Selasa, 01 Desember 2009

SESEDERHANA IDE TEGUH OSTENRIK


Karya-karya besarnya, acap bermula dari sebuah ide sederhana

Karya seni spektakuler, seringkali berawal dari sebuah ide sederhana yang sama sekali jauh dari berbagai kajian filosofi yang rumit. Pada banyak kesempatan, itulah yang terjadi dalam proses kreatif Teguh Ostenrik. Perupa jebolan Hochschule der Künste, -kala itu masih Jerman Barat- ini acap berangkat dari kejadian-kejadian kecil dalam hidup yang memberinya ide besar. “DeFacement dan Wok With Me adalah dua dari sekian banyak karya saya yang dimulai dari ide sederhana,” katanya di sebuah petang yang hangat di beranda berpemandangan lembah di rumahnya yang artistik. Menurutnya, impresi yang ia rasakan ketika mengalami sesuatu lebih banyak memberi ide untuknya, ketimbang buku dengan berbagai teori dan filosofi. Dengan kesederhanaan itulah, Teguh berkelana ke berbagai pameran seni rupa penting di banyak belahan dunia.

Dalam banyak kali, langkah yang ia ambil dengan alasan kepraktisan teknis, mendapat apresiasi estetika yang demikian gempita. “Ada hal yang lucu terjadi pada saat saya memamerkan kerya berjudul The Light of Bromo di Koln. Ketika itu saya masih tinggal di sana dan baru saja pulang dari Indonesia. Sempat jalan-jalan ke Bromo dan begitu terpukau dengan keindahan matahari terbit di sana, saya membuat karya itu dalam ukuran cukup besar, 2,50m X 2,50 m. Karena studio saya berada di lantai lima dan harus melewati tangga dengan bentuk memutar, karya itu lantas saya pecah ke dalam lima panel. Alasannya sangat praktis. Begitu dipamerkan, seorang penulis seni yang kebetulan pernah ke Bromo dan jadi sangat suka lukisan itu karena katanya saya bisa menuangkan dengan tepat nuansa warna matahari Bromo mengira pembagian lima panel itu sebagai sebuah pertimbangan estetika,” katanya sambil tertawa.

Dari Sawah dan Wajan
Teguh yang baru-baru ini memukau publik Jakarta lewat puluhan patung baja berkarat di Gedung Arsip Nasional dan ratusan wajan melayang di kubah atrium mal mewah Pacific Place ini juga menemukan tanpa sengaja konsep ide karya yang ia beri judul DeFacement dan Wok With Me itu. DeFacement menurut ayah empat putra ini berasal dari keterpukauannya pada bentuk tanah dan sawah yang ia lihat dari jendela pesawat sementara Wok With Me tak sengaja ia temukan dari wajan berisi spaghetti. “Saya memang senang memasak dengan wajan, dan bukan pan. Ketika sedang kumpul-kumpul dengan keluarga dan saya memasak buat mereka, saya melihat pola menarik yang terbentuk ketika sebagian wajan itu tertutup makanan. Tida-tiba saja muncul ide untuk membuat karya dari wajan. Awalnya saya ingin membuatnya dari wajan bekas. Selain ingin memuliakan wajan yang kerap hanya dianggap sebagai sarana memasak dan tak lebih penting dari makanan yang dibuat di dalamnya, saya juga ingin karya saya mendaur ulang limbah, seperti yang saya terapkan pada DeFacement,” kisah seniman yang karyanya dikoleksi beberapa museum seperti Museum Dahlem Berlin, Jerman dan Museum Seni Modern, Fukuoka, Jepang.

Hal menarik dari proses berkarya putra keenam dari Marsini dan Ostenrik Tjitrosunarjo ini adalah kendati tak pernah menyerah pada persoalan teknis yang berpeluang menghambat idenya, ia memiliki ketaatan sangat tinggi terhadap perhitungan teknis. “Hal pertama yang saya lakukan sebelum memulai sebuah proyek adalah mencari perhitungan teknis,” Teguh menjelaskan. Keika mengerjakan Wok With Me, ia berkonsultasi tak hanya pada Hadi, pemilik pabrik pemotongan baja yang jadi mitranya, tapi berkonsultasi pada konsultan arsitektur mal untuk mencari tahu kapasitas teknis maksimal yang tak membahayakan orang yang berlalu lalang di bawah karyanya. “Keterbatasan teknis bagi saya adalah frame. Saya akan berkarya sesuai kemungkinan yang ada di dalam frame. Meski tak menyerah pada kendala teknis, saya menghormati sekali perhitungan itu. Ketika dibilang pada saya batas kekuatan senar baja tempat karya itu digantungkan adalah 50 kilogram, saya bermain di bawah itu. Juga ketika disebut bahwa jarak antara wajan yang satu dengan yang lain harus 75cm dengan diameter maksimal wajan adalah 70cm, semua saya taati.

Tantangan Kanvas Kecil
Di mana pun berpameran, Teguh akan selalu memperhatikan hal itu. “Waktu memamerkan patung Yesus di Singapura, awalnya saya hanya ingin pakai satu sling-tali baja untung menggantungkan karya- agar tidak kelihatan. Tapi orang konstruksinya bilang harus pakai tiga supaya kuat dan aman, ya saya ikuti,” katanya. Akhirnya Teguh menggunakan tiga tali sesuai yang disarankan dan mengikuti aturan peletakan tali serta sudut kemiringan patung. “Saya percaya pembatasan teknis itu adalah struktur yang di dalamnya ada estetika. Saya tidak mau mengada-ada membuat estetika sampai mengabaikan struktur,” katanya.

Karya-karya Teguh umumnya berukuran besar. Khalayak seni rupa tentu masih ingat ketika ia membeli bagian-bagian Tembok Berlin dan memamerkannya sebagai karya seni. Kali lain, ia datang dengan lukisan-lukisan berukuran minimal 140 cm dengan ukuran maksimal tak terhingga. Hal ini sudah ia lakukan ketika mengerjakan tugas akhir masternya di Berlin, dengan karya berukuran 9 meter yang dibagi dalam 7 panel. “Mungkin karena saya suka dengan gerakan tubuh saya sendiri. Dengan media berukuran besar saya bisa melakukan gerakan dengan sangat leluasa ketika berkarya,” katanya. Teguh lantas membandingkan dengan karya-karya mutakhirnya yang baru saja dipamerkan di Galeri AOD di bilangan Panglima Polim. 500 panel lukisan yang dipamerkan hanya berukuran 10cm X 10cm. “Membuat karya yang kecil seperti ini jauh lebih susah karena kita harus membatasi ruang dan gerak,” katanya.

Kendati demikian, Teguh mengaku dari tingkat kepuasan, kanvas kecil memberi lebih karena keterbatasan ruang di kanvas kecil, menurutnya, menimbulkan masalah teknis yang sangat kompleks, “Tantangan kanvas kecil itu lebih besar. Kalau di kanvas besar, pelukis itu kayak tukan cat, bidang yang bisa digarap banyak.” Teguh lantas berkisah tentang sebuah gambar punggung perempuan berukuran kecil karya Pablo Picasso sangat bagus meski hanya terdiri dari empat gari. “Ketika seorang awam bertanya pada Picasso berapa lama mengerjakan karya tersebut, maestro itu bilang, 30 tahun. Pengalaman saya sendiri pun memang begitu. Butuh 34 tahun sebelum akhirnya saya bisa membuat karya berukuran 10cm X 10cm. Awam sering menyangka, makin kecil karya, makin singkat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan. Itu asumsi yang tidak benar. Lalu awam juga sering menganggap realis bagus, tapi mereka tidak tahu bahwa untuk menjadi abstrak tiap seniman harus mempelajari realis dengan baik. Kalau tidak, dia tidak akan bisa mendekonstruksi imaji,” Teguh menjelaskan.

Persinggungannya dengan tari dan Buddha Zen, diyakini Teguh sebagai hal yang membuatnya dapat berdamai dengan bidang kecil kala berkarya. “Saya juga pernah membuat banyak sketsa (mencapai 1600 gambar) di sebuah block note kecil -juga berukuran 10cm X 10cm-. Semua saya buat di atas subway kota New York dan menghasilkan gambar yang menarik karena efek gerakan seismografis karena bukan tangan kanan saya saja yang bergerak, tapi juga tangan kiri karena gerakan kereta. Seri karya itu pernah saya pamerkan di Köln. Hal ini yang ingin saya ulangi dengan kanvas kecil itu,” ungkap perupa yang juga kerap merancang tata panggung dan cahaya bagi pertunjukan tari dan teater ini.

Kompleksitas Kesederhanaan
Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ini memang tak hanya bermain dalam satu bidang seni rupa saja. Selain lukis, patung, serta dekorasi panggung, Teguh pun membuat video art, bahkan koreografi untuk pertunjukan dan fashion show. Mana yang paling disukainya? “Semuanya sama.saja. Saya hanya selalu berusaha membuat karya yang provokatif. Provokatif terhadap ruang, juga provokatif terhadap orang-orang yang berada di ruang itu. Misalnya untuk Wok With Me. Otokritik saya terhadap karya itu adalah karena harus berkompromi dengan berbagai masalah teknis, kesan provokatif itu tak dapat dipenuhi dan berhenti pada kesan dekoratif saja,” katanya. Teguh mengatakan, awalnya, ia berencana menggunakan 40 wajan berdiameter 1,5m untuk menghasilkan kesan luar biasa. “Sayangnya secara teknis tidak memungkinkan,” katanya.

Ruang memang menjadi bagian penting dalam karya perupa ini. “Saya selalu berusaha menciptakan interaksi antara karya dan penikmatnya,” ungkapnya. Ia mengambil contoh karyanya yang berjudul Jalan Salib yang berada di Manado. “Kalau biasanya cukplikan Jalan Salib itu dibuat dalam diorama, maka saya membuatnya dengan patung-pantung berukuran life size yang mau tidak mau akan membuat penontonnya merasa jadi bagian dari karya itu,” kata perupa yang selalu melakukan pendalaman lewat bacaan untuk semua karya, bahkan yang berangkat dari hal-hal praktis sekali pun. “Karena bacaan itu penting untuk mencari penjelasan tentang apa yang dari pikiran praktis itu tak dapat diterapkan. Sebab saya lebih percaya bahwa ide itu lahir dari kerja, bukan dari bermimpi” ungkapnya lagi. Barangkali, ini serupa anomali dari konsep awam tentang seniman yang lebih sering berpandu mimpi ketika berkarya.

Dalam pandangan pria kelahiran Jakarta, 59 tahun silam ini, Seorang seniman sejatinya adalah pengamat sejati. “Kerja seniman yang sesungguhnya itu adalah observasi dan membuat keputusan. Karyanya adalah keputusan. Saya selalu mengajarkan murid-murid saya untuk melakukan observasi,” tutur Teguh yang juga mengadakan kelas melukis realis di rumahnya. Proses observasi, menurutnya merupakan kunci penting dalam kerja seorang seniman. Hal penting lainnya menurut Teguh adalah media. “Sebab media itu membuat karakter karya yang sama berubah menjadi lain. Beberapa karya, sengaja saya terapkan dalam lebih dari satu media. Misalnya saja karya saya yang berjudul Homo Sapiens. Selain di kanvas, saya menerapkannya juga di terracotta, perunggu, etching. Begitu juga karya saya yang berjudul Kamasutra. Ternyata memang, seniman tetap harus menghormati media, bukan hanya sebagai alat, tapi juga partner yang berinteraksi dengannya sepanjang proses berkarya,” ungkap Teguh yang mengaku menakzimi setiap media karena sifat dan daya tariknya yang berbeda.

Di luar kapabilitas teknis yang ia miliki, Teguh punya hal lain yang membuat karyanya selalu menjadi penting: kemampuan mengemas ide menjadi sebuah konsumsi public yang menarik. Misalnya saja ketika menggelar DeFacement. Teguh –dan timnya- berhasil membuat orang membicarakan pameran tersebut lewat rangkaian diskusi yang dengan sukses membentuk opini tentang karyanya.
“Kalau saya tidak punya kemampuan itu, mungkin saya akan mengada-ada dan membuat sesuatu yang over aesthetic dan akhirnya tidak memikirkan detail lagi. Justru karena saya selalu observe, selalu berpihak pada struktur, pada bentuk yang sederhana, semuanya menjadi terfokus. Membikin sesuatu yang sederhana itu tidak sederhana lho. Sama sekali nggak gampang,” katanya. Dalam pandangannya, kesederhanaan adalah proses deformasi segala kompleksitas menjadi sesuatu yang mudah dipahami, “Dan itu tidak mudah.”
Kedekatan Teguh dengan Buddha Zen barangkali bisa menjadi penjelasan tentang perjalanannya menuju kesederhanaan. “Itu yang dicari banyak orang sekarang: kekosongan dan zen memberi saya banyak pengaruh tentang pemahaman ini,” tandasnya. (Indah Ariani) Foto: Eliska, Leonardi Portaiture

Tidak ada komentar:

Posting Komentar