Senin, 30 September 2013

INSPIRASI SEHAT SEIMBANG DOKTER TAN



Ia buktikan komitmen untuk menjadikan pasiennya sebagai subyek lewat pemberdayaan pada kekukuhan sikapnya. Mimpinya, Indonesia sehat lewat makanan sehat seimbang.


Langit siang yang biru cerah menaungi komplek Perkantoran CBD BSD City Serpong di Tangerang Selatan. Di depan salah satu ruko di Blok G, dua bilah besi melintang di tangga di depan pintu masuk yang digunakan sebagai jalur kursi roda untuk mereka yang karena kondisi kesehatannya harus memakai alat bantu itu. Di atas pintu masuk, terdapat dua papan nama yang pada tubuhnya masing-masing tertulis: Dr. Tan Wellbeing Clinics dan Remanlay Special Need’s Health. Di situlah, Dr. Tan Shot Yen membagi ilmu –ya, ilmu, bukan sekadar resep obat- pada pasien-pasiennya. 
Klinik itu sederhana saja. Layaknya ruang praktek dokter, putih melingkupi hampir seluruh bidang dinding dalam bangunan berlantai tiga itu. Di ruang tunggu yang jamnya menunjukkan angka 14.30 itu, telah ada beberapa pasien yang baru akan bertemu dokternya pada pukul 16.00, ketika waktu praktik dibuka. Di klinik itu, memang tak diterapkan nomor antrian. Pasiennya dengan sadar mengatur dan menempatkan diri pada urutan keberapa mereka bisa masuk ke ruang praktik. “Tak ada yang menyelak masuk meski kami tak punya nomor antrian,” kata salah satu pasien yang tengah menunggu di situ. Sedari ruang tunggu, atmosfer kasual sekaligus kritis telah dibangun.
Di belakang ruang tunggu yang hanya diisi kursi-kursi panjang yang menempel di dinding, ruang konsultasi Tan Shot Yen berada. Sebuah dipan untuk memeriksa pasien dipenuhi tumpukan dokumen. “Maaf ya ini sedang berantakan. Saya sedang membuat laporan untuk akreditasi ,” kata dokter bertubuh mungil itu bervolume suara tinggi itu dengan nada bersahabat.  Berbeda dari idealisasi sosok dokter yang konon selalu bertutur lemah lembut pada pasien-pasiennya, Tan Shot Yen yang biasa disapa dengan panggilan Dokter Tan itu bicara dalam volume suara maksimal seperti seorang soprano tengah menyanyikan aria. Cukup nyaring untuk bisa didengar di seluruh sudut ruangan itu pada pukul 14 siang yang terang dan mulai didatangi beberapa pasien yang baru akan ditemuinya pada pukul 16.
Intonasi suaranya berubah sesuai kebutuhan. Nada ramah bisa seketika berganti ketus manakala mendengar pasiennya melanggar komitmen untuk menerapkan pola makan sehat seimbang yang menjadi syarat kesehatan yang dicanangkan oleh Yen untuk pasien-pasiennya. Ia mengaku butuh kerjasama yang baik dari paseinnya untuk menata gaya hidupnya sendiri. “Karena saya ingin mengarahkan pasien-pasien saya pada pemberdayaan, dan tidak ingin meninabobokkan mereka dengan pola penyembuhan cepat (quick fix) yang banyak dipraktikkan dalam dunia kedokteran dewasa ini,” katanya. Nada suaranya masih sama, lugas dan lantang.
Shot Yen tak pernah main-main untuk urusan penerapan pola makan untuk memperbaiki kesehatan. Tak hanya pada pasein-pasein atau peserta seminarnya, ia juga menyampaikan soal itu lewat empat buku yang ia tulis yakni, Saya Pilih Sehat dan Sembuh, Resep Panjang Umur, Sehat dan Sembuh, Dari Mekanisasi dampai Medikalisasi Tubuh Holistik, dan Sehat Sejati yang Kodrati. Saat bicara tentang pola makan sehat dan seimbang, Shot Yen akan menjelma seorang guru killer yang siap menegur siapa saja –terutama pasien-pasiennya- yang tidak disiplin menerapkan ilmu yang mereka terima. “Sama seperti penyakit yang tidak datang secara tiba-tiba, kesehatan pun tidak akan bisa diperoleh dalam waktu seketika. Keduanya, amat bergantung pada pola makan dan gaya hidup seseorang. Jadi aneh sekali kalau orang datang ke dokter untuk mencari kesembuhan seakan-akan dokter adalah tukang sulap yang mengembalikan kesehatan yang dirusaknya bertahun-tahun dalam semalam,” katanya.
Ia tak ragu memarahi pasien yang tak disiplin. “Suami saya pernah diusir sama Dokter Tan karena tidak disiplin menjaga makanan hingga hipertensinya naik lagi,” Atiek Harman yang telah tujuh tahun menjadi pasien Shot Yen mengisahkan. Perempuan yang pertama kali mengetahui tentang Shot Yon lewat sebuah tayangan di televise berita swasta itu mengaku ia dan suaminya tak pernah terganggu dengan sikap dokternya yang kadang terlalu lugas. “Sebab meski sikapnya begitu, Dokter Tan sebenarnya orang yang sangat hangat dan selalu ingin berbagi pengetahuan apa pun yang ia miliki supaya pasiennya mempunyai pemahaman yang setara dan sama terbuka seperti dirinya. Pada paseien-pasiennya, ia sama sekali tak pelit ilmu. Ia  selalu mengajari pasiennya mengenali dan menghargai tubuh mereka,” kata Atiek.
Di kliniknya, Shot Yen memiliki banyak pasien loyal seperti Atiek. “Kebanyakan mereka yang sudah mengalami sendiri perbaikan kesehatannya setelah menerapkan pola makan sehat seimbang,” Veranita Dwiputri, pasien lain yang baru Maret 2013 lalu berkonsultasi pada Shot Yen. Perempuan ini mengidap diabetes dan kadar gula melampaui angka 500 yang mengantarnya ke klinik di BSD itu. “Untuk semua pasien yang baru pertama kali berkonsultasi, Dokter Tan selamlu membuat sesi gabungan di mana ia selama dua hingga tiga jam member kuliah tentang pola makan sehat seimbang,” katanya.  Menerapkan pola makan tersebut sehari setelah mengikuti sesi gabungan Shot Yen, Vera yang telah cukup lama bergantung pada obat-obat penurun kadar gula darah sempat panic ketika diminta menghentikan pemakaian obatnya seketika. “Tak sampai seminggu, gula darah saya turun ke angka 100 dan saya merasa lebih sehat karena berat badan saya turun,” kisah Vera. 
Berbeda dengan iklan bombastis klinik-klinik pengobatan yang marak di televisi, kisah-kisah  sukses pasien Shot Yen itu hanya bergulir serupa obrolan ringan penghalau bosan di ruang tunggu yang kemudian terbawa ke luar kliniknya dan menginspirasi mereka yang tengah sakit atau ingin menjaga kesehatannya. “Tetangga saya yang terkena diabetes stadium lanjut hingga harus terus mendapat suntikan insulin pun bisa sembuh mejalani pola makan yang sudah tujuh tahun saya terapkan,” kata Atiek. Informasi dan pengetahuan yang diberikan oleh Shot Yen nyata sekali menginspirasi pasien-pasien yang merasa memperoleh manfaat. “Tapi tidak sedikit juga yang mental dan tidak kembali karena merasa tidak nyaman dengan sikap keras dan gaya bicara Dokter Tan yang tanpa tedeng aling-aling,” Atiek mengatakan sambil tertawa. 
Menurut Shot Yen, seorang dokter seperti dirinya, memiliki tugas untuk membimbing pasien-pasiennya pulang kembali pada kesehatan kodratinya. “Dokter itu sesungguhnya adalah a lifetime coach. Sekarang ini, dengan derasnya informasi kesehatan yang bisa dengan mudah diperoleh di internet, sesungguhnya terjadi transformasi jabatan dalam dunia kedokteran.  Kedudukan seorang dokter terhadap pasiennya tidak lagi seperti dewa yang maha tahu melainkan sebagai pelatih yang berdiri di tepi lapangan pertandingan setelah ia mengajari pasiennya berbagai ilmu yang ia miliki tentang kesehatan,” katanya. Shot Yen menambahkan, tak cuma membantu menata hidup penderita untuk bisa menerima kenyataan ketika terjadi sesuatu yang tidak beres dalam kesehatannya, seorang dokter juga wajib menyadarkan pasiennya, kontribusi apa saja yang ia lakukan sehingga tubuhnya menjadi sakit, dan memberi tahu cara memperbaikinya.
Komunikasi, menurut perempuan yang lahir di Beijing pada September 1964 ini adalah salah satu alat utama yang harus digunakan oleh seorang dokter ketika menjalankan praktiknya. “Dokter itu tidak boleh malas bicara seperti orang yang sedang sakit gigi. Dokter itu bukan Cuma orang yang meresepkan obat,” kata Shot Yen. Kekukuhan pendapatnya itu membuat ia kerap dianggap sebagai dokter yang anti obat. “Ini yang selalu ingin saya luruskan. Saya sama sekali tidak anti obat. Saya hanya menolak pemakaian obat yang tidak rasional dengan tujuan menyembuhkan penyakit secara instan,” dengan tegas ia menukas. Pada pasiennya, Shot Yen memang nyaris tak pernah memberikan resep obat, melainkan memberikan pemahaman tentang pola makan sehat seimbang.  “Di Indonesia, banyak sekali terjadi kesalahpahaman mengenai makanan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Hanya Negara kita yang mengenal istilah Sembilan bahan pokok makanan atau sembako. Pola makan itu erat kaitannya dengan budaya,” katanya.
Ia selalu geram melihat kurangnya edukasi tentang kesehatan makanan dan pengelanan bahan pangan bagi masyarakat. Dalam pandangan Shot Yen, perlu keseriusan pemerintah untuk melakukan itu. “Mungkin hanya hanya butuh tiga instatsi kementrian pendidikan, kesehatan, dan agraria untuk duduk bersama membahas tentang kekayaan dan ketersediaan pangan serta bantuan media yang mau mendedikasikan satu saja halamannya seminggu sekali pada departemen agraria atau pertanian untuk mengulas tentang bahan pangan lokal dan cara mengolahnya dengan sehat untuk membuat masyarakat sehat,” katanya. Itu sebabnya, selain menulis buku, dokter yang menyandang master untuk ilmu filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini juga aktif menjadi pengajar dokter perusahaan di beberapa Badan Usaha Milik Negara dan perusahaan-perusahaan swasta.    
Berayahkan Tan Tjiauw Liat yang juga seorang dokter, Shot Yen merasa karakter, kekritisan, dan gairah besarnya untuk berbagi ilmu terbentuk oleh interaksinya dengan sang ayah. “Saya  bisa begini karena ayah yang menurut saya adalah seorang yang mendedikasikan usianya untuk ilmu. Beliau orang yang selalu tidak bisa terima sesuatu menjadi stagnan. Dalam kamus beliau, orang harus menjadi lebih baik terus menerus setiap hari. Kabar baiknya, ada yang terus menepuk bokong saya supaya tidak berhenti menjadi lebih baik,” katanya dengan suara yang melembut.  Di balik sikap tegasnya, dokter yang tengah menjalani doktoralnya dalam bidan Behavioral Nutrition di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini sejatinya menyimpan hati yang hangat.
Ia punya segudang cerita tentang manusia ia yang peroleh dari kamar praktiknya. “Jangan kira saya selalu meledak-ledak menguliahi pasien tentang pola makan dan kesehatan mereka. Saya menempatkan mereka sebagai manusia berdaya. Ada kalanya saya bicara blak-blakan, tapi ada pula kali di mana saya akhirnya hanya memeluk pasien perempuan saya karena memang hanya pelukan yang membuatnya sehat saat itu,” katanya dengan mata berkaca. Bahagia dan bangga sering membuncah di hatinya tiap kali melihat pasien-pasien yang dengan disiplin tinggi menerapkan pola makan sehat seimbang menunjukkan perkembangan kesehatan yang positif. “Saya ini kan hanya pelatih. Mereka yang bertanding memperjuangkan kesehatannya sendiri. Coba, apa ada alas an saya tidak bahagia punya klinik ini? Apa saya punya alas an untuk tidak bangga punya pasien yang sudah teredukasi, bisa menginspirasi dan menyampaikan kabar baik pada orang lain?” katanya dengan suara berselimut haru. Perbincangan dengan Shot Yen harus terhenti. Jam di ruang praktiknya menunjuk angka empat. Ruang tunggu telah penuh dan ia harus bertemu dengan pasien-pasien yang ia banggakan, yang juga begitu mencintai Dokter Tan. (Indah S. Ariani), Fotografer: Lufti Hamdi, Pengarah Gaya: Muntik Dyah, Busana: Ghea Panggabean, Rias Wajah dan Rambut: Arlene, Lokasi: Dr. Tan Wellbeing Clinics & Remanly Special Needs Health 

#Tulisan ini adalah versi unedited artikel tentang Dr. Tan Shot Yen dalam Profil Majalah Dewi edisi Juli 2013

ALIR RESIN ARIN DWIHARTANTO


Pada karya-karyanya, Arin menyematkan semangat zaman. Dengan resin, ia bekukan sejarah tentang sebuah masa di mana ia tumbuh di dalamnya.

Akhir maret 2010. Sebuah email dari Sigiarts Gallery tiba di kotak surat. Isinya undangan pameran berjudul Fluid Friction #2 dari seniman Arin Dwihartanto. Nama itu terasa jarang berseliweran di jagat senirupa Indonesia pada paruh tengah hingga akhir dekade itu. Namun kuratorial dan curiculum vitae yang menyertai undangan itu cukup menjelaskan bahwa sang seniman sejatinya tak benar-benar hijau di ranah seni rupa. Ia punya sederet pengalaman pameran dan pencapaian yang layak dicatat sejak masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan seni murni di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB). Mulai dari kompetisi nasional untuk mahasiswa seni PEKSIMINAS hingga kompetisi seni rupa bergengsi seperti Phillip Morris, Asia-Europe Young Artist Painting Competition, dan Indofood Art Award yang menjadi salah tiga kompetisi yang jadi acuan seni rupa di tingkat nasional dan regional.

Fluid Friction #2 pun bukan pameran tunggalnya yang pertama. Sebelumnya, ia pernah menggelar pameran Machine Head di Koong Gallery Jakarta, Unstable Ground di Toni Heath Gallery, London dan Liquid Friction di Artipoli Gallery Netherland. Sederet pameran bersama juga ia ikuti dalam rentang waktu cukup panjang antara 1997 hingga 2010 itu. Beberapa foto lukisan abstrak berwarna mencorong menyertai undangan itu. Cyan Magenta Yellow Black 3 – Resin on Canvas. Keterangan foto itu cukup mengganggu. Bagaimana resin diterapan pada kanvas? Pertanyaan tersebut menimbulkan rasa penasaran pada seniman berpembawaan tenang yang air mukanya lebih banyak terlihat datar dan tak banyak menebar senyum.

“Saya tak sengaja berniat memakai resin sebagai medium berkarya. Awalnya hanya iseng bermain-main dengan resin. Ternyata saya suka dan tmerasa terbantu karena resin lebih cepat kering disbanding medium lain yang saya gunakan sebelumnya seperti cat minya. Selain karena alasan teknis bahwa cairan resin lebih cepat kering dibanding cat minyak, saya tak menemukan alasan lain yang lebih tepat untuk menjawab kenapa saya menggunakan medium itu ketika pertama kali mencobanya pada 2008,” kata Arin. Kala itu, seniman yang lahir pada 1978 ini tengah mudik liburan ke Bandung, kota di mana ia lahir dan tumbuh besar dalam lingkungan artistik yang tersaji setiap hari lewat interaksi dengan ayahnya, seniman Sunaryo dan ibunya Heti Sunaryo, seorang perias pengantin Sunda. Pada tahun 2008 itu, Arin baru saja menyelesaikan master seninya di sekolah seni rupa bergengsi, Central Saint Martin’s College of Art and Design di London. Hingga sebelum menemukan resin, Arin yang karya-karya awalnya terasa kental terpengaruh komik dan manga Jepang itu menggunakan cat minyak yang lama sekali kering. Ketebalan cat yang ia butuhkan untuk menggoreskan idenya pada citra-citra di atas kanvas bahkan kerap belum kering, berbulan-bulan setelah karya itu selesai. “Itu sering sekali mengganggu pikiran saya dan membuat ingin sekali menemukan bahan lain yang bisa memberi solusi. Maka ketika suatu ketika saya tak sengaja menumpahkan resin dan melihat betapa cepat cairan itu mengering, saya segera mencoba mengeksplorasi kemungkinan yang bisa saya buat dari material itu,” kisahnya.

Pameran bersama berjudul GANTI OLI: Contemporary Paintings from Indonesia yang berlangsung nyaris sepanjang bulan Agustus 2008 di galeri Valentine Willie Singapura menjadi titik baru dalam perjalanan berkarya Arin. Tiga lukisan berbahan resin yang ia sertakan dalam pameran itu mendapat perhatian serius dunia seni rupa. “Sambutan baik itu membuat saya bersemangat mempelajari resin lebih dalam,” akunya. Dari sekadar ketidaksengajaan, Arin lantas membiarkan semangat dan rasa penasaran memandunya menemukan keajaiban-keajaiban resin yang secara alami diciptakan sebagai material preservasi karena sifatnya yang membekukan apa saja yang terlapisi oleehnya.

Dengan penuh semangat dan rasa penasaran, ia telusuri setiap informasi yang didapatnya tentang resin. “Di London, saya mendapat banyak kemudahan memperoleh informasi yang saya butuhkan. Ketatnya regulasi keselamatan dan kesehatan di sana juga memaksa saya menerapkan standar kerja paling aman dengan resin yang sesungguhnya material beracun yang bisa sangat berbahaya bagi kesehatan bila proses kerjanya tak dilakukan sesuai prosedur,” katanya.  Di studio kecilnya yang berada di sebuah distrik seni London di mana banyak seniman-seniman muda menyewa studio, Arin mencoba mengolah berbagai kemungkinan yang bisa ia buat bersama resin. Sayangnya, informasi dan pengetahuan yang leluasa ia peroleh di sana tak dibarengi kemudahan mendapatkan bahan dan bantuan kerja. “Sejak pindah ke London dan memulai kuliah di Saint Martin’s saya memang seperti kembali ke titik nol baik dari segi pengetahuan mau pun pengalaman kerja. Apa yang saya pelajari di ITB seperti dinihilkan dan dipaksa kembali mempelajari seni rupa dunia dari dasarnya. Begitu pula ketika praktek,” kata Arin yang mengaku sempat frustrasi di enam bulan pertamanya di Saint Martin.

Namun Arin memilih untuk tidak patah. Semua kendala yang ditemuinya ia coba urai dan pintal rapi. Ia menolak surut karena London adalah kota yang sangat ingin ia taklukkan kala itu. “Saya ingin sekali berpameran tunggal di sana,” katanya. London, dengan lembaga pendidikan seni rupa bergengsi yang berhasil Arin masuki itu adalah pilihan yang secara sadar ia pilih untuk merentang jarak bukan hanya dengan dunia seni rupa Indonesia, melainkan juga dengan kebesaran karya-karya ayahnya. “Sejak masuk seni rupa, saya sudah sangat biasa dikait-kaitkan dengan Papa. Kalau saya mencapai sesuatu, orang akan ringan saja bilang, “Ya jelaslah, dia kan anaknya Sunaryo,” Arin mengenang. Kondisi itu diakuinya sangat tidak menyenangkan. Namun Arin bukan juga putra yang merasa harus membenci dan secara frontal memilih berseberangan dengan ayhnya. “Saya tidak punya alasan marah dengan kondisi itu. Kenyataannya, saya memang anak Sunaryo yang memang banyak mempengaruhi perkembngan artistik saya seperti soal komposisi, dan sebagainya,” katanya.

Sunaryo, bukan tak tahu putranya merasakan tekanan bayang-bayangnya. “Saya merasakan itu sejak Arin mulai masuk ITB dan melihat bagaimana ia mencoba melepaskan diri dari bayang-bayang saya dengan membangun karakter karya dan membuat pencapaiannya sendiri,” kata Sunaryo yang selalu ingat sikap datar Arin saat diberi selamat tiap kali ia memenangi sebuah kompetisi. “Satu-satunya pencapaian yang dengan sengaja ia sampaikan pada saya adalah ketika ia mendapat nilai A untuk tugas akhirnya di ITB. Laporan itu berakhir dengan pertanyaan, “Papa nggak kecewa, kan?” Sunaryo mengenang.

Beberapa tahun dari peristiwa itu, Sunaryo menjadi saksi betapa putranya menjelma seniman yang dimiliki bukan lagi cuma oleh Bandung dan Indonesia, melainkan dunia. Arin berkeliling menggelar pameran dai satu galeri ke galeri lain di lima benua. Salah satu karya dari pameran Frozen|Stratum yang menggunakan debu Merapi sebagai pigmen warnanya dikoleksi Museum Guggenheim yang kerap disebut sebagai the temple of the modern art itu. “Saya menemani dia mengikuti seluruh rangkaian acara yang digelar menandai pembukaan pameran koleksi Guggenheim berjudul No Countries di mana karya Arin ada di antara karya seniman lain dari Asia,” kata Sunaryo. Dalam semua rangkaian acara itu, ia sengaja selalu mengambil jarak dan menjadi pengamat di kejauhan.  “Bangga sekali melihat bagaimana publik seni dunia mengapresiasi karya Arin Dwihartanto yang punya karakter sendiri, yang melihat dan menggunakan bahasa berbeda dari saya,” kata Sunaryo. Suaranya tak bisa menutupi haru.

Arin sendiri masih sama dengan beberapa tahun lalu: menyikapi segala pencapaiannya dengan datar. “Tentu saja senang atas segala apresiasi yang saya peroleh. Tapi buat saya, pencapaian sesungguhnya adalah titik di mana saya harus mulai dengan sadar mengerti apa yang saya kerjakan,” kata Arin. Artinya, setiap pencapaian akan membuat ia punya lebih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Arin memberi dirinya sendiri tanggung jawab besar untuk memastikan ia tak pernah berhenti mengeksplorasi berbagai kemungkinan artistik dan terus menantang diri untuk selalu berkembang. “Karya Arin sekarang memang bisa dibilang berbeda 180 derajat dari karya-karya lamanya baik secara teknis mau pun caranya mengeksplorasi bahan,” Syagini Ratnawulan, seniman yang juga sahabat Arin sejak mereka kecil.

Namun perubahan dan perkembangan artistik itu menurut Cagi, panggilan Syagini tak mengubah sosok Arin di matanya. “Arin tetap teman yang baik dan menyenangkan seperti saat kami sama-sama kuliah 15 tahun lalu. Meski pendiam, leluconnya tak pernah garing dan selalu cerdas. Dia juga bukan sahabat yang mati-matian perlu saya jaga perasaannya karena ia bukan orang yang mudah tersinggung,” kata Cagi yang masih selalu ingat saat Arin menghadiahinya sekotak susu ultra yang bungkusnya sudah dikuliti, menyisakan bidang putih. “Arin tidak pernah berusaha terlihat perhtaian dengan memberi hadiah-hadiah mewah. Tapi kesederhanaan itu yang justru membuat persahabatan kami jadi terasa menyentuh,” Cagi mengungkapkan.    

Arin memang bukan orang yang mudah ditebak perasaannya. Air wajahnya yang hamper selalu datar dan tak terlalu banyak menebar senyum membuat orang kerap tak bisa membaca isi hatinya. Bicaranya lugas dan sedikit sekali basa – basi. Namun berbincang dengan Arin tak sedikitpun memunculkan bosan. Terutama ketika dia menceritakan nilai-nilai dan etika berkarya yang ia pegang. “Berkarya dengan resin menghadpkan saya pada satu persoalan serius karena sifatnya yang tak bisa diurai secara alami. Saya risau sekali karena tidak ingin proses berkarya saya merusak lingkungan,” katanya. Arin sempat gamang sampai akhirnya terbersit ide untuk membuat proses berkaryanya lebih aman untuk alam dengan membuang sampah kerjanya ke kotak-kotak transparan yang ia buat dalam berbagai ukuran. “Ternyata setelah kotak dibuka, sampah kerja saya itu jadi semacam instalasi. Senang sekali menemukan solusi,” katanya.

Arin memang tak pernah mau menafikkan nilai-nilai layak tentang sesuatu yang dianggapnya layak dan patut. “Pernah saya mengeluarkan uang cukup besar untuk membeli karya saya waktu kuliah di sebuah balai lelang. Bukan tak senang karya saya beredar di lelang, tapi saya kaget dengan harga yang terlalu tinggi yang mereka tawarkan. Menurut saya harga itu tak masuk akal dan bisa berbahaya buat kelangsungan proses kreatif saya,” kata Arin yang dengan tegas mengaku tak suka dengan proses ‘goreng menggoreng’ yang kerap terjadi di dunia seni. Ia memilih untuk menjadi seniman yang berkembang alami. Mengalir tenang untuk menemukan bentuk muara terbaik lebih ia sukai ketimbang melesat cepat, lalu tamat setelah sebuah ledakan dahsyat. “Hidup saya masih akan lama. Perjalanan karier saya juga masih akan panjang. Saya ingin membuatnya berarti dan dikenang orang dengan baik,” kata Arin bijak. Tampaknya, Arin belajar sangat banyak dari resin yang mengalir dan membeku pada bentuk terbaik di atas kanvasnya. (Indah S. Ariani) Pengarah Gaya: Rhino Madewa, Fotografer: Galih Sedayu, Busana: Kaos: Zara, Jaket: Otoko Lokasi: Studio CA3A, Cigadung, Bandung. 

#Tulisan ini merupakan versi unedited artikel tentang Arin Sunaryo yang telah diterbitkan dalam rubrik Dunia Pria Majalah Dewi edisi Juli 2013

   

          

Rabu, 16 Februari 2011

Dasa Warsa Pertama



Waktu selalu bergulir gegas. Dekade demi dekade sering berjalan tanpa terasa. Begitu pula yang dirasakan Biantoro Santoso, tentang Nadi Gallery yang didirikannya sepuluh tahun silam. Menandai dasa warsa pertamanya, Nadi meluncurkan sebuah buku yang mencatat jejak perjalanan galeri yang berada di bilangan Puri Indah ini. “Buku ini mungkin belum layak jadi acuan penting bagi yang mau mengaji secara serius soal galeri seni di Indonesia. Tapi bisa jadi sumber informasi tentang apa yang pernah dikerjakan dan dicapai oleh Nadi Gallery,” kata Biantoro tentang buku berjudul Tha Show Must Go On itu. Peluncuran buku ini ditandai dengan sebuah pameran yang sedikit keluar dari pakem Nadi selama ini. Kalau biasanya kami mengusung tema atau pendekatan tertentu dalam tiap pameran, kali ini kami membiarkan para seniman datang dengan ide mereka masing-masing, tanpa tema yang mengikat. Namun kami yakin, karya-karya yang tampil tetap bisa kita nikmati dan dijadikan acuan untuk membaca bagaimana perkembangan karya masing-masing seniman akhir-akhir ini.,” kata Biantoro lagi. Mungkin kita bisa menganalogikan pameran ini serupa sebuah pesta tanpa kode busana. Karena yang berjaya sejatinya bukanlah warna yang mengikat mereka, melainkan ide yang ada di baliknya. (ISA), Foto: Dok. Nadi Gallery

DUA DALAM SATU


Dua konser musik digelar di dua tempat berbeda di Kompleks Taman Ismail Marzuki pada tanggal unik 11 November 2010 silam. Di tanggal 11/11 itu, Orkes Simfoni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang sempat vakum selama hampir lima tahun, kembali membentuk kelompok yang terdiri atas mahasiswa, dosen dan alumni IKJ. Pentas perdana kelompok baru ini digelar di Teater Kecil. Mereka memainkan beberapa komposisi abadi Ismail Marzuki, dan komponis dunia lain seperti Hyden. Sementara itu, di Planetarium yang bersisian dengan Teater Kecil, digelar pertunjukan musik bertajuk 11.11 From Duality to Oneness: Diddi Agephe + Andy Ayunir. Duo musisi ini sejak lama dikenal sebagai pioneer dalam musik elektronik. Mereka berdua menampilkan 10 komposisi kompleks yang berkaitan dengan frekuensi, vibrasi, resonansi, dan kesadaran semesta. Repertoar yang mereka tampilkan malam itu, berawal dari kisah penciptaan semesta, berjudul Big Bang 14,000,000,000 BC – Universe Created dan dipungkas dengan 11.11 Cosmic Consiousness. (ISA), Foto: Dok. Diddi AGP

Senin, 20 Desember 2010

LANGGAM DIPLOMASI RETNO MARSUDI


Kaki dan kiprahnya melanglang buana. Tapi hati dan cintanya tertambat pada akar kearifan Jawa.

Suara gending lamat-lamat menyapa telinga. Lembut, seakan datang dari dunia tak bernama. World music. Itu dugaan pertama yang melintas di kepala, mengingat pemilik ruangan apik beraroma sedap malam dan pandan itu adalah Retno Lestari Priansari Marsudi. Salah seorang Duta Besar di Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu-RI) yang sejak 2008 menjadi Direktur Jenderal Amerika dan Eropa (Dirjen Amerop). “Bukan world music. Ini klenengan asli Jawa,” kata Retno ketika ditanyakan perihal musik yang melantun di ruang itu. “Saya ini sangat Jawa. Lahir dan tumbuh besar di tengah keluarga Jawa yang kental memegang tradisi,” katanya. Itu sebab kenapa Retno menghadirkan atmosfer itu lewat musik dan aroma di ruang kerjanya. “Ketika menghadapi tekanan pekerjaan yang sangat tinggi, saya berusaha membangun suasana yang rileks dan homey,” katanya membuka rahasia. Dua hari sekali, ia mengganti bunga dan rajangan pandan agar atmosfer itu tetap sinambung nemenaninya. Irama pelog dan slendro terus berjalin dalam ritme lambat.

Ritme yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan aktivitas Retno yang demikian padat dan pesat. “Kadang-kadang, 24 jam terasa kurang,” cetusnya tertawa. Retno tak berlebihan. Seringkali ia berada di Jakarta seminggu saja dalam sebulan. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas hubungan Indonesia dengan dua benua sebesar Amerika dan Eropa yang berjarak ribuan mil dari tanah air, perempuan pertama sepanjang sejarah Kemlu-RI yang bisa menempati posisi sebagai dirjen ini memang harus kerap menghabiskan waktunya di perjalanan menuju negara-negara yang dilawatnya. “Kadang-kadang hanya untuk perjalanan saja saya harus menghabiskan waktu empat hari pulang pergi,” katanya. Ketika berada di Jakarta pun, hari-harinya telah dipadati jadwal yang mengantri. “Tiap jam ada jadwal meeting. Ini waktu terlama yang pernah saya alokasikan untuk sebuah pertemuan,” katanya, sambil menyebut waktu tiga jam yang diberikannya untuk wawancara dan pemotretan dengan Dewi.

Retno bukan sedang sambat. Setelah hampir seperempat abad, masa telah menempanya menjadi seorang diplomat tangguh yang tak gentar menghadapi berbagai rintangan. Hal itu dibuktikan, misalnya ketika ia ditugaskan menjadi salah satu anggota Tim Pencari Fakta (TPF) kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia, Munir pada 2004. Retno harus melakukan negosiasi diplomasi yang sangat alot dengan pihak Belanda, tempat di mana akhirnya Munir ditemukan tewas tatkala pesawat yang membawanya mendarat di Bandar udara Schipol. “Pengalaman bekerja dalam TPF Munir itu memberi saya pelajaran yang mungkin tidak akan pernah saya peroleh di sekolah mana pun,” katanya. Retno juga mengaku berhasil mematahkan stigma yang ia dengar dari banyak kalangan pemerintah yang acap menganggap bekerja dengan para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) itu sebagai sesuatu yang sulit. “Awalnya saya sempat khawatir memikirkan omongan-omongan itu. Tapi di akhir hari, saya bisa membuktikan kalau kerjasama dengan teman-teman LSM itu tidak sesulit yang dibayangkan. Bahkan sampai sekarang pun, saya masih berhubungan baik dengan teman-teman di TPF,” katanya.

Usman Hamid, seorang kolega Retno di TPF Munir, mengamini hal ini.
“Sesekali saya masih bertemu Mbak Retno, entah dalam acara formal atau sekadar ngopi santai membincangkan berbagai hal,” kata Usman. Retno, dalam pandangan Ketua Dewan Pengurus Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (Kontras) ini merupakan satu dari sedikit diplomat yang menjanjikan dedikasi besar terhadap dunia diplomasi Indonesia. Usman tak asal bicara. Dirinya dan Retno bersama-sama menjadi anggota tim negosiasi di Belanda . “Waktu itu saya mewakili keluarga Munir. Mbak Retno dari Kemlu. Kami harus melakukan negosiasi dengan pemerintah Belanda agar diizinkan membawa specimen dari jasad mendiang Munir ke Indonesia sebagai bukti dalam proses penyidikan,” katanya.

Proses negosiasi saat itu, menurut Usman, menjadi sangat alot karena ada perbedaan kebijakan antara Indonesia dan Belanda perihal penerapan hukuman mati. “Hal ini menjadi isu sentral kala itu. Belanda terikat dengan Konvensi Eropa untuk tidak menerapkan hukuman mati, sementara Indonesia, dalam beberapa kasus, masih meniscayakan kemungkinan itu. Pihak Belanda tidak berkenan memberikan bantuan hukum, dalam hal ini specimen sebagai barang bukti, jika di kemudian hari berakibat penjatuhan hukuman mati terhadap seseorang,” Usman menjelaskan. Tarik menarik kepentingan terjadi seperti dua magnet berkekuatan besar. “Posisi Mbak Retno jelas tidak mudah saat itu,” kata Usman. Dengan pemahaman, dan kemampuan word engineering yang dimilikinya, Retno dapat membuat kesepakatan yang membuat kedua belah pihak nyaman. “Mbak Retno itu negosiator ulung yang membuat misi kami tercapai,” kata Usman mengenang.

Diplomasi dan negosiasi barangkali telah mendarahdaging dalam dirinya. Retno kerap memimpin delegasi untuk banyak perundingan penting di berbagai negara. ”Dia punya pemahaman dasar yang sangat solid tentang apa yang dilakukannya. Bukan hanya urusan hubungan internasional yang dikuasainnya secara purna, tapi juga hukum internasional,” kata Usman. Retno, seperti yang telah terbukti di banyak meja negosiasi, memiliki naluri yang kuat sebagai seorang negosiator. “Masing-masing perundingan itu memilik karakter berbeda dan semua memerlukan ketekunan untuk diselesaikan,” kata Retno. Menurutnya, kombinasi antara fleksibiltas, semangat berkompromi dan keteguhan selalu diperlukan dalam setiap negosiasi. Retno biasanya juga mempelajari curriculum vitae sang ketua tim perunding. “Saya cari di mana persamaannya dengan kita. Walau pun urusannya urusan negara, tapi penting pula mengetahui faktor personal. Ini akan sangat membantu untuk mencairkan suasana,” jelasnya. Selain negosiasi kasus Munir, perundingan untuk menghapuskan larangan terbang maskapai penerbangan Indonesia ke Eropa juga menjadi perundingan yang menantang buat Retno.

Karier perempuan kelahiran Semarang, 27 November 1962, melesat segegas meteor. Lulusan Fakultas Hubungan Internasional UGM 1985 ini tersaring lewat jalur rekrutmen langsung yang diadakan Kemlu-RI di kampusnya setahun sebelum ia usai kuliah. “Jadi saat wisuda, saya sudah enteng. Sudah punya tempat yang dituju,” katanya bersahaja. Jenjang demi jenjang dalam tangga birokrasi di Kemlu-RI, dengan pesat dan pasti dicapainya. Retno sendiri mengaku tak pernah membuat target jabatan apa yang ingin diraihnya. “I just always try to do my best,” katanya. Ini yang membuat ia cepat mendapat promosi. Bergabung sebagai staf pada Biro Analisa dan Evaluasi untuk kerjasama ASEAN pada 1986, Retrno diangkat menjadi Direktur Eropa Barat. Promosi yang mengejutkan baginya, “Sebab saat itu usia saya baru 38. Relatif sangat muda untuk ukuran birokrat,” katanya. Kejutan lain juga datang kemudian. Retno diangkat sebagai duta besar di usia 42 tahun dan menjadi Dirjen Amerop beberapa tahun kemudian.

Perubahan yang dinamis dalam diplomasi diikuti dengan santai oleh Retno. Ia selalu terbuka terhadap berbagai perubahan. “Justru pada dinamika itu letak daya tariknya. Setiap hari isu yang harus saya tangani berbeda. Selalu ada perubahan setiap saat. Ini memaksa saya untuk selalu alert dan mengikuti perkembangan,” katanya membagi kiat. Menurutnya, dalam diplomasi modern diplomat hanya merupakan satu dari banyak pelaku yang terlibat dalam hubungan antar Negara. “Dalam kondisi hubungan yang baik, tentu tugas diplomat menjadi lebih mudah karena tugas utamanya menjaga dan meningkatkan hubungan yang sudah baik. Namun dalam kondisi yang tidak baik, diplomat harus bisa menjalankan tugas sebagai pendamai yang mencoba mengkonversikan situasi seburuk apapun menjadi situasi yang lebih baik,” katanya.

Dalam pandangan Retno, diplomasi ekonomi akan menjadi penekanan bagi diplomasi indonesia di masa mendatang. “Tugas para diplomat ke depan adalah bagaimana mengkonversikan hubungan politik yang baik yang dimiliki indonesia dengan semua negara menjadi hubungan baik di bidang lainnya, terutma bidang ekonomi,” katanya. Apalagi menurutnya, dari sisi diplomasi, Indonesia berada dalam posisi yang lebih ringan dari masa-masa yang lalu. “Kalau dulu, kita banyak sekali dibebani oleh isu hak asasi manusia, demokratisasi, good governance dan sebagainya. Isu-isu yang terus terang sangat membebani diplomasi kita pada saat itu, kini terus terang sudah tidak ada sama sekali,” katanya mantap. Retno menggaris bawahi, dari sisi perkembangan penghormatan hak asasi manusia, Indonesia sudah jauh lebih maju. Dari sisi demokrasi,menurutnya, Indonesia sekarang bisa dengan bangga mengklaim sebagai Negara demokratik ketiga di dunia, setelah Amerka dan India. Dari sisi good governance, kendati masih banyak hal yang harus dibenahi, komitmen pemerintah untuk melakukan perbaikan, pemberantasan korupsi, menurutnya layak dihargai karena hal tersebut membuat Indonesia dihormati di kancah diplomasi dunia. “Dengan semakin entengnya “beban” diplomasi itu, energi kita jadi bisa lebih banyak terfokus pada diplomasi ekonomi,” katanya.

Hal itu pula yang terus ia upayakan terjalin antara Indonesia dengan Amerika dan eropa. Retno mencatat respon yang sangat positif dari dua wilayah adidaya itu. “Indonesia dan Amerika saat ini tengah menjalin kemitraan komprehensif (Comprehensive partnership). Tidak banyak negara yang dapat membuat Amerika mau menjalin kerjasama ini. Peresmiannya memang belum karena kita menunggu kunjungan Presiden Obama. Tapi dalam praktiknya hubungan itu sudah mulai berjalan,” katanya. Tak hanya dengan Amerika, Indonesia juga punya kemitraan komprehensif dan strategis dengan Uni Eropa dan negara besar lain seperti Jepang, Cina, juga Australia. “Sebuah negara tidak akan mau menjalin kemitraan komprehensif atau strategis dengan negara yang tidak mereka pandang,” katanya. Di tangan Retno, segala hal memang terasa memiliki masa depan. Kerja yang demikian berat itu berhasil dipikulnya. Ini memberinya konsekuensi lain. Mobilitas yang sangat tinggi.

Hal ini sama sekali tidak mengganggunya. Sejak awal memilih diplomasi sebagai jalan hidup, Retno sudah tahu benar risiko yang harus diambilnya itu. “Memang harus membangun team work yang baik dengan suami dan anak-anak. Apalagi wilayah kerja saya Amerika dan Eropa yang secara geografis sangat jauh, waktu saya benar-benar habis di jalan. Pada saat saya masuk Deplu, dia sudah tahu benar apa risiko yang harus kami ambil,” kata istri Agus Marsudi yang seorang arsitek itu. Retno menolak pandangan yang mengatakan bahwa karier dan rumah tangga adalah pilihan. “Tidak ada yang perlu dikorbankan. Semua bisa berjalan beriringan jika rasa aman bisa sama-sama kita bangun,” kata Retno yang rutin jogging dan berdansa dengan suaminya setiap pagi. Mereka juga punya ritual tahunan yang mungkin jarang dilakukan pasangan lain: mendaki gunung. Baginya, mendaki gunung bukan hanya perkara raga. “Seperti gunung, hidup punya puncak yang harus didaki dan suatu saat juga harus dituruni,” katanya beramsal. Retno mengaku selalu rindu kembali mendaki punggung Merapi, bermalam di sana, menyesap sahaja penduduk desa sembari menyeruput hangat tawa mereka.

Rindu yang mungkin tak bisa ditunaikan oleh gagah Pulpit Rock di Norwegia yang pernah pula ia daki hingga puncak bersama sang suami. Jangan heran pula jika suatu kali melihat Retno dan Agus duduk santai berdua di emper Malioboro nggedabrus -berbincang ke sana ke mari- dengan pedagang wedang ronde dan tukang becak. Ia mengaku, saat-saat seperti itu serupa proses kalibrasi rasa baginya. “Menjadi bukan siapa-siapa seperti itu membawa saya kembali ke akar. Mengajak jiwa saya kembali eling bahwa hidup sejatinya begitu sederhana,” kata. Ya, seperti seekor elang, ibunda dua remaja putra Dyota dan Bagas ini memang selalu butuh sarang untuk pulang setelah jelajah panjang yang melelahkan. Rumah dengan segala cinta dan aroma Jawa yang bisa dihirup di dalamnya, adalah sarang menenangkan bagi Retno, sang elang, untuk kembali ke kesejatian diri. (Indah S. Ariani), Fotografer: Irene Iskandar, Pengarah gaya: Ayundha Wardhani, Rias wajah dan rambut:

Kamis, 14 Oktober 2010

SEPERCIK MIMPI BUDI & PEGGY


Sebuah keputusan kecil, mengubah jalan hidup pasangan ini. Mereka tak pernah bermimpi jadi pahlawan.

26 Oktober 2007. Sebuah batu besar melayang lewat jendela terbuka ke dalam mobil pick up yang ditumpangi Peggy Soehardi. Malam itu, mantan pramugari yang kini mendedikasikan diri menjadi ibu rumah tangga dan total menjadi pekerja kemanusiaan ini tertidur di mobil setelah lelah membangun pagar di sekeliling lahan sawah milik Roslin Orphanage, panti asuhan yang ia dirikan bersama Budi Soehardi suaminya, seorang pilot Singapore Airlines. Peggy terlalu pulas untuk menghindar, bahkan ketika batu yang dilemparkan seseorang yang terlibat dalam tawuran antar warga itu mendarat tepat di wajah dan mematahkan hidungnya. Ia tak sadar apa yang terjadi hingga matanya tertumbuk pada cairan merah yang tumpah ke baju jingga yang dikenakannya. Hidung Peggy telanjur hancur terhantam batu. Budi Soehardi yang saat itu tengah bertugas di Los Angeles segera terbang ke Kupang. Peggy dilarikan ke Singapura, menjalani perawatan intensif. Beberapa waktu sebelum wawancara dengan dewi terjadi, Peggy baru saja menjalani operasi hidung setelah hampir tiga tahun proses penyembuhan berlangsung. “Ini hidung palsu,” katanya ringan sambil tertawa.

“Saya sedih, marah, kecewa, dan sangat ingin menutup panti. Saya tidak bisa terima. Kenapa Peggy sampai harus celaka?” kenang Budi yang telah lama menetap di Singapura dan kini dipercaya menjadi Presiden Rotary Club di negeri jiran tersebut. ”Tapi saya sudah telanjur jatuh cinta pada anak-anak itu. Jangankan menutup, mempercayakan panti ini pada orang lain saja saya keberatan. Akhirnya kami sepakat untuk meneruskan ini,” tambah Peggy. Tak disangka, keteguhan itu diganjar dengan sebuah penghargaan bergengsi. “Budi terpilih sebagai peraih CNN Hero tahun 2008. Sesuatu yang sama sekali tak pernah kami bayangkan, karena kerja ini kami lakukan semata-mata karena panggilan hati, bukan ingin dapat penghargaan,” kisah Peggy. Boleh jadi itu, seperti yang diyakini Budi dan Peggy, adalah penghiburan Tuhan buat mereka. Tapi semua berawal dari perjuangan panjang mereka bagi cinta kasih dan kemanusiaan. Mengikuti ketergarakan hati, Budi, Peggy dan tiga anak mereka -Christine, Tasha, Christian yang kala itu tengah berangkat remaja- memutuskan mengubah rencana perjalanan mereka berlibur keliling dunia untuk pergi ke Kupang, di mana para pengungsi konflik Timor Timur menyelamatkan diri. Keputusan yang diambil pertengahan tahun 1999, lantas memang tak hanya mengubah rencana liburan, tapi juga jalan dan pilihan hidup mereka.

Bagaimana awal berdirinya Panti Roslin?
Budi Soehardi(BS): Kami tidak pernah berpikir akan punya panti asuhan. Suatu malam pada 1999, saat akan makan bersama sambil membicarakan rencana liburan keluarga keliling dunia, kami melihat sebuah siaran berita yang menayangkan kondisi para pengungsi Timor Timur di Kupang. Kami sangat prihatin melihat itu dan muncul ide untuk mengalihkan rencana liburan keliling dunia itu untuk datang ke Kupang membantu para pengungsi.
`
Apakah ide itu segera disambut istri dan anak-anak?
BS: Justru istri dan anak-anak yang mengusulkannya. Mereka ingin membantu. Jadi dana yang sedianya untuk jalan-jalan, kami belikan bantuan untuk para pengungsi di sana. Mereka berpikir, kelilng dunia masih bisa dilakukan kapan-kapan. Para pengungsi itu berhadapan dengan hidup dan mati. Mereka harus segera dibantu.
Peggy Soehardi (PS): Anak-anak senang sekali keputusan ini. Sejak kecil, mereka tidak pernah menetap di Indonesia. Jadi mereka tertarik sekali pada segala hal yang berhubungan dengan tanah airnya. Mereka juga prihatin melihat kondisi para pengungsi. Anak-anak tidak menyangka ada orang yang sampai kesulitan mendapat makanan sementara mereka bisa makan apa saja yang mereka suka kapan pun.

Bagaimana keterlibatan anak-anak di Panti Roslin?
BS: Delapan tahun terakhir ini, setiap libur sekolah mereka selalu menghabiskan waktu di Kupang, membantu ibunya mengurusi panti. Anak saya yang pertama dan kedua sekarang berkuliah di Australia dan Kanada, yang bungsu sudah sekolah menengah, tinggal bersama saya di Singapura, sementara mamanya ringgal di Kupang dan sesekali datang ke Singapura. Saya sendiri, segera pulang ke Kupang .
PS: Anak-anak punya macam-macam di sana. Punya anak asuh sendiri, celana pendek untuk ke pantai, dan waktu yang menyenangkan. Mereka bisa mengajak anak-anak panti bermain di pantai seharian tanpa ada yang menyuruh mereka segera pulang. Anak-anak panti juga selalu menunggu kedatangan anak-anak kami. Mereka menunggu Christine Tasha dan Christian, seperti menunggu kedatangan kakaknya.

Anda berdua orang asing di Kupang. Bagaimana Anda memulai langkah di sana?
BS: Pada saat kami datang ke sana tahun 1999, kami benar-benar sendiri dan harus bertanya ke sana kemari. Kami menginap di hotel saat itu. Ketika pertama kali kami punya anak asuh, kami belum punya panti. Kami lalu mengontrak sebuah rumah.

Lalu sejak kapan Panti Roslin punya gedung sendiri?
PS:
Sejak 2001. Saat masuk ke sana, rumah itu masih berlantai tanah dan hanya punya satu kamar. Pertimbangan saya saat itu hanya supaya uang sewa rumah bisa dialokasikan untuk pembangunan rumah. Daripada uangnya habis untuk mengontrak rumah, lebih baik saya pindah ke sana, apa pun kondisinya. Saat itu kami hidup benar-benar dalam kondisi yang tidak enak. Ada delapan anak yang beberapa di antaranya bayi saat itu. Saya tinggal di Kupang terus karena kalau tidak, bahan bangunan kami akan dicuri. Saya sampai tidak boleh masuk Singapura karena saya terjangkit malaria. Saya bahkan sempat di karantina di rumah sakit karantina yang biasa disebut Kandang kerbau. Di situ orang-orang yang terjangkit malaria, AIDS, dan berbagai penyakit menular dikarantina.

Pernah merasa frustrasi ketika membangun ini?
PS: Sering. Tapi saya tidak bisa menyalahkan mereka yang tidak pernah tahu bahwa ada cara untuk memperbaiki hidup mereka. Kalau sudah merasa frustrasi begitu, saya bekerja, menyibukkan diri, bikin ini itu dan tahu-tahu hari sudah malam, dan saya sudah terlalu lelah untuk merasa frustrasi.
BS: Dalam keadaan seperti itu, Peggy biasanya menelepon saya dan kami bicara lama sekali untuk saling menguatkan.

Bagaimana Anda berdua bisa begitu yakin?
BS: Tuhan memberi kami banyak sekali berkah. Di lahan sawah kami yang awalnya kering kerontang, Tuhan memberi mata air di sawah kami yang berjarak sekitar 40 kilometer dari panti. Lahan itu awalnya gersang, kering kerontang. Lahan seluas 10 hektar itu dijual pun karena tidak bisa lagi ditanami apa pun. Kami nekat membeli karena harganya sangat murah. Kami lalu coba membuat pompa, mencari air agar tanah gersang itu jadi lahan subur yang ditumbuhi pohon-pohon hijau. Kami berdua mencoba mencari tempat yang mungkin ada airnya. Enam titik kami tetapkan sebagai alternatif. Kami tidak memakai alat berteknologi tinggi, dan pencarian itu pun kami lakukan sendiri. Orang-orang mentertawakan kami. Tuhan ternyata ingin kami menyaksikan kekuasanNya. Bukannya sumur yang Dia berikan pada kami, tapi air mancur yang terus memancarkan air hingga sekarang. Kami sama sekali tidak membutuhkan pompa dan genset itu. Dari lahan tandus, tanah itu berubah jadi sawah yang bisa kami tanami sepanjang tahun dan memberi kami panen berlimpah. Sejak April 2008, kami swa sembada beras. Jadi apa yang kami rencanakan, selalu diberi hasil yang lebih baik oleh Tuhan.
PS: Kami memang harus punya sawah, karena kalau kami membeli beras, jelas kami tidak akan mampu mencukupi kebutuhan yang demikian besar. Sehari, kami harus memasak 45 kilogram beras untuk semua penghuni.

Berapa persen uang keluarga yang dialokasikan untuk panti?
PS: Kalau ditanya prosentasenya agak susah, karena kebutuhan setiap bulan berbeda-beda. Kami tidak punya simpanan. Untungnya, di Jakarta kami punya beberapa rumah kos yang disewakan. Ada asset yang menghasilkan yang bisa menunjang keuangan kami. Makanya di sana, saya juga membangun hotel kecil untuk mereka yang bertandang ke tempat kami. Saya sendiri tidak pernah takut saya tidak punya apa-apa.

Dibiayai oleh siapa operasional Panti Roslin?
PS:
Enam tahun pertama kami membiayai sendiri biaya operasional. Karena kami tidak bisa mengajak orang sebelum kami menunjukkan kerja nyata kami. Setelah panti ada, berjalan dan ada hasilnya, orang mulai membantu. Setelah Budi masuk dalam CNN Hero, perhatian masyarakat makin besar.

Berapa banyak lembaga yang mensupport Panti Roslin sekarang?
PS:
Tidak ada lembaga yang secara tetap mensupport kami. Kadang-kadang saja ada yang memberi sumbangan. Tapi selama ini kami tidak pernah kekurangan. Tidak pernah kami kekurangan makanan. Malah berkelimpahan. Kami sendiri tidak tahu itu semua datang dari mana, karena kalau dihitung secara matematis, uang kami tidak akan cukup membiayai seluruh operasional panti. Di situlah kami percaya, kalau sungguh-sungguh memperjuangkan niat, semua yang datang akan lebih dari apa yang kami niatkan.
BS: Harusnya istri saya yang dapat semua penghargaan karena dia yang memperjuangkan mimpi ini hingga dapat terjadi.
PS: Ah, ini kan kerja kita berdua. Kalau saya sendiri tidak mungkin, dan kalau Budi sendiri tidak mungkin. Kami harus melakukan ini berdua. Dia yang bekerja dan mencari sesuatu untuk keluarga besar kami ini. Saya yang menjaga dan merawat semua yang dia cari. Saya harus turun untuk berbuat sesuatu. Kami berterima kasih pada Tuhan karena hidup kami selalu diberkati, dipenuhi apa yang kami mau, dan selalu diberi keselamatan. Suami saya itu kan bekerja di dalam ‘tanganNya’ terus. Kalau belum dengar kabar Budi landing dengan selamat, saya belum bisa tenang. Dia tiangnya, kalau tidak ada dia, ke mana kami akan bergantung?

Jadi, siapa mendukung siapa sebenarnya?
BS
: Saya mendukung dia.
PS: Ah, nggak juga. Dia orang yang hidupnya tidak pernah diberikan untuk dirinya sendiri. Apa yang dia dapat, selalu diberikan untuk orang lain yang dia cintai. Anak, istri, dan anak-anak panti.

Apa pengalaman yang paling menggugah hati?
PS
: Menjadi ibu baptis buat 20 anak dalam sebuah acara yang sama. Kalau ibu-ibu lain hanya berdiri dengan seorang anak, saya harus berdiri di depan altar dua puluh kali dengan anak yang berbeda, berjanji di depan Tuhan untuk menjaga anak-anak yang tidak lahir dari rahim saya. Satu gereja menangis menyaksikan pembaptisan itu.

Apa yang dulu membuat Anda berdua saling tertarik?
BS
: Dia mandiri sekali. Apa yang tidak bisa dia lakukan? Di panti, semua bangunan dia yang gambar, dia hitung bahan bangungan. Mau masak? Apa saja yang dimasak Peggy pasti enak. Dia membereskan rumah hingga sangat bersih. Mengurus anak, tidak perlu ditanya. Peggy bahkan mengemudikan sendiri mobil perpustakaan Panti Roslin dan membawanya ke kampung-kampung agar anak kampung bisa menbaca. Ketika sekarang saya hidup sendiri di Singapura, saya makin yakin Peggy sangat berharga bagi saya.
PS: Kadang-kadang kita memang membutuhkan waktu sendiri untuk menghargai apa yang tidak kita rasakan ketika banyak orang di sekeliling kita. Bayangkan saja, keluarga kami terpencar di banyak tempat. Budi dan Christian di Singapura, saya di Kupang, Christine dan Tasha di Australia dan Kanada. Saya sendiri tidak pernah membayangkan kami akan hidup seperti sekarang. Tapi saya yakin, ini pilihan yang baik bagi kami semua. Saya hanya ingin anak-anak kami dan anak-anak panti akan jadi anak-anak berhasil suatu hari nanti. (Indah S. Ariani), Fotografer: Jennifer Antoinette, Pengarah gaya: Karin Wijaya, Busana Peggy: CK Calvin Klein