Selasa, 01 Juni 2010

MENJARING BINTANG SENI


Sebagai salah satu lokomotif seni rupa Indonesia, Edwin’s Gallery merasa perlu melakukan pengamatan terhadap seniman-seniman muda yang muncul ke jagat seni. Melalui sebuah program yang diberi nama Survey, Edwin melakukan pengamatan itu. “Ini bentuk apresiasi dan konsistensi kami yang ingin selalu menampilkan karya berkualitas dari seniman-seniman muda Indonesia,” kata Edwin dalam konferensi pers sebelum pameran itu dibuka. Sepuluh seniman terpilih mewakili 68 seniman yang ‘dijaring’ melalui program pertama yang diadakan pada 2008 silam menampilkan karya-karya mereka dalam pameran bersama bertajuk Survey 1.10. Sepuluh nama itu adalah A.T. Sitompul, Ayu Arista Murti, Beatrix Hendriani Kaswara, Gusmen Heriadi, I Made Widya Diputra, Made Wiguna, Valasara, R.E. Hartanto, Septian Harriyoga, Wedhar Riyadi, dan Yuli Prayitno. Karya seniman besar Francisco Giya berjudul The Sleep of Reason Produces Monster menjadi inspirasi yang diambil oleh Aminudin TH Siregar untuk pameran tersebut. Ucok, panggiln Aminudin, melihat adanya korelasi antara kondisi masyarakat Spanyol saat ketika karya-karya etsa Goya itu diciptakan di mana dikotomi antara kemewahan dan kemelaratan di tengah krisis ekonomi yang menjerat terpapar dengan nyata. “Ini saya pinjam sebagai metaphor untuk mewakili sejumlah hal yang berkaitan dengan kenyataan yang kita alami di tanah air sekarang ini,” ungkap Ucok. Menurutnya, pameran tersebut ia tujukan untuk membidik sisi kelam manusia –khususnya masyarakat Indonesia- dengan harapan bahwa pada suatu hari, para seniman bisa menjadi ‘pembunyi alarm’ yang secara signifikan mewarnai ranah social masyarakat Indonesia. Kendati mungkin terkesan terlalu heroic, tentu tak ada yang salah dengan tujuan ini. Sebab sejatinya, senia memang adalah cara untuk menuturkan sesuatu yang tak terkatakan. Kita tunggu saja sepakterjangnya. ISA, Foto: Dok. Edwin’s Gallery

Dari Montblanc untuk sang Maestro


Judith Jamison, direktur artistik di Alvin Alley American Dance Theater mendapat penghargaan Montblanc de la Culture Arts Patronage Award (MdlCAPA). Penghargaan ini diberikan 22 Maret silam di The Joan Weill Center for Dance New York. Judith, koreografer senior asal Philadelphia yang telah puluhan tahun malang melintang di jagad tari ini memulai karier sebagai penari bersama American Ballet Theater pada 1964. Mendiang Alvin Alley, orang yang berjasa besar dalam karier koreografi Judith, melihat bakat besar Judith dan menariknya bergabung dalam kelompok tari miliknya itu pada 1965. Sejak itu, Judith menjadi penari penting yang sering menjadi role dalam komposisi-komposisi tari Alley. Satu yang paling terkenal adalah penampilan solonya dalam komposisi berjudul Cry yang dipertunjukkan di banyak negara. Koreografer yang pernah meraih Emmy Award ini mendedikasikan diri lebih dari dua dekade sebagai Direktur Artistik di teater ternama di New York itu. Konsistensi itulah yang diapresiasi oleh Montblanc. Brand aksesori papan atas ini memang memberi dukungan besar pada mereka yang memberi energi bagi dunia seni dan kerja-kerja yang terjadi di dalamnya. Sejak diadakan pada 1992, ajang penghargaan ini pernah memberi apresiasi pada nama-nama besar antara lain pada John Skyes (2001), Rebecca Neuwirth (2006), Wynton Marsalis (2007), dan Susan Sarandon (2008). Selain memenangi hadiah sebesar 20.000 dolar yang akan digunakan untuk mengembangkan proyek-proyek seninya. Judith juga mendapat pena special yang diciptakan MOntblanc untuk para pemenang ajang tersebut yang mereka bernia nama Patron of the Arts Montblanc. Hadiah tersebut diserahkan oleh Lang Lang, yang menjadi ketua Montblanc Cultural Foundation. (ISA), Foto: Dok. Montblanc

MERAYAKAN NYERI DI LAMA SABAKHTANI CLUB




Apa yang terpikir ketika Anda mendengar kata club? Kesenangan? Kesegaran? Di “club” yang ini, Anda akan menemukan sesuatu yang berbeda.

Di sini, kesenangan dan kesegaran memang diperoleh dengan cara berbeda. Tidak lewat bingar musik atau beraneka jenis alat gimnastik. Melainkan datang dari beragam kengerian, rasa nyeri, dan permenungan tentang penderitaan. Memang, derita dan rasa sakit bukan sesuatu yang layak dirayakan. Namun, di tangan Christine Ay Tjoe dan Deden Sambas, dua hal itu diramu jadi pertunjukan menarik. Setidaknya itu yang mereka hadirkan dalam pameran bertajuk Lama Sabakhtani Club, Ay Tjoe Christine in collaboration with Deden Sambas yang digelar sejak 16 April hingga 2 Mei 2010 silam di Galeri Lawangwangi, Bandung. Mengapa Lama Sabakhtani? “Temanya memang berangkat dari ucapan terkenal Isa ketika akan disalib, Eloi, Eloi, lama sabakhtani. Tapi pameran ini tidak berhenti pada kalimat itu sebagai teks keagamaan. Ada yang lebih luas dari itu, tentang keadaan sekarat dan tragedy yang sering terjadi dalam hidup manusia. Teks itu memuat sesuatu yang universal,” ungkap Hendro Wiyanto, kurator pameran, ketika kami duduk menghadapi sebuah guilotin(mesin pemenggal kepala) yang menjadi ‘diva’ dalam pameran itu.

Di letakkan di ruang tengah pameran, guilotin berukuran empat meter itu memang mengirimkan cekam yang dalam. Bentuk karya yang diberi tajuk Lama Sabakhtani #01 itu demikian kokoh, menghadirkan ngeri karena mengingatkan kita pada proses pemenggalan kepala yang biasa ada di film-fil tentang abad pertengahan. Dentuman pisau-pisaunya yang meluncur tanpa ampun, pasti menelan jantung siapa saja melompat karena suaranya. Tali-tali baja yang digayuti bola-bola kuningan bergerak menarik naik tiga pisau baja yang ada di mesin itu. Perlahan, tanpa suara pisau-pisau itu mengudara. Hening yang asing itu lantas pecah oleh dentuman, bunyi hempasan pisau. Satu, dua, tiga. Cekaman sirna, menyisakan kejut yang nyata. “Memang kesan mencekam itu yang ingin dihadirkan oleh Christine dan Deden. Awalnya mereka menggunakan mesin tenun untuk menghasilkan suara. Tapi kesan yang diinginkan kurang maksimal didapat. Lalu muncul ide untuk menggantinya dengan guilotin ini,” kata Hendro.

Antara Bunyi dan Sunyi
Guilotin itu tak sendirian. Ada dua instalasi lain yang mendampinginya berpameran. Lama Sabakhtani #2 berbentuk lilin terbalik yang ‘mengandung’ paku paku berbagai ukuran di dalamnya dan Lama Sabakhtani # 3, yang berupa sebuah mesin tulis manual yang tuts hurufnya telah ditelanjangi, siap mematuk jemari siapa saja yang menyentuhnya. Meski tak menimbulkan kesan sedramatis saudara pertamanya, kedua karya ini tetap saja menarik Paku yang tertancap di tubuh lilin berdiamter 12 cm dengan panjang 170 cm, adalah idiom rasa sakit yang menjadi tema utama pameran ini. Sebagai benda asing, tentu tak hanya sakit yang terasa oleh lilin itu, tapi juga keinginan untuk menolak unsure tak sejenis yang ditanam paksa dalam tubuhnya. “Ay Tjoe piawai sekali membahasakan sesuatu yang menakutkan dengan sangat puitis hingga di satu titik, ketakutan itu berubah sekaligus jadi sesuatu yang menyenangkan,” Hendro mengungkapkan.

Kurator ini menganggap Lama Sabakhtani #2 memiliki efek yang demikian karena citra tragis yang diwakili oleh kehancuran, kerapuhan, juga kemusnahan sebuah bentuk yang diperlihatkannya. Patri yang memanasi lilin, memang membuatnya meleleh hingga paku-paku itu jatuh satu persatu, menimbulkan ketukan yang mengingatkan kita pada dentum guilotin, tentu dalam skala kekuatan suara yang berkali-kali lebih rendah. Sayangnya, tak semua paku-paku itu jatuh sesuai scenario, hingga ada beberapa peluang ketukan yang gagal terjadi. Untung saja, visualisasi pembakaran lilin itu demikian menarik hingga ada substitusi kesan yang membuat kekurangan itu tak jadi terlalu mengganggu.

Lama Sabakhtani #3 mungkin adalah instalasi yang dari segi ukuran terbilang paling mungil. Tapi Ay Tjoe dan Deden berhasil membuatnya punya daya tarik yang tak kalah besar dari dua instalasi lainnya. Mengambil konsep mirip karya yang mereka tampilkan di Art Hongkong (2009) dan Art Paris (2010) berjudul Panorama without Distance, karya ini menjadi menarik karena teka-teki yang tersimpan dalam tutsnya yang menyakiti itu. Para pengunjung pameran senang bermain-main mencari bilah besi mana yang mengantar mereka pada bunyi atau pada sepi. Mesin tulis itu memang terhubung pada kotak musik yang akan berbunyi atau berhenti manakala orang menekan tombol yang tepat. “Kegilaan ide yang ada dalam pameran ini memang menarik,” menurut Hendro.

Bunyi dan suara sepertinya memang menjadi hal penting dalam pameran ini. Ay Tjoe yang datang dengan kegilaan ide itu, bertemu Deden Sambas yang disebut oleh hendro sebagai perupa pelaksana yang cermat untuk penyelesaian karya-karya trimatra Ay Tjoe. “Sebenarnya tak berlebihan jika mengatakan Deden adalah arsitek dari benda-benda aneh tersebut. Lagi pula, memang ketertarikan Ay Tjoe pada Deden disebabkan oleh kepekaannya membangun imaji melalui bebunyian, juga keterampilannya merakit benda-benda untuk kebutuhan itu,” kata Hendro lagi.

Meretas Berbagai Batas
Ditanya pendapatnya tentang karya-karya yang ia tampilkan, Ay Tjoe mengaku bahwa sesungguhnya ia mencoba mengisahkan kembali rasa sakit yang dialami Kristus dengan cara yang gembira. Lama Sabakhtani, ia pahami tak lagi semata hanya sebagai sebuah teriak putus asa, namun sesungguhnya adalah keintiman antara penyeru dan yang diseru. Ada keintiman yang membungkus kesakitan. Ay Tjoe juga seperti ingin melebarkan permasalahan yang terkandung dalam seruan itu yang sering dianggap sebagai milik penganut Kristiani menjadi sesuatu yang lebih universal lewat ide tentang rasa sakit yang bisa dialami siapa saja. “Konteks kalimat ini pantas untuk diperbarui secara spirit. Kata Club di belakang Lama Sabakhtani saya pakai supaya bisa memuncakkan, dan menegaskan hubungan intim antara pribadi manusia dan Penciptanya yang luar biasa menggembirakan,” kata Ay Tjoe.

Maka tak heran jika simbol-simbol yang ia gunakan lantas beranjak dari sekadar salib, menjadi banyak simbol universal seperti guilotin, mesin tulis dan sebagainya. Misalnya saja, Ay Tjoe mengadopsi konsep manusia menurut Marx dan bahkan memakai lajur dan baris matematika untuk menyampaikan pesannya. Hal ini muncul dalam karya berjudul Plat Hitam #01, #02, dan #03. Hanya berupa torehan jarum besi di atas plat tembaga yang lantas dilaburi tinta etsa berwarna putih. Ay Tjoe dan Deden salin menuliskan inspirasi mereka sepanjang proses persiapan pameran ini.

Maka muncullah ha-hall, nama, dan ide-ide beraneka rupa. Contohnya saja Doa Bapa Kami yang ditulis dalam kode rahasia yang tiap katanya diwakili oleh tiga komposisi angka, lajur dan baris. Penulisan kode ini menurut Ay Tjoe ia pelajari dari sebuah film tentang gerakan pemberontak di Jerman yang menentang keputusan pemerintahnya mendukung Amerika memerangi Vietnam. Lalu mengapa Ay Tjoe merasa harus berdoa secara rahasia, meski hubungan dengan Tuhan bukanlah sesuatu yang tabu? “Karena tak semua orang bisa berdoa pada Tuhannya dengan cara yang sangat intim. Simbol dan rahasia akan membuat saat berdoa terasa memiliki kualitas yang lebih kental karena ia menjadi sebuah momen personal,” katanya.

Ia juga memindahkan penggalan teks Shakespeare dalam Timon of Athens ke dalam platnya. Teks yang berisi banyak sekali paradoks dan pertanyaan seperti yang biasa ia sematkan ke dalam karyanya. “Emas? Kuning, gemerlap,. Emas yang berharga? Bukan, dewa-dewa, aku pecandu yang malas,. Akar-akar. Kamu membersihkan surga?! Maka banyak yang akan membuat hitam putih kesalahan, keadilan, salah benar, jahat mulia, tua muda, pengecut berani. Demikian.” Maka paradoks itu memang sempurna muncul sebagai pernyataan. Hal lain yang juga menarik adalah melihat bagaimana symbol dua agama, Kristen dan Islam, yang dianut Ay Tjoe dan Deden berdampingan secara harmonis dalam karya-karya tersebut. Dalam plat yang berisi ucapan terima kasih, Deden menyebut Khidr, orang suci yang menjadi guru Nabi Musa dan memiliki kisah menarik dalam Al Quran, sebagai salah satu inspirasinya. Simbol muslim juga terlihat pada karya berjudul Tool Box yang masih mengambil bunyi sebagai pemikatnya. “Ketukan satu-satu ini mengingatkan kita pada dzikir yang teratrur, dan meditatif, ” Deden menjelaskan.

Begitu pun karya dwimatra lainnya yang berupa lukisan khas Ay Tjoe. Darah dan luka dielaborasinya menjadi sebuah kisah yang indah, kendati miris dan nyeri tak bisa dienyahkan. Cekam yang datang bisa dientaskan menjadi keriaan lewat pengalaman yang membawa semua orang ingin bermain-main dengan nyeri dan rasa sakit, tanpa sedikit pun melontarkan keluhan. Kolaborasi simbol yang begitu membaur pada akhirnya juga memang menisbikan perbedaan yang hamper selalu mengemuka ketika banyak orang bicara tentang agama. Kendati bermula dari sebuah teks yang kental mengandung muatan agama, Lama Sabakhtani Club berhasil melintasi barikade perbedaan yang acap membelenggu itu. Jadi, mari kita rayakan nyeri dan luka bersama. (Indah S. Ariani), Foto: ISA

MUARA CINTA ANDONOWATI


Pada sains dan seni, cinta perempuan ini bermuara. Ia adopsi mereka jadi anak-anaknya.

Islamic Art Fair 2009 di Pacific Place Jakarta. Seorang perempuan berambut pendek menyambut dengan senyum ramah pengunjung yang memasuki area pameran. Seorang teman kurator memperkenalkan perempuan itu. “Saya dari ArtSociates,” ujarnya ramah membuka perbincangan. Bicaranya tak terlalu banyak dan seringkali lugas, pendek-pendek tanpa basa basi berlebihan. Namun senyum malu-malu di wajahnya memancarkan ketulusan. Andonowati. Begitu nama yang tertera di kartu nama yang diangsurkannya.Usai berkeliling melihat karya-karya yang dipajang di seksi itu, ia kembali menghampiri. Kali ini dengan sebuah majalah seni rupa yang telah terbuka di tangannya. Ditunjukkannya sebuah halaman bergambar desain 3D sebuah proyek bernama Lawangwangi. “Kami sedang membangun pusat seni rupa dan sains di Bandung. Masih dalam tahap pembangunan. Rencananya akan kami resmikan Februari 2010 nanti,” katanya, tetap dengan kalimat pendek dan senyum yang sama. Nada bicaranya menarik. Intonasinya sering berakhir di nada tinggi. Ada antusiasme meluap di situ. Aan, begitu Andonowati biasa disapa, memang seperti tak pernah kehabisan energi.

Antusiasme itu tak hanya dia curahkan pada dunia seni rupa, tapi juga pada matematika, di mana cinta pertamanya tertambat. Associate professor di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memiliki semangat yang sama tinggi untuk mengembangkan sains yang ia tekuni dan seni yang ia cintai. Antusiasme yang membuncah tak terbendung ketika dengan suara bergetar ia memberi sambutan di malam peresmian Lawangwangi Art & Science Estate, di bulan Februari 2010 silam. Tempat yang menampung aktivitas Lab-Math Indonesia (LMI) dan ArtSociates (AS). Aan menyebut keduanya sebagai ‘anak-anak saya’. Ia memang memilih hidup berdua saja dengan suaminya yang juga seorang scientist berkebangsaan Belanda, E. (Branny) van Groesen. “Ada orang yang dikarunia anak untuk dibesarkan. Saya tidak punya. Jadi bagi saya, sains dan seni adalah anak-anak yang harus saya rawat dan jaga pertumbuhannya,” katanya di sebuah sore yang menggigil di Dago Giri, bukit di mana Lawangwangi berdiri.

Jendela besar yang membatasi ruang kerjanya dengan kesejukan dibiarkan terbuka. Busana Carmanita yang ia kenakan untuk pemotretan telah berganti lagi dengan pakaian kebesarannya: celana katun, tank top dilapisi kemeja berwarna gelap. Make up masih menempel di wajahnya. Aan terlihat berbeda dan sesekali tertawa malu mendengar godaan yang dilontarkan para asistennya di LMI dan AS. Sosok perempuan yang mendapat gelar Doktor Matematika Fisiknya dari McGill University, Montreal, Kanada ini jauh sekali dari kesan angker yang kerap diruapkan oleh para ilmuwan. Tak ada kesan dingin, apalagi arogan. Semuanya cair, hangat dan membumi di sekitarnya.

memberi garis tebal pada kemampuan Aan punya kemampuan ‘membumikan’ ilmu pengetahuan. “Matematika jadi terasa luwes di tangannya. Bu Aan selalu berusaha mencari cara supaya matematika yang sering dianggap rumit itu bisa berguna bagi kemaslahatan masyarakat,” kata Didit Adytia, Head of Laboratory di LMI. Lewat berbagai jurnal ilmiah, Aan mencoba menuangkan pemikirannya. Salah satu yang cukup penting adalah tulisannya mengenai gelombang ekstrem yang ia susun bersama suaminya yang juga professor Matematika dari University of Twente, Belanda, E. (Brenny) van Groesen dan dipublikasikan di Physics Letter, jurnal penting dalam ilmu pasti. Suami yang selalu mendukung apa pun langkah yang diambil Aan itu tak menutupi kekaguman dan penghargaannya pada istrinya. Binar kagum memancar dari mata Branny ketika membicarakan Aan. “Dia selalu ingin mendidik masyarakat. Ingin memberi sesuatu yang berguna,” kata Branny jujur. Pria Belanda yang telah sembilan tahun mendampingnya ini memandang Aan sebagai sosok yang mandiri dan tahu betul apa yang ingin diraihnya.

Perempuan yang menjadi anggota Asian Fluid Mechanics Committee ini adalah ‘ibu’ yang baik dan bertanggung jawab. Dhanny Irawan, staf AS mengaku menjadi saksi mata cinta Aan pada ‘anak-anak’nya. “Sepanjang usia AS yang berdiri sejak 2007, saya melihat itu.Bu Aan, misalnya, sampai merelakan rumah dan mobilnya dijual demi membiayai pembangunan Lawangwangi. Mungkin orang mengira dia dapat bantuan dari sana sini. Nyatanya, dia membangun ini seorang diri,” kata Dhanny. “Ada lagi hal lain yang lebih mudah kelihatan. Bu Aan lebih memikirkan seni ketimbang penampilan. Dia akan lebih memilih membeli karya seni ketimbang mobil baru yang sangat ia butuhkan,” kata Dhanny. Gairah besar untuk mengembangkan dunia seni rupa memang bergerak linear dengan totalitasnya berkutat dengan bidang keilmuan. Ia seperti ingin membuktikan bahwa dua hal itu berasal dari senyawa yang sama.

Meski banyak disikapi secara skeptis oleh para pengamat seni, Aan tak surut langkah. Ia terus saja berjalan konstan dengan apa yang telah ia canangkan. “Lawangwangi punya empat program tetap dari enam pameran yang kami gelar setiap tahun yakni, Bandung Art Award, From The Collectors, Islamic Art Award, dan Art Project,’ Aan menjelaskan. Di luar itu, ada beberapa pameran dan program khusus yang ia adakan. “Dua pameran lepas, seperti pameran kolaborasi Christine Ay Tjoe dan Deden Sambas yang baru lalu, juga residensi kolaborasi antara seniman dan ilmuwan. Dalam proyek pertama, kami mengirim Ay Tjoe untuk menjalani residensi di Belanda dan akan berkolaborasi dengan fisikawan Detlef Lohse sejak Mei lalu hingga Juli mendatang,” jelasnya.

Selain berbagai program seputar matematika dan seni, ia kini mulai berkonsentrasi pada micro education yang ia harap dapat diterapkan beberapa tahun ke depan. “Micro education will be my last venture. Ini upaya untuk menyadarkan masyarakat atas kapasitas mereka. Bukan hanya kapasitas positif, tapi juga negatif. Apa kelebihan dan kekurangan mereka. Kalau mereka sadar atas kapasitasnya, mereka akan bisa melakukan nilai tambah terhadap kapasitas merekaJadi dua anak saya ini harus tumbuh dulu,” katanya mantap.

Perbincangan bergulir pelan. Aan bukan orang yang pandai merangkai kata, kendati ia senang berbincang dan tak pelit bicara. Kalimat-kalimatnya selalu meluncur lugas, lurus tanpa renda-renda kata. Dengar saja kisah Aan tentang masa kecilnya di Magelang. Ia memulai kisah dari episode ketika sang bunda yang seorang guru kewalahan menghadapi Aan yang hiperaktif. Ia memutuskan mengirim putrinya saban malam ke rumah guru matematika di desanya sejak ia belum lagi berusia enam tahun. “Bukan karena ibu ingin saya pandai. Tapi karena dia tidak tahan dengan saya yang tidak bisa diam. Kalau saya di rumah seharian, dia akan pusing melihat tingkah saya.Alhasil saya harus les matematika tiga jam setiap malam,” katanya.

Anak ketiga dari enam bersaudara ini menggambarkan dirinya sebagai anak yang susah diatur. “Kalau disuruh A, maka yang saya lakukan adalah tidak A. Disuruh duduk diam, maka sudah pasti saya akan berlari-lari dan membuat keributan di rumah.,” kenangnya sambil tertawa. Hanya pergi ke rumah guru matematikanya saja yang ia turuti dengan patuh dan senang hati. “Soalnya saya bisa beradu pintar dengan anak lelaki guru saya. Senangnya luar biasa kalau bisa keluar sebagai pemenang. Hal yang membuat saya suka berada di sana barangkali karena saya ingin sekali mengalahkannya,” kata Aan tetawa.

Aan lantas tumbuh menjadi anak yang pandai dan menonjol secara akademis. Sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), ia selalu jadi juara kelas. “Saya tidak jadi juara kelas adalah ketika kelas 4 SD, ketika Ibu menjadi wali kelas saya.,” Aan mengenang. Meningkat ke sekolah menengah, Aan menjadi anak yang tak hanya cerdas, tapi juga kritis terhadap sekitar. Kesadarannya tentang perbedaan kelas muncul ketika ia dihadapkan pada begitu banyak kelompok di sekolahnya. “Ada kelompok orang kaya, kelompok anak cantik, kelompok siswa pintar dan kelompok murid miskin. Saya memilih masuk ke kelompok terakhir,” katanya. Dengan kecerdasan yang dimiliki, tentu mudah sekali bagi Aan bergabung dengan kelompok siswa elit di sekolahnya. Namun dengan sadar Aan menentukan keberpihakannya pada kelompok marjinal.

“Berada di kelompok marjinal itu menyenangkan karena khalayaknya banyak. Mereka juga mudah menerima pendapat dan selalu memberi dukungan penuh,” katanya. Tingkat kepedulian kelompok itu menurut Aan juga sangat tinggi. “Saya merasa lebih disayang dan diperhatikan. Misalnya saja kalau saya bertengkar dengan anak lain. Mereka akan dengan total membantu dan melindungi. Itu lebih dari sekadar penghargaan,” katanya. Aan merasakan benar bahwa pembelaan yang diberikan teman-temannya tidak lagi berangkat dari kepentingan diri sendiri. “Kelompok itu biasanya merasa tak punya apa-apa lagi yang khawatir akan hilang. Mereka tidak punya apa-apa selain harga diri. Jadi kalau mereka melakukan pembelaan, tentu lebih murni ketimbang kelompok lain,” katanya.

Selulus SMP, Aan meninggalkan kampungnya untuk melanjutkan sekolah di Yogyakarta. “Sebenarnya Ibu menyuruh saya sekolah di Magelang. Tapi saya tidak mendaftar ke sekolah mana pun di Magelang. Tapi diam-diam, saya mendaftar di Yogyakarta,” katanya. Di sana, awalnya, Aan mondok di tempat kos yang bagus. “Harga sewanya 30.000 ribu sebulan. Tapi setelah setahun, ibu merasa keberatan karena memang kami bukan dari keluarga mampu. Beliau meminta saya pindah ke tempat kos yang lebih murah. Lalu saya pindah ke sebuah rumah gubuk di daerah Kauman yang saya sewa dengan harga 2000 rupiah dan selalu kebanjiran kala hujan,” kata Aan. Ia mengaku tak kecil hati dengan keadaan itu. “Waktu SMA saya punya sahabat bernama Ratna Dewi. Dia dari keluarga yang sangat berada. Kalau hari Sabtu dan Minggu, dia sering mengajak saya menginap di rumahnya. Dari kamar yang jelek sekali, setiap akhir pekan saya pindah ke kamar yang mewah sekali. Di dalamnya ada grand piano, ada sound system yang bagus, dan pembantu khusus. Rumahnya berlantai empat dan luasnya minta ampun. Kehidupan saya dan Ratna seperti bumi dan langit. Tapi perbedaan itu tidak membuat saya minder,” katanya menerawang. Aan memang tak perlu minder. Ia hanya perlu terus melangkah tanpa henti menapaki jalan yang akan membawanya pada pencapaian untuk merawat anak-anak hatinya dengan ilmu dan cinta. (Indah S. Ariani), Fotografer: Didi, Kontiki Photography, Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Busana: Biasa, Rias Wjah dan Rambut: Diana Rose, Lokasi: Lawangwangi Art & Science Estate