Saya sendiri memang senang dengan film musikal seperti biografi Pink Floyd. Saya berpikir, kalau di Indonesia, siapa ya yang paling tepat saya buatkan dokumentasinya. Ada tiga nama yang muncul dalam diskusi saya dan Mas Garin soal ini. Slank, Iwan Fals dan Koes Plus. Pilihan kami jatuh pada Slank.

Tanggapan Slank atas tawaran tersebut bagaimana?

Bimbim (BB) : Sebenarnya beberapa kali kami ketemu Mas Garin tanpa sengaja dan sempat berdiskusi soal film. Sempat pula tercetus ide membuat film kami. Sekitar lima tahun lalu, saat Slank ulang tahun ke-20 sempat ada upaya membuat dokumentasi tentang kami. Tapi saat itu kami sama-sama sibuk, jadi rencana itu tidak berjalan dengan baik.

Berapa lama persiapan yang dilakukan dari ide tercetus, datang persetujuan dari Slank sampai mulai syuting?

UT : Lumayan cepat. Sebenarnya ide ini oleh-oleh ketika kami pulang dari Berlin pada tahun lalu, setelah kami melihat film Rolling Stone. Februari 2008 saya menyambangi tempatnya Mas Bimbim dan diskusi tentang ini. Kebetulan ada momen yang tepat kala itu, seabad Kebangkitan Nasional. Saat itu saya masih bimbang soal sudut pandang yang ingin kami angkat. Kalau kami mengangkat Slank secara utuh, ini akan jadi film biografi. Tapi Mas Bimbim punya ide untuk membuat sebuah film tentang Indonesia yang benang merahnya ada dalam lagu-lagu Slank. Setelah ketemu format yang tepat, kami mulai melakukan syuting dokumenternya pada Maret, April, Mei. Untuk dokumenternya, selain menyorot konser Slank di beberapa tempat, kami juga mengangkat para Slankers di tiap kota. Sebab fenomena Slankers ini sangat menarik.

BB : Karena kalau kami tidak ada cuplikan konser dan Slankers, film ini akan menjadi sangat tidak hidup. Nyawa kami ada di atas panggung dan para Slankers itu. Bisa dibilang Slank itu akan jadi lebih keren ketika tampil di panggung ketimbang di album.

Ada kesulitan meleburkan ide?

UT : Kalau dari saya tidak, sebab kami sudah punya bayangan akan jadi seperti apa film ini. Jadi sebenarnya, tantangan itu lebih banyak datang pada Slank.

BB : Ya. Kami berusaha keras menerjemahkan ide Mas Garin yang memang lumayan berat dan tidak gampang dijabarkan. Kami berusaha membuatnya menjadi lebih enteng, tapi hasilnya ternyata tetap berat juga, hahaha… Untuk soal akting, kami terbantu sekali oleh kemampuan Mas Garin mengeksplorasi kami. Jadi kami ‘tidak sempat’ jaim di depan kamera dan bisa tampil natural. Tiap kali terasa kami akan akting, Mas Garin akan menegur, “Jangan akting. Jadi rock star saja.” Maka kami tampil apa adanya. Bisa dibilang, tidak ada kesulitan bagi saya untuk diajak gila-gilaan. Kalau bisa dianggap kesulitan, yang paling berat adalah mengatasi rasa malu. Canggung sekali ketika saya yang biasa pegang alat (drum) harus tampil di depan kamera, gila-gilaan tanpa pegang alat. Sempat terpikir untuk berhenti saat baru mulai latihan. Tapi setelah beberapa kali akhirnya terbiasa juga.

Kaka (KK) : Untungnya kami ini selalu punya ketertarikan pada hal-hal baru dan segala hal dalam pembuatan film ini sama sekali baru bagi kami. Tawaran untuk menari misalnya, itu sesuatu yang baru yang berusaha kami nikmati prosesnya. Akhirnya jadilah begitu.

Ridho (RD) : Saya dan Ivanka tidak mendapat porsi menari terlalu banyak, jadi relatif tidak terlalu masalah. Tapi memang ada beberapa gerakan yang harus kami hafal dan eksplorasi. Itu yang lumayan berat.

Di film Generasi Biru, Anda semua dapat ‘pasangan’ main yang berbeda. Bimbim dengan Lio yang tuna rungu, Abdee dengan para ibu yang mencari orang hilang, Ridho dan Ivanka dengan manusia hewan. Casting yang paling menyenangkan mungkin jatuh pada Kaka yang dipasangkan dengan Nadine. Apa yang lain puas dengan pembagian peran tersebut?

KK : (sambil tertawa keras) Wah… jangan mancing, dong

BB : Iya, saya minta tukar peran nggak boleh sama Mas Garin, hahaha

Ivanka (IV) : Tapi saya melihat, Mas Garin sangat jenius untuk memilih karakter. Dia bisa dengan tepat memberi peran sesuai karakter kami. Contohnya saya dan Ridho. Bisa dibilang, kami memang selalu kemana-mana berdua sampai orang sering keliru membedakan antara saya dan Ridho. Sering tertukar.

UT : Kalau dari sisi produser, saya benar-benar senang karena kesediaan mereka terlibat proses pembuatan film ini seperti sebuah penghargaan Slank bagi kami. Ketika proses produksi sudah selesai, saya berpikir, ini kerja berat yang tidak mudah dilakukan dan Slank melakukannya dengan sempurna. Mereka benar-benar berkelas, meski banyak yang menganggap film ini tidak cair. Tapi mereka sejak awal toh memang sudah berbeda. Bagus juga kalau mereka juga membuat film yang berbeda.

Bagaimana cara Slank menyesuaikan diri dengan hal dan lingkungan kerja baru?

UT : Mereka ber-jam session.

BB : Ya. Jam session. Itu istilah yang tepat. Kalau ketika bermusik kami ber-jam session dengan musisi, maka di sini kami melakukannya dengan kameramen, koreografer, dan animator. Persis seperti kalau kami datang ke tempat latihan dan mulai mencari nada untuk dipadukan. Kelihatannya, orang-orang yang terlibat dalam film ini memang sengaja dipilih yang pernah bekerja sama dengan kami dalam pembuatan klip atau produksi lain, sehingga tidak terlalu sulit menjalin komunikasi. Itu juga membuat mereka sudah paham musik dan jiwa Slank.

Film ini berarti apa bagi Anda semua?

BB : Saya ingin Indonesia punya film musik. Saya berharap ini jadi harta karun buat Indoensia karena tidak akan habis dimakan waktu. Entah itu ceritanya, lagunya, gambarnya. Mungkin sepuluh tahun lagi, film ini akan jadi acuan film musik dari Indonesia. Jadi nggak cuma Pink Floyd, The Doors atau Rolling Stones saja yang punya dan bisa dijadikan acuan. Indonesia pun punya. Saya agak prihatin melihat dokumentasi musik Indonesia. Setidaknya, ini adalah awal dan contoh bagaimana sebaiknya sebuah film musik dibuat. Saya yakin setelah ini, akan banyak yang membuat seperti ini. Bukankah budaya adalah jendela yang sangat biasa untuk melihat sebuah bangsa?

UT : Film ini, meski bercerita tentang Indonesia, sebenarnya juga mencerminkan sekali ruh Slank. Bagaimana mereka konsisten menyebarkan virus damai sekaligus tetap kritis pada fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

KK : Buat saya, film ini menunjukkan kalau saya tidak cocok jadi bintang film, hahaha… Kapok sih tidak, tapi saya rasa, pola kerja film itu tidak pas dengan pola kerja saya. Kerja dari jam enam pagi dan kelarnya entah jam berapa. Tapi saya bangga sekali bisa membuat film ini bersamaan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional, ulang tahun Slank yang ke-25 dan 2008 kemarin, tahun yang baik bagi Slank karena banyak sekali kejadian baik yang kami terima, ditutup dengan selesianya film ini. Jadi ini sebuah fenomena yang bersejarah sekali bagi kami.

Abdee (AB) : Saya tidak tahu apakah pesan dalam film ini tersampaikan dengan baik. Tapi bagi saya dan Slank sendiri, ini hal baru yang sangat eksperimental. Cara tutur Slank dalam lagu yang sangat lugas, sebenarnya agak berbeda dengan cara tutur film ini yang sangat simbolik. Saya masih menyimpan pertanyaan besar itu. Apakah gaya tutur simbolik ini akan efektif menyampaikan pesan Slank yang biasa disampaikan secara lugas. Tapi memang seperti kata Bimbim, film ini akan jadi harta karun karena ini pola yang benar-benar baru untuk sebuah film tentang grup musik. Biasanya, sebuah film musik hanya butuh tiga unsur untuk membuatnya menarik. Musik, gambar dan drama. Di film ini, unsur itu ditambah lagi dengan unsur lain seperti animasi, pantomim, dokumenter, instalasi. Bisa dibilang hampir semua unsur seni ‘berat’ itu coba dimasukkan. Maka, saya penasaran sekali apakah ramuan itu akan berhasil atau tidak.

IV : Saya excited sekali karena terlibat dalam sebuah karya luar biasa yang belum pernah ada di Indonesia. Buat saya ini eksperimen yang dahsyat. Mungkin masyarakat memang akan perlu waktu untuk mencerna film ini sampai mereka mengerti benar pesan apa yang ingin kami sampaikan. Dan ketika saat itu tiba, film ini akan jadi buah tangan dari Garin dan Slank untuk bangsa ini, terutama bagi generasi setelah kami. Mereka akan bisa memahami bahwa Indonesia pernah punya permasalahan. Saya setuju dengan Abdee. Kami tinggal tunggu saja bagaimana film ini akan bergulir nanti.

RD : Film ini membuat saya punya penglaman pribadi terlibat dalam sebuah produksi film, ditangani oleh sutradara berkelas, temanya juga nggak jauh-jauh dari pekerjaan saya sebagai musisi walaupun perlu beberapa kali menonton untuk memahami dengan baik apa arti film kami sendiri. Tapi ini akan jadi pengalaman berarti yang bisa saya ceritakan pada anak cucu saya nanti.

Apakah personil Slank lain masih berminat main film lagi atau seperti Kaka yang sudah menyerah bilang tidak cocok main film?

IV : Mau kalau Nadine-nya ada lima, hahaha…

RD : Iya, akan dipikirkan lagi mau tidaknya kalau Nadine-nya ada lima.

KK : Hahaha, gue nggak minta lho untuk dipasangkan dengan Nadine! Tapi memang di awal pembicaraan tentang film ini, Mas Garin bilang kalau nanti, saya akan mendapat porsi koreografi lebih banyak dari teman-teman lain. Lalu ditanyakan juga pada saya siapa kandidat pemeran wanitanya. Saat itu nama yang muncul dari saya adalah Aura Kasih dan Kinaryosih. Nadine sama sekali tidak muncul. Tim produksi yang memilih.

BB : Asumsi saya tentang pertimbangan memilih Nadine barangkali adalah, kalau Slank dianggap sebagai rock band Indonesia, maka Putri Indonesia yang pas untuk jadi pendampingnya. Terserah Putri Indonesia tahun berapa, hahaha… (Indah S. Ariani) Pengarah Gaya : Karin Wijaya, Fotografer : Albert , Busana Ursula : , Rias wajah: Adi Wahono