Selasa, 01 Desember 2009

CINTA MATI KOLEKTOR SENI

Di mata para kolektornya, seni tak berhenti pada titik investasi, melainkan pada cinta yang penuh apresiasi.

Apa arti seni tanpa apresiasi? Menjadi kolektor adalah satu dari sekian banyak cara mengapresiasi. Siapa pula yang bisa secara intens memberikan apresiasi kalau tak mengoleksi benda seni? Kolektor dan koleksi pada akhirnya memiliki interaksi personal yang acap tak terjamah oleh berbagai teori. Hubungan yang terjalin, acap kali melompat melebihi sekadar pembeli dan benda yang dibeli. Hati yang ikut bekerja, membuat seni tak berhenti pada titik di mana ia menjadi berharga sebagai investasi.

CHRISTINE SALIM
Sekitar satu dekade silam, saat kuliah di Los Angeles, Christine Salim jatuh cinta pada seni rupa. Waktu senggangnya, lebih sering ia gunakan untuk berkeliling berbagai galeri dan museum yang ada di sana. Kekagumannya pada lukisan sebenarnya telah tumbuh saat itu. “Cuma uang saku saya nggak cukup untuk membeli real paiting yang di Amerika harganya selangit,” kisahnya. Alhasil, ia hibur dirinya dengan mengoleksi litograf yang hingga akhir masa kuliahnya berjumlah cukup banyak. Keadaan itu membuatnya

Kapan mulai mengoleksi karya seni?
Sejak masih kuliah. Hanya saja, saat itu saya baru mampu beli litograf saja, karena harganya jauh lebih murah dari lukisan yang di Amerika harganya setinggi langit.

Apa yang dirasakan ketika mengamati karya seni yang Anda miliki?
Heran dan takjub sambil kepala saya tidak berhenti bertanya, “Kok bisa ya senimannya membuat karya sebagus ini?” Sebab, seringkali, sebuah lukisan atau obyek dating dari ide yang sangat sederhana, tapi dipresentasikan dalam bentuk yang menakjubkan. Selain persoalan teknis seperti itu, saya juga merasa sebuah tempat atau rumah akan menjadi lebih bernyawa dengan penyematan karya seni di dalamnya.

Bagaimana cara Anda menilai sebuah karya seni?
Saya selalu melandaskan penilaian pada pendapat pribadi. Kalau suka, saya akan beli. Jarang sekali saya membeli karya seni hanya berdasarkan keinginan untuk ikut arus, misalnya karena senimannya sedang naik daun dan karyanya pasti akan berharga mahal. Buat apa saya membeli mahal-mahal kalau setelah itu saya tidak bias menikmati?

Karya seperti apa yang menarik minat Anda?
Feminin dan cute. Saya suka sekali karya-karya seniman muda seperti Indie Guerillas, Radi Arwinda, Wedhar Riyadi karena karya mereka yang jenaka. Saya juga mengoleksi karya-karya feminin milik Bunga Jeruk, Ay Tjoe Christine, dan Ayu Arista. Koleksi saya memang kebanyakan kontemporer. Kalau dari old master, saya suka Hendra Gunawan karena cenderung feminin dengan warna-warni cerah.

Seberapa gigih Anda mengejar koleksi yang diincar?
Kalau sudah naksir satu karya dan tidak berhasil membeli, biasanya saya akan ikuti terus pergerakan karya tersebut. Kalau tidak berhasil membelinya di galeri, kadang-kadang saya dapat lewat lelang. Kepuasannya beda lho, mendapatkan karya dari lelang. Dulu, saat masih kuliah di LA dan

Kapan biasanya Anda punya waktu menikmati semua koleksi?
Secara reguler, saya merotasi koleksi. Waktunya bisa dua atau tiga minggu sekali, kadang juga sampai sebulan, tergantung keinginan. Menikmati koleksi, biasanya saya lakukan malam hari, saat sudah santai. Saya senang berkeliling rumah untuk mengamati dan sampai saat ini, masih mengagumi koleksi yang ada. Biasanya saat keliling itu saya terpikir untuk merotasi karya. Saya juga sering mengajak anak-anak berkeliling melihat lukisan dan patung serta instalasi. Begitu pun kalau ingin membeli, saya juga menanyakan pendapat mereka. Hitung-hitung melatih apresiasi mereka terhadap seni rupa. Foto: Ferdy Adrian Yulianto (Kencana Art Photography, Yogyakarta


AZIZAH MARZUKI-PAPADIMITROU
Dari mertua dan sang suami, ia belajar mengeja seni. Dari sebutir benih ketertarikan, Azizah melangkah pada ranah keterikatan yang terus saja berbuah subur, menumpuk berbagai manik, keramik, dan benda antik yang terus saja berebut ruang di apartemennya di bilangan Pakubuwono. Ia mengaku tak punya kata yang tepat untuk menjabarkan cintanya pada seni. “Ya, suka saja dan itu sulit dijelaskan,” katanya ringan.

Kapan dan kenapa Anda tertarik mengoleksi benda seni?
Sepuluh tahun lalu. Awalnya karena mengamati mertua dan suami yang suka mengoleksi lukisan dan benda seni lainnya. Tapi saya tidak terlalu suka lukisan karena mertua saya punya banyak sekali koleksi lukisan. Keterbatasan ruang di rumah juga membuat saya tidak terlalu tertarik pada lukisan.

Karya pertama yang Anda beli berdasarkan pilihan Anda?
Keramik. Untuk urusan memilih keramik dan benda antic berkualitas, saya belajar pada dokter Hardojo dan mertua. Lalu saya bergabung dengan Himpunan Keramik Indonesia. Koleksi saya teridiri dari keramik seperti guci dan piring-piring, juga lemari antic dan beads. Saya suka sekali menumpulkan manik-mani dan bola-bola batu yang sering saya buat jadi hiasan digabung dengan perak. Manik-manik yang saya kumpulkan, sebagian saya untai jadi kalung. BIasanya saya tambahkan emas atau perak.

Ke mana Anda biasanya ‘berburu’ koleksi antik?
Kalau sekarang, biasanya ada yang menawarkan pada saya. Tapi banyak juga yang saya dapatkan di balai lelang atau saat saya sedang jalan-jalan ke luar negeri. Seperti beads Afrika ini, saya dapatkan di Paris. Ada juga manik-manik saya yang berasal dari jaman Majapahit. Saya juga mengumpulkan gading gajah yang dulu dijadikan mas kawin.

Kenapa Anda suka manik, gading, keramik dan furniture antik?
Lucu saja. Manik-manik itu bentuknya bisa di olah jadi benda lain yang lebih artistik seperti jadi kalung atau hiasan meja. Lagi pula, untuk saya yang tinggal di apartemen, koleksi benda antik berukuran kecil jauh lebih memungkinkan karena tidak memerlukan ruang terlalu banyak dan bisa jadi bagian dari interior.

Setelah sepuluh tahun, berapa banyak koleksi yang sekarang Anda miliki?
Belum terlalu banyak, kok. Beli sedikit-sedikit saja.

Anda menyediakan waktu khusus untuk berburu?
Sambil jalan saja. Malah kalau sekarang, tukang antiknya yang telepon kalau sedang ada barang bagus. Kalau diladeni bisa sering. Tapi saya lihat-lihat dulu. Biasanya tiga bulan atau enam bulan sekali saya beli koleksi baru. Tapi sekarang ini, saya makin selektif. Kalau benar-benar bagus, baru saya beli.

Kepuasan apa yang Anda rasakan saat memiliki koleksi baru?
Mmmm… Senang tentu dan ada rasa excited. Walaupun kadang-kadang suami saya sering protes karena barang di apartemen kami makin bertambah, saya selalu berkelit dengan alasan, barang ini akan bisa mempercantik rumah kami nanti. Sekarang ini, koleksi saya tersebar di beberapa tempat, seperti rumah mertua dan kantor suami saya. Jadi bias dibilang, hobi saya sering terkendala keterbatasan tempat, hahaha.

Koleksi Anda didominasi benda antik dari mana?
Macam-macam. Kalau keramik dan furniture kebanyakan dari Cina. Kalau dari Indonesia, kebanyakan manik-manik dan perangkat perak, juga batik kuno.

Anda mengikuti perkembangan lukisan?
Tidak secara intens. Kalau untuk lukisan, biasanya saya mengikuti perkembangannya lewat diskusi dengan mertua dan beberapa sahabat yang memang bergelut di dunia lukisan. Saya tidak terlalu tertarik pada lukisan, karena suami saya dan keluarganya sudah mengoleksi banyak sekali lukisan. Saya ingin sesuatu yang berbeda.

Seni bagi Anda bermakna apa?
Sesuatu yang saya senangi dan penilaiannya sangat personal. Kalau senang, saya beli saja tanpa berpikir apakah karya itu sedang jadi tren atau tidak, berseni atau tidak. Saya menurut kata hati saja.

Apakah koleksi yang dimiliki mencerminkan diri Anda?
Agak bingung ya, karena saya mengoleksi banyak sekali benda. Susah kalau harus mengidentifikasi diri saya dengan satu jenis koleksi saja. Tapi mungkin, apa yang saya pilih itu pasti saya sukai. Semua yang menurut saya bagus.

Sering berburu di lelang?
Cukup sering, tapi biasanya saya tidak datang ke tempat lelang. Seringnya lewat telepon saja. Kebanyakan koleksi, saya dapat di lelang Christie’s. Kebanyakan furniture antic saya dapat dari lelang. Kalau keramik dan pernak-pernik lain, biasanya pemilik toko antiknya yang datang dan menawarkan pada saya.

Membeli lukisan di lelang?
Pernah juga, tapi itu untuk di kamar anak. Karena mertua saya kolektor lukisan, jadi suami sering bilang, nggak usah terlalu banyak membeli lukisan.

Perawatannya Anda percayakan pada siapa?
Saya sendiri. Lagipula benda seni saya kebanyakan furniture dan pernak pernik yang setiap hari dibersihkan. Sementara untuk kalung manik dan gelang-gelang, jarang sekali saya pakai. Jadi perawatannya bisa dibilang tidak merepotkan.

Mana yang paling Anda sukai?
Semua saya suka. Jadi susah juga kalau disuruh memilih mana yang paling suka. Sebab saya hanya membeli karya yang saya suka.

Apakah benda seni Anda mempunyai ‘efek terapi’ yang membuat Anda merasa lebih relaks setelah beraktifitas?
Nggak ya, biasa saja.


PAULA DEWIYANTI
Lahir di keluarga pecinta seni, Paula tumbuh besar di antara koleksi lukisan orangtuanya. Kecintaan kolektor yang membeli koleksi pertamanya pada usia 20 tahun ini pada seni terasah sejak usia belia. Kendati koleksi pertamanya adalah lukisan dekoratif karya seorang pelukis Vietnam, Paula justru terpikat karya seniman kontemporer yang menurutnya punya sihir yang menariknya masuk kedalam labirin keterpesonaan tak berujung. “Saya merasa sehati dengan karya kontemporer dan sanagt senang melihatnya,” katanya. Meski mengaku koleksinya belum terlalu banyak, Paula toh membutuhkan rumah dan kantor sebagai tempat memajang koleksi.

Sejak kapan Anda jatuh cinta pada seni rupa?
Sejak kecil saya suka seni. Dulu sempat les menggambar dan orang tua saya memang mengoleksi banyak lukisan. Tapi keinginan untuk benar-benar punya koleksi sendiri baru muncul pada usia 20-an.

Apa koleksi pertama Anda?
Koleksi pertama saya adalah lukisan dekoratif Vietnam, non kontemporer. Saat itu saya suka melihat pemandangan indah. Warna-warna dalam lukisan itu kebetulan atraktif dan vibrant.

Bila sekarang Anda lebih serius mengoleksi karya kontemporer, impresi apa yang Anda rasakan saat melihatnya.?
Hal menarik perhatian dari karya kontemporer adalah persoalan visual yang bagi saya -saat itu pertama kali bersinggungan dengan seni kontemporer- tidak biasa. Seperti agak minimalis. Saya langsung bisa menikmati dan mengerti karya tersebut tanpa membaca katalog. Saya merasa sehati dengan karya tersebut dan amat sangat senang melihatnya.


Berapa banyak karya seni yang Anda koleksi saat ini?
Baru sekitar 40-an. Belum banyak untuk ukuran kolektor. Lagipula jumlah terus bertambah. Saya juga gak sembarangan beli karena saya punya pertimbangan2 lain seperti saya harus suka sama karya2 senimannya secara total, bukan cuman karena 1 karya saja.

Di simpan di mana?
Sebagian dipajang di rumah, di kantor dan sebagian mau tak mau harus disimpan di gudang.

Kapan Anda menikmati koleksi tersebut? Punya waktu khusus?
Setiap waktu saat saya di rumah atau di kantor. Lebih sambil lalu daripada meluangkan waktu khusus.

Perasaan apa yang muncul dalam benak saat menikmati koleksi Anda?
Dari masing-masing koleksi saya punya imajinasi sendiri tentang karya tersebut dan relevansinya terhadap pengalaman pribadi saya. Ada banyak perasaan timbul waktu mengamati koleksi saya. Satu hal yang pasti, stres langsung hilang. Segala problema hidup sesaat seperti dapat dilupakan. Mungkin tepatnya membawa saya ke dunia lain dan saya sangat menikmati perasaan yang ditimbulkan itu.

Koleksi mana yang Anda anggap paling berharga? Ukuran yang Anda terapkan untuk membuat sebuah karya Anda anggap berharga, dari nominalnya, upaya mendapatkannya atau kisah di balik proses penciptaan karya tersebut?
Beberapa karya yang sudah jadi koleksi permanen, saya anggap sebagai yang paling berharga. Dan itu tidak melulu karena nominalnya. Ada sebagian karya yang saya anggap berharga sekali walaupun nominal harganya tidak atau belum tinggi. Tidak terbersit sedikit pun untuk menjual koleksi permanent itu karena karya-karya itu sudah menjadi bagian dari hidup saya. Mungkin karena ikatan emosionalnya, seperti kalau kita berpisah dengan karya tersebut ada bagian dari hidup kita hilang. Kesannya mungkin agak sentimental atau norak tapi saya rasa banyak kolektor berperasaan seperti itu. Saya rasa hal ini karena koleksi atau benda-benda sehari-hari yang kita miliki sadar atau tidak sadar itu adalah bagian dari identitas kita.

Di mana biasanya Anda berburu koleksi? Galeri, pameran, lelang, langsung pada seniman, dsb dan apa kelebihan serta kekurangan masing-masing tempat tersebut?
Biasanya lewat galeri. Ada kalanya membeli lewat lelang dan art fair. Sesekali beli langsung dari seniman tapi amat jarang sekali. Kelebihannya kalau lewat galeri karya sudah diseleksi. Senimannya juga sudah diseleksi. Kita bisa bertanya kepada pihak galeri informasi yang lebih dalam tentang karya dan senimannya. Lalu kalau pamerannya di galeri ada kurasinya. Kalau lewat artfair karya-karya yang dipamerkan jauh lebih banyak pada saat yang bersamaan, jadi lebih banyak pilihan. Lewat artfair tidak ada kurasinya walaupun kadang ada juga. Kalau lewat balai lelang pilihan juga banyak dan untung-untungan bisa dapat barangnya atau tidak di harga yang kita kehendaki. Jadi ada perasaan yang beda juga pada saat membeli lewat balai lelang. Ada perasaan kompetitif, cemas, semangat atau emosional pada saat bidding. Kekurangannya kalau di galeri pilihannya tertentu. Kalau tidak atau belum bisa menikmatinya maka tidak ada yang bisa dikoleksi saat itu. Kalau di artfair kita diburu waktu untuk mengambil keputusan. Kalau suatu karya diminati banyak orang kita jadi harus cepat mengambil keputusan, siap atau tidak. Padahal kadang untuk beli karya seni butuh waktu untuk mikir dan menimbang banyak hal apakah karya tersebut cocok untuk koleksi kita. Kalau di balai lelang adalah masalah harga, kadang kita mungkin beli kemahalan, tapi ya itu “winner’s curse” istilahnya.

Di tengah booming pasar seni rupa seperti sekarang, apa yang Anda jadikan landasan untuk menilai kualitas seni? Harga atau teknik?
Saya punya banyak landasan untuk menilai kualitas karya seni. Setidaknya ada enam hal yang selalu saya pertimbangkan saat akan membeli. Pertama, visualnya bagus atau tidak. Kedua seberapa tinggi tingkat kesulitan teknis dan skill dari sang seniman. Ketiga, pengolahan medium yang jadi indikasi akurat kreatifitas seniman itu. Keempat yang menurut saya sangat tidak bias diabaikan adalah konsep dari karya itu sendiri sebab ini akan menunjukan kecerdasan dan kepribadian sang seniman. Kelima adalah, apakah karya tersebut dapat dinikmati dan diapresiasi oleh saya atau kolektor lain dan hal terakhir yang tak kalah penting adalah apakah harga yang dipatok memang layak untuk seniman dan karya tersebut ditinjau dari rekam jejak sang seniman.

Koleksi apa yang punya kisah perburuan paling seru?
Buat saya sepertinya kadang koleksi itu seperti jodoh. Kadang karyanya datang ke kita atau akhirnya kita yang miliki padahal waktu pertama kita karya tersebut sepertinya tidak bisa dimiliki karena sudah direserve orang lain atau sudah laku. Tapi selang beberapa waktu tahu-tahu karya tersebut ditawarkan ke kita lagi dan akhirnya menjadi koleksi kita. Ada juga karya yang saya kepikiran terus sejak pertama kali melihatnya karena sangat suka tapi ragu-ragu untuk beli karena alasan tertentu. Beberapa bulan kemudian ternyata karya masih ada dan akhirnya saya tidak tahan juga untuk tidak membeli. Akhirnya saya pikir yang namanya mengoleksi itu adalah tentang kehidupan dan kepribadian kita dan kalau karya itu rasanya mencerminkan hal itu maka sayang kalau dilewatkan.

Mana yang Anda pilih, senirupa untuk diapresiasi atau senirupa sebagai investasi?
Sebagai apresiasi. Karena kalau sebagai investasi malah bikin saya stress, hahaha… Sebab, yang namanya investasi bisa saja rugi dan itu yang banyak orang lupa. Orang hanya berorientasi pada profit. Investasi saja tanpa diapresiasi tidak bisa dinikmati. Idealnya sih memang seni yang kita apresiasi juga meningkat nilai ekonomisnya.

Ketika membeli karya seni, apakah Anda meminta pendapat orang lain juga atau memutuskan sendiri?
Kadang meminta pendapat orang lain untuk assurance saja bahwa pilihan kita gak salah, bukan tanya untuk ambil keputusan. Pada akhirnya setelah mengolah pendapat orang lain dan diri sendiri saya ambil keputusan, beli atau tidak. Saya merasa saya harus punya pendirian juga. Tidak bisa hanya mendengarkan orang lain karena tiap orang punya selera, pengetahuan, dan pengalaman hidup berbeda.

Sebagai kolektor, adakah karya yang sampai sekarang ingin Anda miliki tapi belum tercapai?
Banyak. Sepertinya kolektor tidak pernah merasa cukup memiliki karya. Selalu ingin menambah terus, apalagi saat ini banyak sekali seniman baru dengan nuansa karya yang juga baru.

Siapa seniman favorit Anda? Kenapa?
Handiwirman Sahputra, karena karyanya amat progresif. Ay Tjoe Christine juga. Yunizar, Mantofani, Suwage, Stefan Buana juga saya suka. Karya Yuli Prayitno saya juga suka karena mengolah medium. Saya suka medium yang tidak melulu oil/acrylic on canvas. Bisa dua dimensi non acrylic on canvas atau tiga dimensi. Saya juga suka street art seperti Farhan Siki karena expressive dan spontan dalam merespon ruang atau benda.

Definisikan dalam tiga kata, kolektor seperti apa Anda…
Selektif, alternative minded, dan berharap nanti bisa bertambah dengan kritis dan berpengetahuan banyak. Kalau saat ini masih dalam perjalanan menuju definisi yang terakhir itu. (Indah S. Ariani), Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Foto: Dennie Ramon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar