Senin, 30 September 2013

INSPIRASI SEHAT SEIMBANG DOKTER TAN



Ia buktikan komitmen untuk menjadikan pasiennya sebagai subyek lewat pemberdayaan pada kekukuhan sikapnya. Mimpinya, Indonesia sehat lewat makanan sehat seimbang.


Langit siang yang biru cerah menaungi komplek Perkantoran CBD BSD City Serpong di Tangerang Selatan. Di depan salah satu ruko di Blok G, dua bilah besi melintang di tangga di depan pintu masuk yang digunakan sebagai jalur kursi roda untuk mereka yang karena kondisi kesehatannya harus memakai alat bantu itu. Di atas pintu masuk, terdapat dua papan nama yang pada tubuhnya masing-masing tertulis: Dr. Tan Wellbeing Clinics dan Remanlay Special Need’s Health. Di situlah, Dr. Tan Shot Yen membagi ilmu –ya, ilmu, bukan sekadar resep obat- pada pasien-pasiennya. 
Klinik itu sederhana saja. Layaknya ruang praktek dokter, putih melingkupi hampir seluruh bidang dinding dalam bangunan berlantai tiga itu. Di ruang tunggu yang jamnya menunjukkan angka 14.30 itu, telah ada beberapa pasien yang baru akan bertemu dokternya pada pukul 16.00, ketika waktu praktik dibuka. Di klinik itu, memang tak diterapkan nomor antrian. Pasiennya dengan sadar mengatur dan menempatkan diri pada urutan keberapa mereka bisa masuk ke ruang praktik. “Tak ada yang menyelak masuk meski kami tak punya nomor antrian,” kata salah satu pasien yang tengah menunggu di situ. Sedari ruang tunggu, atmosfer kasual sekaligus kritis telah dibangun.
Di belakang ruang tunggu yang hanya diisi kursi-kursi panjang yang menempel di dinding, ruang konsultasi Tan Shot Yen berada. Sebuah dipan untuk memeriksa pasien dipenuhi tumpukan dokumen. “Maaf ya ini sedang berantakan. Saya sedang membuat laporan untuk akreditasi ,” kata dokter bertubuh mungil itu bervolume suara tinggi itu dengan nada bersahabat.  Berbeda dari idealisasi sosok dokter yang konon selalu bertutur lemah lembut pada pasien-pasiennya, Tan Shot Yen yang biasa disapa dengan panggilan Dokter Tan itu bicara dalam volume suara maksimal seperti seorang soprano tengah menyanyikan aria. Cukup nyaring untuk bisa didengar di seluruh sudut ruangan itu pada pukul 14 siang yang terang dan mulai didatangi beberapa pasien yang baru akan ditemuinya pada pukul 16.
Intonasi suaranya berubah sesuai kebutuhan. Nada ramah bisa seketika berganti ketus manakala mendengar pasiennya melanggar komitmen untuk menerapkan pola makan sehat seimbang yang menjadi syarat kesehatan yang dicanangkan oleh Yen untuk pasien-pasiennya. Ia mengaku butuh kerjasama yang baik dari paseinnya untuk menata gaya hidupnya sendiri. “Karena saya ingin mengarahkan pasien-pasien saya pada pemberdayaan, dan tidak ingin meninabobokkan mereka dengan pola penyembuhan cepat (quick fix) yang banyak dipraktikkan dalam dunia kedokteran dewasa ini,” katanya. Nada suaranya masih sama, lugas dan lantang.
Shot Yen tak pernah main-main untuk urusan penerapan pola makan untuk memperbaiki kesehatan. Tak hanya pada pasein-pasein atau peserta seminarnya, ia juga menyampaikan soal itu lewat empat buku yang ia tulis yakni, Saya Pilih Sehat dan Sembuh, Resep Panjang Umur, Sehat dan Sembuh, Dari Mekanisasi dampai Medikalisasi Tubuh Holistik, dan Sehat Sejati yang Kodrati. Saat bicara tentang pola makan sehat dan seimbang, Shot Yen akan menjelma seorang guru killer yang siap menegur siapa saja –terutama pasien-pasiennya- yang tidak disiplin menerapkan ilmu yang mereka terima. “Sama seperti penyakit yang tidak datang secara tiba-tiba, kesehatan pun tidak akan bisa diperoleh dalam waktu seketika. Keduanya, amat bergantung pada pola makan dan gaya hidup seseorang. Jadi aneh sekali kalau orang datang ke dokter untuk mencari kesembuhan seakan-akan dokter adalah tukang sulap yang mengembalikan kesehatan yang dirusaknya bertahun-tahun dalam semalam,” katanya.
Ia tak ragu memarahi pasien yang tak disiplin. “Suami saya pernah diusir sama Dokter Tan karena tidak disiplin menjaga makanan hingga hipertensinya naik lagi,” Atiek Harman yang telah tujuh tahun menjadi pasien Shot Yen mengisahkan. Perempuan yang pertama kali mengetahui tentang Shot Yon lewat sebuah tayangan di televise berita swasta itu mengaku ia dan suaminya tak pernah terganggu dengan sikap dokternya yang kadang terlalu lugas. “Sebab meski sikapnya begitu, Dokter Tan sebenarnya orang yang sangat hangat dan selalu ingin berbagi pengetahuan apa pun yang ia miliki supaya pasiennya mempunyai pemahaman yang setara dan sama terbuka seperti dirinya. Pada paseien-pasiennya, ia sama sekali tak pelit ilmu. Ia  selalu mengajari pasiennya mengenali dan menghargai tubuh mereka,” kata Atiek.
Di kliniknya, Shot Yen memiliki banyak pasien loyal seperti Atiek. “Kebanyakan mereka yang sudah mengalami sendiri perbaikan kesehatannya setelah menerapkan pola makan sehat seimbang,” Veranita Dwiputri, pasien lain yang baru Maret 2013 lalu berkonsultasi pada Shot Yen. Perempuan ini mengidap diabetes dan kadar gula melampaui angka 500 yang mengantarnya ke klinik di BSD itu. “Untuk semua pasien yang baru pertama kali berkonsultasi, Dokter Tan selamlu membuat sesi gabungan di mana ia selama dua hingga tiga jam member kuliah tentang pola makan sehat seimbang,” katanya.  Menerapkan pola makan tersebut sehari setelah mengikuti sesi gabungan Shot Yen, Vera yang telah cukup lama bergantung pada obat-obat penurun kadar gula darah sempat panic ketika diminta menghentikan pemakaian obatnya seketika. “Tak sampai seminggu, gula darah saya turun ke angka 100 dan saya merasa lebih sehat karena berat badan saya turun,” kisah Vera. 
Berbeda dengan iklan bombastis klinik-klinik pengobatan yang marak di televisi, kisah-kisah  sukses pasien Shot Yen itu hanya bergulir serupa obrolan ringan penghalau bosan di ruang tunggu yang kemudian terbawa ke luar kliniknya dan menginspirasi mereka yang tengah sakit atau ingin menjaga kesehatannya. “Tetangga saya yang terkena diabetes stadium lanjut hingga harus terus mendapat suntikan insulin pun bisa sembuh mejalani pola makan yang sudah tujuh tahun saya terapkan,” kata Atiek. Informasi dan pengetahuan yang diberikan oleh Shot Yen nyata sekali menginspirasi pasien-pasien yang merasa memperoleh manfaat. “Tapi tidak sedikit juga yang mental dan tidak kembali karena merasa tidak nyaman dengan sikap keras dan gaya bicara Dokter Tan yang tanpa tedeng aling-aling,” Atiek mengatakan sambil tertawa. 
Menurut Shot Yen, seorang dokter seperti dirinya, memiliki tugas untuk membimbing pasien-pasiennya pulang kembali pada kesehatan kodratinya. “Dokter itu sesungguhnya adalah a lifetime coach. Sekarang ini, dengan derasnya informasi kesehatan yang bisa dengan mudah diperoleh di internet, sesungguhnya terjadi transformasi jabatan dalam dunia kedokteran.  Kedudukan seorang dokter terhadap pasiennya tidak lagi seperti dewa yang maha tahu melainkan sebagai pelatih yang berdiri di tepi lapangan pertandingan setelah ia mengajari pasiennya berbagai ilmu yang ia miliki tentang kesehatan,” katanya. Shot Yen menambahkan, tak cuma membantu menata hidup penderita untuk bisa menerima kenyataan ketika terjadi sesuatu yang tidak beres dalam kesehatannya, seorang dokter juga wajib menyadarkan pasiennya, kontribusi apa saja yang ia lakukan sehingga tubuhnya menjadi sakit, dan memberi tahu cara memperbaikinya.
Komunikasi, menurut perempuan yang lahir di Beijing pada September 1964 ini adalah salah satu alat utama yang harus digunakan oleh seorang dokter ketika menjalankan praktiknya. “Dokter itu tidak boleh malas bicara seperti orang yang sedang sakit gigi. Dokter itu bukan Cuma orang yang meresepkan obat,” kata Shot Yen. Kekukuhan pendapatnya itu membuat ia kerap dianggap sebagai dokter yang anti obat. “Ini yang selalu ingin saya luruskan. Saya sama sekali tidak anti obat. Saya hanya menolak pemakaian obat yang tidak rasional dengan tujuan menyembuhkan penyakit secara instan,” dengan tegas ia menukas. Pada pasiennya, Shot Yen memang nyaris tak pernah memberikan resep obat, melainkan memberikan pemahaman tentang pola makan sehat seimbang.  “Di Indonesia, banyak sekali terjadi kesalahpahaman mengenai makanan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Hanya Negara kita yang mengenal istilah Sembilan bahan pokok makanan atau sembako. Pola makan itu erat kaitannya dengan budaya,” katanya.
Ia selalu geram melihat kurangnya edukasi tentang kesehatan makanan dan pengelanan bahan pangan bagi masyarakat. Dalam pandangan Shot Yen, perlu keseriusan pemerintah untuk melakukan itu. “Mungkin hanya hanya butuh tiga instatsi kementrian pendidikan, kesehatan, dan agraria untuk duduk bersama membahas tentang kekayaan dan ketersediaan pangan serta bantuan media yang mau mendedikasikan satu saja halamannya seminggu sekali pada departemen agraria atau pertanian untuk mengulas tentang bahan pangan lokal dan cara mengolahnya dengan sehat untuk membuat masyarakat sehat,” katanya. Itu sebabnya, selain menulis buku, dokter yang menyandang master untuk ilmu filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini juga aktif menjadi pengajar dokter perusahaan di beberapa Badan Usaha Milik Negara dan perusahaan-perusahaan swasta.    
Berayahkan Tan Tjiauw Liat yang juga seorang dokter, Shot Yen merasa karakter, kekritisan, dan gairah besarnya untuk berbagi ilmu terbentuk oleh interaksinya dengan sang ayah. “Saya  bisa begini karena ayah yang menurut saya adalah seorang yang mendedikasikan usianya untuk ilmu. Beliau orang yang selalu tidak bisa terima sesuatu menjadi stagnan. Dalam kamus beliau, orang harus menjadi lebih baik terus menerus setiap hari. Kabar baiknya, ada yang terus menepuk bokong saya supaya tidak berhenti menjadi lebih baik,” katanya dengan suara yang melembut.  Di balik sikap tegasnya, dokter yang tengah menjalani doktoralnya dalam bidan Behavioral Nutrition di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini sejatinya menyimpan hati yang hangat.
Ia punya segudang cerita tentang manusia ia yang peroleh dari kamar praktiknya. “Jangan kira saya selalu meledak-ledak menguliahi pasien tentang pola makan dan kesehatan mereka. Saya menempatkan mereka sebagai manusia berdaya. Ada kalanya saya bicara blak-blakan, tapi ada pula kali di mana saya akhirnya hanya memeluk pasien perempuan saya karena memang hanya pelukan yang membuatnya sehat saat itu,” katanya dengan mata berkaca. Bahagia dan bangga sering membuncah di hatinya tiap kali melihat pasien-pasien yang dengan disiplin tinggi menerapkan pola makan sehat seimbang menunjukkan perkembangan kesehatan yang positif. “Saya ini kan hanya pelatih. Mereka yang bertanding memperjuangkan kesehatannya sendiri. Coba, apa ada alas an saya tidak bahagia punya klinik ini? Apa saya punya alas an untuk tidak bangga punya pasien yang sudah teredukasi, bisa menginspirasi dan menyampaikan kabar baik pada orang lain?” katanya dengan suara berselimut haru. Perbincangan dengan Shot Yen harus terhenti. Jam di ruang praktiknya menunjuk angka empat. Ruang tunggu telah penuh dan ia harus bertemu dengan pasien-pasien yang ia banggakan, yang juga begitu mencintai Dokter Tan. (Indah S. Ariani), Fotografer: Lufti Hamdi, Pengarah Gaya: Muntik Dyah, Busana: Ghea Panggabean, Rias Wajah dan Rambut: Arlene, Lokasi: Dr. Tan Wellbeing Clinics & Remanly Special Needs Health 

#Tulisan ini adalah versi unedited artikel tentang Dr. Tan Shot Yen dalam Profil Majalah Dewi edisi Juli 2013

5 komentar:

  1. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sekali dapat menghadiri ceramah kesehatan di kantor saya (PT Jasa Marga (Persero) Tbk) pada tanggal 19 November 2012, yang disampaikan oleh Dr, Tan Shot Yen. Setelah mendengarkan ceramahnya, hari itu juga sepulang dari kantor, saya langsung mempraktekkannya sampai dengan saat ini. Alhamdulillah setelah setahun berlalu, dan berdasarkan general chek up (yang setiap tahun diadakan oleh perusahaan), hasil bagus. Dokter yang memeriksa (RS.Eka Hospital BSD) sampai heran ketika melihat hasilnya bagus semua, apalagi dibandingkan dengan hasil general check up saya tahun sebelumnya. Pola Makan Sehat dan Seimbang ini juga diikuti oleh Suami dan kedua putri saya. Perusahaan saya pernah menghadirkan Dr.Tan untuk yang ke 2x nya, dan saat itu diminta untuk menyampaikan pengalaman saya (testimoni), namun sayang, karyawan di perusahaan banyak yang tidak kuat untuk menjalani "Makan Sehat Seimbang" sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Tan.
    Terima Kasih Dr.Tan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makan sehari2nya gimana mbak. Bisa minta wa nyaa

      Hapus
  2. Pemikirannya,konsepnya hampir sama dengan sinshe han 085210999495

    BalasHapus
  3. Pemikirannya,konsepnya hampir sama dengan sinshe han 085210999495

    BalasHapus