Kamis, 20 Agustus 2009

PEMETA SENI RUPA

Di balik kemeriahan pameran seni rupa, tersimpan kerja keras dan kejelian kurator dalam mengonsep serta memilih gagasan dan karya terbaik para perupa.

Di antara gegap gempita pasar seni rupa dan eforia lonjakan harga karya ke tingkat paling fantastis, ada sebuah jalan yang hanya dilalui sedikit orang. Jalan para kurator ini, masih terbuka luas, karena masih sedikit orang yang memilih profesi tersebut. Dalam lingkaran kecil kurator yang dimiliki seni rupa Indonesia, ada bidang lebih kecil lagi yang diisi para perempuan kurator. Namun, meski sedikit, mereka bisa mewarnai dunia seni rupa kontemporer Indonesia lewat kiprah yang tak layak diabaikan. Empat orang pilihan dewi kali ini setidaknya akan bisa mewakili kiprah para perempuan kurator memetakan ranah seni rupa Indonesia.

Alia Swastika

Kurator Ark Galerie

Ketika bergabung dengan surat kabar mahasiswa, Newsletter Surat, yang diterbitkan Yayasan Cemeti Yogyakarta, Alia Swastika sama sekali tak menyangka kalau dunia tulis-menulis akan membawa langkahnya memasuki sebuah ‘jalan sunyi’ dalam seni rupa. Menjadi kurator bukan tujuan awal kariernya, meskipun Alia selalu punya ketertarikan pada dunia seni lain seperti teater, musik, dan film. Persinggungan intensif dengan seni rupa ketika ia bekerja di Surat, mempertemukannya dengan sebuah peluang yang ketika ia jajaki, memberi kepuasan tersendiri buatnya. “Suatu hari saya melihat lowongan sebagai manajer artistik di Rumah Seni Cemeti. Mengkurasi pameran adalah salah satu kerja yang harus dilakukan. Saya coba mengambil peluang itu dan ternyata menikmatinya,” kata Alia yang kini menjadi kurator in house Ark Galerie.

Masa awal memulai kerjanya sebagai manajer artistik, Alia mengaku banyak mengamati dan mempelajari bagaimana duo pemilik Rumah Seni Cemeti, Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo mengelola galeri. “Saya perhatikan cara mereka membuat konsep kurasi dan berhubungan dengan seniman. Banyak yang bisa saya pelajari dari sana, karena mereka juga sering kedatangan publik seni internasional,” Alia berkisah. Perempuan yang menyukai teater ini, lantas mendapat sebuah ide menarik saat ia menonton sebuah pertunjukan. “Saya melihat properti pertunjukan itu seperti sebuah patung. Lalu saya pikir, kenapa tidak membuat pameran dengan properti panggung teater dan tari sebagai instalasi seni?” Ia lalu mengajukan proposal kurasi ke Cemeti yang langsung disetujui. Orisinalitas ide Alia menjadi daya tariknya.

Saat itu Alia mengundang Teater Garasi, Teater Payung HItam di Bandung, dan Boi G. Sakti untuk terlibat dalam pameran yang ia beri judul In The Shadow of Light. “Sebab saya melihat, cahaya juga merupakan elemen seni rupa yang penting dalam sebuah pertunjukan teater,” kenangnya. Debutnya pada 2005 itu mendapat sambutan baik, karena saat itu jarang sekali ada pameran dengan format yang berhasil menarik pula publik teater dan tari yang berada di luar seni rupa. “Karena dianggap memiliki ketertarikan pada kerja kurasi, setelah pameran pertama itu saya dipercaya mengambil alih beberapa proyek kurasi di Cemeti. Bersama Mella dan Nindit, saya menangani beberapa pameran rutin dan mempersiapkan pameran di luar negeri,” katanya.

Ada proses kerja panjang yang harus dilalui seorang kurator untuk menggelar sebuah pameran. “Tiap pameran, persiapannya bisa mencapai 8-12 bulan. Walaupun untuk pameran kelompok, saya melakukan pendektan yang sama seriusnya dengan pameran tunggal. Begitu pula perlakuan saya terhadap seniman, baik seniman senior, yang sudah tenar atau seniman baru. Tidak ada perbedaan,” katanya. Integritas, adalah hal penting untuk memastikan setiap proses persiapan berjalan lancar. “Saya orang yang sangat percaya prinsip integritas. Ketika bekerja dengan para seniman, itu yang saya pegang. Saya mencoba bekerja sesuai prosedur dan kesepakatan dengan mereka,” katanya tegas. Menurutnya, kerja kurasi yang baik baik adalah bentuk apresiasinya pada kerja kreatif seniman.

Hal penting yang juga perlu dilakukan dalam profesi ini menurutnya adalah melakukan riset, mengenal seniman, dan juga mengetahui jenis karya yang akan dipamerkan. “Dia harus kenal seniman, harus tahu kecenderungan karyanya dan paham bagaimana itu harus dipresentasikan. Karena dari situ, konsep bisa dielaborasi lebih jauh dan dipresentasikan ke publik dengan cara yang tepat,” kata kurator yang baru saja menggelar pameran pameran Golden Age di Museum Akili itu. Seorang kurator, dalam pandangan Alia, tak bisa dibilang sukses jika publik seni hanya menemukan karya-karya bagus dalam ruang pamerannya. “Kalau itu yang terjadi, yang berhasil adalah senimannya, bukan kuratornya. Karena yang mengerjakan itu senimannya. Keberhasilan kurator diukur dari apakah publik bisa membaca gagasan di balik pameran itu,” tukas kurator yang menghindari melakukan ‘kerja jarak jauh’ dengan senimannya ketika sedang mempersiapkan pameran.

“Modal utama menjadi kurator adalah persahabatan dengan seniman. Sepintar apa pun seorang kurator, kalau tidak bisa menjalin hubungan baik dengan seniman atau tidak bisa membuat seniman percaya, ya tidak akan ada manfaatnya. Pasti susah sekali,” kata kurator. Tanpa latar belakang seni rupa, lulusan Komunikasi dari Universitas Gajah Mada ini yakin, bahwa pengetahuan dan ketajaman rasa dalam seni, itu bisa dipelajari sambil jalan. “Saya merasa banyak diuntungkan oleh kesempatan untuk pergi ke luar negeri. Kalau saya tidak mengalami itu, mungkin yang saya ketahui hanya sebatas apa yang ada di katalog dan buku-buku,” ungkapnya. Ia merasa diperkaya pengalaman itu, yang berimbas langsung pada sensibilitasnya terhadap seni.

Sensibilitas, menurut kurator yang sempat magang di Asia Society Museum New York ini merupakan hal penting yang tidak berdiri sendiri. “Dia dikonstruksi oleh konsep, pengetahuan, dan pengalaman,” ungkap Alia yang senang memerhatikan kerja seniman karena memperkaya pengetahuan teknisnya. (Untuk itu ia sering menyempatkan diri bertandang ke studio seniman dan melihat langsung proses pembuatan karya).

Lalu apa sebenarnya yang membuatnya jatuh cinta pada profesi ini? “Buat saya, bersahabat dengan seniman adalah kemewahan yang tidak semua orang punya kesempatan untuk itu. Mereka punya pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan orang. Saya menikmati sekali petualangan gagasan yang sangat menarik. Seperti duduk di roller coaster ketika berinteraksi dengan para seniman yang memiliki latar pengaruh berbeda,” tandasnya.

Farah P. Wardani

Kurator Independen

Di antara kurator yang terlibat dengan sebuah institusi seni, terdapat pula mereka yang memilih untuk tidak terikat satu lembaga seni sebagai kurator dan bahkan menjalani profesi kurator hanya sebagai profesi pendamping. Salah satu yang memilih itu adalah Farah P. Wardani. Sejak awal, ia memang memilih untuk menjadi kurator lepas. Farah yang kini menjadi manajer Indonesian Visual Art Archive (IVAA), memilih untuk lebih berfokus pada lembaga nirlaba yang mengurusi pendokumentasian catatan tentang perkembangan seni rupa Indonesia itu. “Apalagi sekarang ini saya dan IVAA sedang sibuk mempersiapkan peluncuran Online Archive. Jadi sementara memang tidak terlalu aktif sebagai kurator,” katanya.

Tapi itu tidak lantas membuatnya sama sekali vakum mengkurasi. Setelah menjadi kurator dalam pameran di Nadi Galeri dan Galeri Nasional Jakarta, Farah sempat juga mengkurasi pameran Bambang Toko di Valentine Willy Gallery di Kuala Lumpur. “Sekarang ini saya lebih banyak menulis pengantar pameran saja, seperti untuk pameran Bob Sick dan S. Teddy D. kemarin di Yogyakarta,” ujar Farah yang kini juga sedang membantu Edwin Rahardjo dari Edwin’s Gallery mempersiapkan pameran untuk memperingati 25 tahun galerinya – salah satu dari 25 kurator yang diminta menangani pameran koleksinya.

Mengkurasi koleksi sebuah lembaga seni, menurut Farah yang pernah aktif di Ruang Rupa Jakarta ini, memang kerja seorang kurator yang umumnya bekerja di museum, “Tapi dalam perkembangannya, di luar museum juga ada lembaga-lembaga seni lain seperti galeri dan biennale.” Hal ini, dalam pandangannya, membuat infrastruktur seni rupa jadi berkembang makin kompleks. Kurator akhirnya tidak lagi hanya mendekam di museum, tapi melangkah ke luar, menjadi partner seniman untuk menciptakan inovasi atau perkembangan baru dalam seni rupa. “Sayangnya, hal itu belum berjalan terlalu sempurna di sini. Karena di sini, museum seni rupa yang sangat memadai seperti Museum of Modern Art (MOMA) di New York, atau Fukuoka Asian Art Museum itu belum ada,” katanya. Tak heran, Farah menangkap fakta kalau kurator di Indonesia akhirnya lebih berperan sebagai penggagas pameran. “Saya lebih suka menyebutnya dengan istilah program director untuk acara seni, entah pertunjukan atau pameran, ketimbang kurator. Mirip dengan music director, tapi untuk acara seni rupa,” Farah menambahkan.

Kondisi dilematis itu, menurut analisisnya, terjadi karena belum adanya dukungan memadai dari pemerintah terhadap pengembangan seni rupa. “Memang belum memungkinkan selama pemerintah juga belum memberi dukungan yang memadai. Sekarang memang seni rupa sedang sangat meriah dan sudah bisa jadi sumber penghidupan. Tapi kalau boleh bicara, secara esensi, kerja seni rupa itu belum selesai,” ungkapnya. Farah mengambil IVAA sebagai contoh. Kerja pendokumentasian yang dilakukan di IVAA menurutnya adalah upaya untuk mengisi kekurangan referensi yang seharusnya menjadi begian kerja pemerintah. “Orang yang ingin tahu sejarah seni rupa, ingin tahu proses yang terjadi di situ, belum punya banyak sarana untuk itu. IVAA ini adalah salah satu sarana yang bisa digunakan untuk hal tersebut,” Farah menjelaskan.

Di luar keterbatasan sarana itu, lulusan Desain Komunikasi Visual dari Universitas Trisakti ini merasa referensi adalah elemen penting yang sangat membantu kerjanya sebagai seorang kurator. “Saya dapat banyak referensi untuk kerja kurasi dan kerja kurasi saya juga menambah daftar rujukan di IVAA,” ungkapnya. Kadar kebutuhan atas referensi itu sendiri, menurut salah satu penulis buku Indonesian Women Artist The Curtain Opens ini sangat tergantung pada pameran yang digelar. “Kalau seperti saya yang banyak menangani seniman muda dan bertindak layaknya seorang talent scout sekaligus memberi masukan untuk seniman muda itu, referensi yang saya gunakan tidak banyak mengenai seniman muda itu, tapi lebih pada soal kajian budaya dan fenomena apa yang diwakili dan sebagainya meski kadarnya berbeda tergantung skala pameran,” jelasnya.

Farah yang memang lebih sering membawa nama-nama baru dalam pamerannya itu, merasa perlu menjelaskan tak hanya penilaian secara estetik, melainkan juga kedudukan seniman itu dalam peta generasi seni dan fenomena sosial tertentu. “Ini sama halnya seperti dalam musik. Selalu perlu ada sesuatu yang ditawarkan. Itu memang pekerjaan yang tak pernah habis kalau memang terus dipelajari. Itu bagian dari profesi,” katanya. Untuk menjaga bobot kualitas pameran yang ia tangani, Farah mengaku mematok hanya mau menerima maksimal lima saja tawaran menggelar pameran. “Karena saya sebenarnya lebih suka antara pameran yang satu dengan pameran lainnya tidak berbarengan. Satu pameran saja tiap kali,” ungkap peraih master sejarah seni dari London’s Goldsmith College ini. Apalagi saat ini, prioritas utamanya memang tengah tertuju pada IVAA dan kurator diakuinya sebaai kerja sampingan saja.

Namun, kendati sudah mengatur agar kelima pameran itu tidak terjadi dalam bulan yang sama, tak jarang tenggat waktu perupa yang mundur membuatnya harus mengerjakan beberapa proyek di waktu yang berbarengan. “Kerja kurator itu memang susah-susah gampang. Dibilang susah dan menyita waktu sekali juga tidak. Tapi saya juga harus menjaga mood saat memantau seniman-senimannya, butuh fokus sendiri. Jadi ketika ada yang menawarkan pekerjaan, biasanya saya menolak. Tapi seringkali terjadi, dalam prosesnya, seniman seringkali mengundur pameran, jadilah ujung-ujungnya numpuk juga. Tapi itu juga sudah saya perkirakan. Karena seniman seringkali menunda hingga galeri pun terpaksa mengikuti mereka,” keluhnya.

Kondisi itu tak jarang menempatkannya pada posisi tengah yang tak nyaman. “Seringnya berada pada posisi sebagai jembatan yang melintang antara manajemen galeri dan proses berkarya seniman yang sangat cair. Itu sudah bagian kerja kurator sebenarnya, tak bisa dihindari,” katanya. Karena itu biasanya Farah memilih bekerajsama dengan galeri yang memang bisa memahami proses kerja seniman. “Apalagi sekarang banyak sekali galeri. Saya sangat selektif memilih galeri supaya bisa menghindari kondisi seperti itu,” katanya menambahkan. Untuk mengatasi hal itu, ia lantas selalu membuat tenggat waktu yang tegas untuk para seniman, dengan toleransi penangguhan waktu yang hanya boleh dilakukan dua kali saja. “Lebih dari itu, saya biasanya memilih membatalkan pameran, walau ini belum pernah terjadi,” kisahnya.

Konsekuensi dari pilihan tidak membatalkan pameran itu, membuat Farah justru kerap harus berkompromi dengan idealisme konsepnya sendiri. “Buat saya, kalau memang jadi, ya jadi. Tapi ya itu, ide-ide saya akhirnya banyak yang belum bisa terealisasi,” katanya sambil tertawa. Ia lantas mengambil pameran Bohemian Carnaval di Galeri Nasional beberapa waktu lalu sebagai contoh yang tak memungkinkannya menerapkan seluruh ide. Membawa 18 seniman muda dari Yogyakarta, ia harus mengurangi banyak konsep artistik yang tak mungkin diterapkan karena terbentur kondisi para seniman yang tengah disibukkan oleh tugas akhir kuliah mereka. “Tadinya kami ingin sesuatu yang sangat eksperimental dan ingin merepresentasikan spirit anak Jogja sekarang. Tapi akhirnya saya bilang pada mereka kalau kami tidak mungkin melakukannya karena waktu pameran tidak mungkin diundur. Alhasil, jadi tidak seheboh yang kami bayangkan,” Farah mengenang.

Sebagai seorang kurator, Farah menganggap gagasan adalah hal paling utama yang harus dimunculkan, dan juga dipertanggungjawabkan. Itu sebabnya, ia sangat peduli pada soal penyebutan dirinya dalam sebuah pameran. “Saya, hanya menyebut diri saya sebagai kurator kalau konsep pameran itu muncul dari saya atau bisa juga idenya muncul dari seniman, tapi saya benar-benar mengikuti proses berkaryanya sejak awal, seperti waktu saya membantu pameran Angki Purbandono di Biasa Artspace tahun lalu,” ungkapnya. Akan berbeda keadaannya jika ia baru terlibat belakangan dan hanya membuat tulisan tentang pameran tersebut. “Misalnya saat saya membantu pameran Teddy dan Bob Sick. Saya hanya menyebut diri saya sebagai penulis karena tidak terlibat sama sekali dalam proses kreatifnya,” ia menjelaskan.

Bagi Farah, kerja kurasi menjadi sah hanya ketika ia juga memiliki otoritas untuk menentukan pesan. Soal ini bukan tanpa alasan. Ia tak mau terjebak kerancuan istilah dan mengambil tanggung jawab yang tak seharusnya ia pikul. Seperti juga Inda, ia berpendirian bahwa tidak semua penulis yang membahas sebuah pameran di dalam katalog bertindak sebagai kurator pameran itu. Oleh karenanya, penulis tidak bertanggung jawab akan konsep sebuah pameran, karena ia hanya membuat semacam review, merespons apa yang terlihat, bukan menyampaikan sebuah pesan. “Kalau saya mengkurasi pameran, saya punya ide dan mengajak mereka berkarya atas konsep yang saya buat. Kalau itu, silakan tanya apa yang ingin saya ungkapkan,” kata Farah yang senang dengan perkembangan seniman sekarang yang umumnya sudah matang secara konsep.

Inda C. Noerhadi

Kurator Galeri Nasional

Di antara deretan laki-laki yang menjadi kurator di Galeri Nasional (Galnas) Jakarta, terdapat satu perempuan yang tak asing bagi publik seni, Inda C. Noerhadi. Bersama Rizki A. Zaelani, Agus Burhan, dan mendiang Maman Noor, pada 2003 ia diangkat menjadi tim kurator. Namun jauh sebelum itu, ia sudah menjalani kerja kurator saat Galeri Cemara 6 didirikan pada 1993. “Karena harus mempersiapkan pameran, mau tidak mau saya terlibat banyak dalam pemilihan karya Mochtar Apin dan Salim yang digelar untuk meresmikan galeri. Diskusi dengan Mochtar yang terjadi secara intensif saat itu, tanpa saya sadari melibatkan saya pada kerja kurator, misalnya menentukan fokus pameran, diskusi dengan seniman, dan sebagainya. Saat itu, belum banyak orang yang menjadi kurator. Baru ada nama seperti Jim Supangkat, Asikin Hasan, dan beberapa lainnya,” kenang Inda.

Sambil terus mengasah kematangannya dalam pengelolaan galeri, perempuan pelukis ini juga terus melakukan kerja kuratorial, bersinergi dengan kurator lain. “Pada 1998, atas anjuran Jim Supangkat, saya mengikuti workshop kurator yang pertama kalinya diadakan Japan Foundation bekerjasama dengan Departemen Pendidikan. Pada saat bersamaan, saya juga sedang sibuk menyiapkan pameran Galeri Cemara 6 yang diadakan di Vatikan, berjudul Woman in the Realm of Spirituality yang diikuti para perempuan perupa,” kisahnya. Sepuluh peserta dari workshop itu dikirim ke Jepang, termasuk Inda. Perjalanannya ke sana memberi banyak masukan pada pemahamannya tentang kerja kurasi. “Di sana, kami berkeliling ke berbagai museum untuk melakukan studi banding, mulai dari melihat koleksi, berdiskusi dengan para kurator dan kepala museum, hingga melihat loading barang,” kisah Inda.

Menurut Inda yang menyelesaikan pendidikan Sejarah Seni di University of Pittsburgh itu, ada perbedaan mendasar antara pemahaman kurator di luar negeri dengan di Indonesia. “Di sana, kurator adalah penanggung jawab koleksi museum. Mereka yang tahu soal asal-usul dan segala hal tentang sebuah karya termasuk kedudukannya dalam sejarah seni rupa. Kerjanya lebih banyak berhubungan dengan arkeologi. Karya seni dalam konteks itu jadi mirip dengan artefak,” Inda menjelaskan. Kerja kurator yang juga ia pahami adalah sebagai kritikus seni yang menulis, menggali problem, dan presentasi yang disuguhkan oleh seniman. “Tapi mungkin akhirnya kerja kritikus seni tidak populer lagi karena orang malas membaca kritik seni. Maka pergeseran itu mulai terjadi. Kurator lebih populer dalam konteks sebagai pengesah pameran. Karena pameran kalau tidak ada kurator dianggap tidak seru, tidak berbobot. Itu kecenderungan yang terjadi sekarang dan menurut saya, ini membahayakan,” katanya.

Kekhawatiran Inda memang cukup beralasan. Sebab menurutnya, membuat kritik seni sebenarnya adalah bagian terbesar kerja seorang kurator. Dengan pola kerja seperti yang lazim dilakukan sekarang, Inda curiga akan terjadi degradasi pemahaman profesi kurator hanya sebagai event organizer. “Istilah kurator mulai populer di sini setelah terbuka akses untuk berpameran ke dunia internasional. Perupa-perupa kita banyak peluang pameran ke luar negeri, dan kebutuhan adanya orang yang bisa menjelaskan konsep dan pesan karya serta persoalan seni di baliknya menjadi penting.“ Ini, menurut Inda, menjadikan kurator mempunyai otoritas cukup tinggi dalam percaturan seni rupa. “Ketika kita bicara dalam konteks pasar seni, kurator akhirnya menjadi seperti legitimasi dan penentu posisi seorang seniman dalam pasar,” katanya.

Kerja kurator sekarang ini juga menjadi sangat tergantung pada bagaimana sebuah institusi seni – seperti museum atau galeri – menempatkannya. “Ada yang terlibat penuh sejak urusan membuat konsep hingga memajang karya di ruang pamer, ada juga yang hanya mengantar pameran, dan sebenarnya ia sedang melakukan kritik seni,” Inda memaparkan. Itu sebabnya, salah besar jika mengartikan semua orang yang menulis kuratorial dalam katalog sebagai kurator. Selain memiliki porsi kerja yang berbeda, penulis pengantar tidak lantas menjadi kurator yang bertanggung jawab atas konsep pameran. Melihat perkembangan yang ada, Inda mengaku ingin sekali ada sebuah standarisasi yang mengatur rambu dan etika profesi ini. “Bukan untuk mengekang, tapi memberi arahan, supaya kurator tidak lantas sekadar menjadi humas seniman. Sebab sekarang ini, ada kecenderungan kurator memegang seniman tertentu sehingga nilai seniman terutama soal harga menjadi booming karena nama kuratornya,” katanya. Inda tidak menyalahkan hal itu, namun ia mengaku khawatir hal itu akan memengaruhi objektivitas kurator dan itu akan berimbas pula pada kualitas kurator itu sendiri.

Lebih dari satu dekade bergelut dalam dunia kurasi, Inda menangkap adanya kondisi tak seimbang antara posisi kurator dan dinamika pasar. “Kurator seperti terbanting oleh dinamika pasar yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Dia mau tidak mau dipaksa mengikuti arus besar pasar yang mengarah pada seni kontemporer. Asumsi bahwa seni kontemporer yang bagus, membuat orang tak lagi tertarik pada banyak karya bagus yang tidak masuk dalam seni kontemporer dan itu membuat kurator cenderung tak berani menyuguhkan sesuatu yang berada di luar seni kontemporer,” keluhnya. Inda lalu memberi contoh pameran Umi Dahlan, di Galeri Nasional. ”Meski Jim Supangkat mengatakan bahwa itu adalah pameran yang sangat penting, tetap saja pameran itu tidak menarik minat pencinta seni karena tidak termasuk aliran kontemporer. Sedangkan dalam seni kontemporer, yang akhirnya dibicarakan hanya sebatas besarnya perputaran uang yang terjadi di sana, tapi abai pada persoalan seberapa penting sebuah karya atau perupa dalam percaturan seni rupa,” ungkapnya prihatin.

Tapi Inda, menganggap, keleluasaan pilihan ada di tangan para kurator. Bidang seni rupa yang masih tidak terlalu diminati ini menurutnya masih membutuhkan lebih banyak orang dengan peluang eksplorasi yang juga masih sangat luas. “Semua kembali pada masing-masing kurator untuk memilih bagaimana cara mereka menggali kelebihan, kesungguhan menjalani profesi, dan sebagainya. Peluang di bidang ini sangat baik. Beberapa orang dulu selalu bilang pada saya, buat apa jadi perupa, karena sudah banyak. Lebih baik jadi kurator yang masih jarang.”

Mella Jaarsma

Kurator Rumah Seni Cemeti

Berbicara tentang seni rupa kontemporer Indonesia, kita pasti akan menyebut Yogyakarta sebagai salah satu kantung seni rupa. Dan membicarakan Yogyakarta, tak akan sah rasanya kalau tidak membicarakan Rumah Seni Cemeti yang bisa dibilang merupakan lokomotif pembawa perubahan dalam perkembangan seni rupa kontemporer di sana. Dan bicara tentang Cemeti, tak akan lengkap tanpa menyebut dua penggagasnya, suami istri Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo.

Perjalanan kedua orang itu dimulai dari kesadaran mereka akan ketiadaan ruang pamer di Yogyakarta. Mereka ingin membangun ruang pamer yang memiliki pusat informasi seni rupa serta ruang berdiskusi. “Pada era 1980-an, sudah banyak sekali mahasiswa di ISI dan seniman yang membuat karya menarik seperti Heri Dono atau Eddie Hara. Tapi biasanya, ketika mereka selesai kuliah, susah memamerkan karyanya di sini, apalagi untuk mencari uang. Mereka kebanyakan lalu pindah ke Bali atau Jakarta dan selalu hilang,” kenang Mella tentang Rumah Seni Cemeti yang kini menjadi satu institusi seni penting dalam percaturan seni rupa Indonesia..

Itu juga yang lantas menghubungkan perupa kelahiran Emmloord, Holland ini berkesplorasi dengan berbagai media dengan kerja kurasi. “Satu alasan kami membuat ruang pamer itu supaya orang bisa melihat perkembangan seni rupa di sini. Karena pada waktu itu yang tampil hanya galeri batik komersial yang benar-benar seperti toko. Kami ingin sesuatu yang berbeda yang lebih menampilkan kreativitas teman-teman,” katanya. Menurut Mella, di balik ide pembukaan galeri itu, ada kerja yang terfokus pada bagaimana mengedukasi masyarakat agar bisa mengapresiasi seni. Ia lalu terlibat dalam penentuan, siapa saja seniman yang akan ditampilkan di galeri yang berawal dari ruang tamu sebuah rumah di daerah Keraton yang berukuran 4X7 meter. “Dari ruang itu, kami mengembangkan visi yang lebih luas,” kata Mella yang selalu menyebut dirinya sebagai kami, ketimbang saya.

Dulu, ia mengenang, karena keterbatasan ruang yang ada, hanya pameran tunggal yang bisa digelar dengan jumlah karya yang tergantung pada ukuran karya tersebut. “Kalau seniman membawa lukisan kecil, yang dipamerkan bisa banyak. Tapi kalau ukurannya lumayan besar, hanya beberapa saja. Ya, apa yang bisa diharapkann dari dinding di ruangan seluas 4X7 meter, yang masih pula dipotong pintu dan jendela,” tukasnya sambil tertawa. Sejak awal, Mella sebenarnya telah melakukan kerja kurasi di Cemeti. “Tapi pada waktu itu kata kurator belum dikenal. Bahkan istilah contemporary art saja belum terdengar, baru ada modern art,” katanya menjelaskan. Mengandalkan kesenimanannya, Mella dan Nindityo melakukan pengamatan, penilaian, dan pemilihan seniman untuk diajak berpameran di ruang rupa mereka.

“Kalau kami dengar ada teman yang punya karya menarik, kami undang mereka untuk berpameran di Cemeti. Lama-lama, kami memang mengkurasi pameran. Tapi tidak selalu saya dan suami yang melakukan. Kami juga sering mengundang kurator untuk mengkurasi pameran atau bisa juga senimannya yang memilih kuratornya sendiri,” ungkapnya. Sejauh pengamatan dan pengalamannya, Mella mengaku, ada banyak fungsi yang harus dijalani oleh seorang kurator. “Dalam kancah seni rupa Indonesia, mungkin bisa juga dibilang kurator ini satu profesi yang tidak begitu jelas kerjanya,” kata Mella yang hanya setahun saja berkuliah di Institut Seni Indonesia. Ia memberikan sinyalemen, telah terjadi kerancuan yang acap terjadi dalam mendefinisikan kurator. “Kadang-kadang hanya menulis satu artikel dalam katalog sudah disebut kurator. Menurut saya, kurator harusnya lebih mengikuti perkembangan seni rupa seorang seniman. Jadi bukan hanya memikirkan tema, mengundang seniman dan menulis kuratorial, tapi juga harus melakukan survei mendalam tentang perkembangan seorang seniman,” katanya.

Namun Mella merasa, hal penting itu kerap diabaikan oleh beberapa orang yang menyebut diri sebagai kurator. “Kadang-kadang kurator sama sekali tidak turun langsung ke lapangan untuk mengikuti proses kreatif yang dialami seniman dan hanya mengambil teori dari berbagai buku,” ujarnya gusar. Padahal, ia melihat, upaya itu penting dilakukan dan harus dilihat sebagai sebuah riset terhadap perkembangan seniman. Itu sebabnya, Mella melakukan aturan itu secara ketat di Cemeti. Ketika ia mengundang seorang seniman untuk berpameran, itu selalu terjadi setelah beberapa lama ia menjalin hubungan dan melewati banyak sesi diskusi. “Jarang sekali kami langsung mengundang seniman di saat pertama kami melihat karyanya. Pasti semua melalui proses. Biasanya kami datang ke studionya, ngobrol, melihat karya lama dan membandingkannya dengan perkembangan karyanya yang sudah kami amati,” Mella memaparkan.

Untuk kerja kurasinya, Mella memang tak pernah mengabaikan hal itu. Baginya, survei dan membangun hubungan personal dengan seniman sama pentingnya, karena karena dari situ ia akan bisa melihat sikap, cara berpikir, dan bagaimana konsep di belakang karya seniman tersebut. “Saya jarang sekali berangkat dari objek visualnya saja,” katanya. Itu ia lakukan karena pameran baginya bukan sekadar bertujuan menjual karya, tapi lebih pada keinginan untuk mencatat perkembangan artistik setiap seniman yang ditampilkan. “Kami ingin bisa memberi sesuatu yang terus bisa diingat, membawa orang pada sesuatu. Bukan sekadar membuat objek yang indah, nikmati sebentar dan selesai,” katanya. Itu sebabnya, konsistensi seorang seniman menjadi indikasi penting pula dalam pengamatan Mella. “Tapi ini juga akan menunjukkan tingkat keseriusan seorang kurator. Apakah dia benar-benar melakukan riset yang serius atau hanya sekadarnya saja dan mengundang seniman hanya karena alasan nama besar atau karena karyanya pasti laku dijual,” paparnya dengan kritis.

Namun, kendati begitu tegas dalam soal pengamatan, Mella mengaku menerapkan litasi waktu yang relatif untuk setiap seniman. “Kadang-kadang bisa agak cepat, kalau dibantu rekomendasi untuk mengamati karya seorang seniman dan atau saya melihat karya menariknya di sebuah pameran. Tapi bisa juga prosesnya lebih lama, bisa mencapai setahun sampai dua tahun setelah pengamatan, kami baru berani mengajak seorang seniman berpameran,” ungkapnya. Buat Mella, referensi memang juga hal yang tak bisa diabaikan dalam proses pengamatan. “Itu sebabnya saya berusaha selalu aktif datang ke pameran di tempat lain, browsing internet, dan sebagainya. Tapi sekarang begitu banyak pameran, tidak sanggup juga mendatanginya semua,” cetusnya sambil tertawa.

Dengan usia yang terbilang panjang dan menjadi saksi lahirnya aliran kontemporer dalam seni rupa Indonesia, tak pelak banyak seniman besar saat ini yang pernah menjadi ‘anak asuh’ Mella dan Cemeti. Tapi, kendati lebih dari 30 seniman kontemporer yang 'dihasilkannya', Mella dengan rendah hati menolak sebutan sebagai ‘pengorbit’ seniman. “Tidak adil kalau dibilang seperti itu. Karena kemajuan seniman pun tergantung cara mereka membangun jejaring. Kami membantu mereka awal kariernya dengan coba mencarikan mereka residensi di luar negeri, mempromosikan mereka ikut di biennale dan triennale di luar negeri. Karena pada saat itu, kurator dan kolektor Indonesia juga belum terlalu mengikuti perkembangan seni kontemporer di sini.” ungkapnya.

Sebagai kurator yang juga seniman, Mella punya indikasi sendiri tentang kerja kurasi. Menurutnya, secara ideal, kurator harus paham benar perkembangan seniman yang dia kurasi, bukan hanya dari baca dan berbincang, tapi juga bisa mengupas dan melihatnya dalam konteks besar seni rupa. “Kurator juga harus bisa menulis. Itu sebabnya, saya sebenarnya tidak berani menyebut diri saya kurator, karena meski mengkurasi pameran, saya merasa tidak pandai menulis,” cetussnya sambil tergelak. Mengapa menulis menjadi indikasi penting? “Karena seorang kurator harus bisa menjelaskan pada khalayak tentang kenapa karya seorang seniman menjadi penting dengan bahasa yang mudah dipahami dan diterima lingkup yang lebih luas,” katanya berteori. “Tak hanya bagus,” lanjutnya, “Tulisannya juga harus analitis. Kurator juga sebaiknya pandai berbahasa Inggris, karena ini penting untuk membuka jejaring yang lebih luas dan tidak hanya berkutat dengan perkembangan seni rupa local,” tandasnya. Satu hal yang tak boleh absen dari seorang kurator, menurut Mella, adalah memiliki visi khusus, “Kalau tidak punya visi, bagaimana dia bisa mengambil posisi? Dan pilihan visi itu boleh berbeda dengan orang lain. Dia harus ambil sikap yang jelas,” tandasnya tegas. (Indah Ariani) Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Dany David, Fotografer: Suryo Tanggono, Ferdy, Busana: Rias Wajah& Rambut Alia Swastika:Aries, Lokasi: Museum Akili, Galeri Nasional, Rumah Seni Cemeti, IVAA