Selasa, 01 Desember 2009

LINGKARAN IMAJI SAM, NURULITA, & NICOLINE


Sederet rekan kerja dimiliki Sam Nugroho di agensi fotografi The Looop. Dua di antaranya bidadari yang punya kemampuan tinggi merangkai imaji.


The Looop adalah agen gaya hidup. Mereka membekukan imaji tentang keindahan dan kemewahan lewat bidikan sempurna. Sederet orang muda penuh semangat berdiri di belakangnya. Sam Nugroho, yang bersama Jen Halim menggagas agensi fotografi ini dibantu banyak associates –sebutan untuk para fotografer yang bergabung dengan The Looop- yang bersama-sama membangun citra tentang sebuah kemewahan. Jaringan yang tersebar di beberapa negara Asia, The Looop begitu terdengar gaungnya di kancah fotografi komersial. Puluhan perusahaan multinasional pernah merasakan tangan dingin meraka. Dari sekian banyak associates yang ada, terselip dua bidadari cantik yang bergabung pada kurun waktu berbeda. Nurulita Adriani Rahayu, dan Nicoline Patricia Malina. Dua perempuan yang bakat besarnya mengejutkan Sam.


Sejak kapan The Looop berdiri?
Sam Nugroho (SN): Sekitar delapan tahun yang lalu.

Sudah lama juga ya, bisa ceritakan perjalanan awalnya?
SN: Sebenarnya The Looop itu adalah soal memaksimalkan jejaring. Keinginan utama saya sebenarnya adalah mengembangkan jaringan di wilayah Asia. The Looop sendiri memang ada di beberapa Negara seperti Shanghai, Hongkong, Singapore dan Jakarta. Kami, saya dan Jen Halim memulai The Looop di Hongkong. Pertimbangan kami dulu adalah, kalau kami mulai di Indonesia, akan susah keluar karena Indonesia itu negara yang unik. Biar pun sama-sama di Asia, gaya hidup di Indonesia sangat berbeda dibandingkan negara lain, misalnya Cina, Jepang, bahkan Singapura yang terdekat. Makin ke utara, perbedaan itu makin kentara. Tapi pengembangan bisnis di sana menjadi penting karena mereka sudah menerapkan sistem global. Kalau kita mau menyasar pasar internasional, kita harus memulai di tempat yang sudah punya sistem berstandar itu bukan


Saat itu namanya sudah The Looop?
SN: Belum. Kami membawa nama masing-masing saja, dia Jen Halim Photography dan saya Sam Nugroho Photography. Setelah saya mulai punya associates seperti Anton dan Heret, saya merubah nama jadi Sam Nugroho and Associates. Karena saya piker, kalau lompat langsung ke The Looop akan susah. Kami baru membuat The Looop dua tahun setelah perubahan itu, sekitar tahun 2002. Jejaring adalah makna yang tersirat dalam tiga huruf O yang ada dalam nama The Looop, menggambarkan banyaknya kaitan, keterhubungan yang mencakup segalaha, tak hanya semata-mata fotografi, tapi juga manusia yang terlibat di dalamnya dan juga soal citra.

Sekarang ada berapa banyak associates yang dimiliki?
SN: Cukup banyak. Sekarang ini kami membagi associates dalam dua kategori, senior dan junior. Nurulita, Ully, dan Nicoline termasuk senior. Mereka ini bisa disebut sebagai brand-nya. Di Hongkong dan Shanghai, kami punya Jen Halim, we have Jen Halim, Marten von Rauschenberg, Anatol Kotte dari Germany dan beberapa yang lain. Ada juga yang junior seperti Glenn Prasetya dan ada yang masih benar-benar baru seperti Edwin, dan Andre Lee. Kami kini juga punya associates yang membuka kantor sendiri dan kami sebut sebagai The Looop Kemang yang ditangani oleh Iswanto yang berencana akan melebarkan sayap ke Vietnam.

Rekruitmen fotografernya gimana?
SN: Tidak mudah. Sebab ini menyangkut soal bagaimana perasaan setiap orang saat bekerjasama. Kalau cocok, silakan terus. Kami biasanya memberi waktu enam bulan percobaan. Tapi ada yang masa percobaannya lebih singkat dari ini, seperti Nurul dan Nicoline yang memang berbakat dan merasa sangat cocok dengan The Looop.

Anda sudah lama bergelut di bidang fotografi. Apakah Anda bisa dengan cepat mengidentifikasi orang yang berbakat dan punya taste bagus?
SN: Ada dua hal yang bisa dilihat ketika saya bertemu fotografer. Ada yang memang punya bakat besar hingga mereka bisa melaju dalam lompatan-lompatan besar, ada yang bakatnya tidak terlalu mengejutkan, tapi mereka gigih belajar dan konsisten, dan ini pun, mereka tetap bias maju karena kemauan mereka mengasah kemampuan. Bakat mengejutkan itu saya rasakan saat pertama melihat karya Nurul dan Nicoline. Nurul bilang saat itu, dia tidak punya kamera. Buat saya, itu sangat mengejutkan. Kalau tanpa kamera saja dia bias bikin portfolio begitu bagus, artinya, bakat besar itu memang miliknya. Begitu juga dengan Nicoline. Saya sama sekali tidak tertarik ketika seorang teman mengenalkan dia pada saya karena saya piker, teman saya membawa model. Saat itulah saya dihadapkan pada kebenaran pepatah Don’t judge a book by its cover. Karena begitu melihat portfolionya, saya menemukan sesuatu yang sangat menarik dan saya segera tahu Nicoline berbakat besar. Mereka berdua mungkin punya gaya foto berbeda, tapi keduanya akan sama ketika kita bicara bakat. Tapi tidak semua punya bakat alam yang begitu besar seperti mereka. Ada juga yang secara talenta tidak terlalu mengejutkan tapi karena ketekunan dan disiplin kerja yang baik, mereka bias juga membuat karya yang bagus. Bagi saya, saat bekerja yang penting itu hati, persistensi, komitmen dan hasrat.

Kenapa hati menjadi penting?
SN: Tanpa hati, orang tidak akan mau berjuang untuk apa yang diakerjakan. Banyak kan orang yang berpikir bisnis saja ketika bekerja? Padahal, saat bekerja banyak masalah, banyak kesakitan, dan kekecewaan yang kalau dihadapi tanpa hati, tentu tidak akan bisa dilampaui. Menurut saya, fotografi itu bisnis yang berat karena ini menyangkut rasa. Kalau tidak siap menghadapi kekecewaan, Anda bisa hancur. Sangat bias terjadi misalnya, tahun ini kondisi Anda sangat baik, dan tahun berikutnya Anda bukan siapa-siapa. Jadi memang ini semua menyangkut bagaimana kita bisa bekerjasama.

Pola kerja sama yang diharapkan bagaimana?
SN: Tiap orang berbeda-beda melakukan apa yang mereka kerjakan. Apalagi dalam bisnis ini, mereka ahlinya, mereka senimannya. Jadi memang rasa nyaman dengan pekerjaan harus ditumbuhkan, karena masing-masing orang punya kepribadian yang berbeda.

Nah, kalau dua bidadari ini, bagaimana awalnya bergabung dengan The Looop?
Nicoline Patricia Malina (NPM): Seperti yang diceritakan Sam. Saya bergabung di sini karena seorang teman mengenalkan, sebab saat itu saya masih tinggal di Belanda dan baru belajar fotografi. Sebenarnya awalnya saya hanya ingin minta masukan dari fotografer senior. Lalu dia bilang bagus dan menawarkan saya untuk bergabung. Saat itu saya belum bias menjawab karena saya masih di Belanda. Kembali ke Indonesia karena liburan saja. Tapi selama sebulan itu saya mulai mencari tahu tentang kantor ini, karena saat itu saya benar-benar orang asing yang tidak kenal siapa-siapa. Tapi saya sangat menghargai dukungan mereka yang demikian besar. Saya diberi kebebasan membuat portfolio di sini. Sam itu baik dan supportif. Saya piker, tidak ada salahnya bergabung. Tapi saat itu saya masih harus kembali ke Belanda selama setengah tahun untuk menyelesaikan urusan di sana. Begitu kembali kesini saya langsung menjadi associate di sini.

Nurulita Adriani Rahayu(NAR) : Sebelum di sini, saya sempat di media selama satu setengah tahun. Lalu saya dengar di sini mencari associate dan saya tanay, apa saya bias melamar ke The Looop. Tapi orang sini bilang, kami tidak menerima lamaran, tapi kami merekrut, jadi orang tidak bias melamar, melainkan dipilih. Tapi pihak The Looop menawari saya untuk meninggalkan portfolio saya untuk dipelajari. Saya santai saja menitipkannya. Beberapa hari kemudian, Sam menelepon saya menawari untuk bergabung dan saya memutuskan untuk bergabung

Apa perbedaan yang dirasakan antara The Looop dan tempat lainnya?
NAR: Kalau saya, yang jelas terasa itu adalah soal jam kerja. Kalau di majalah itu jam kerjanya baku, di sini saya hanya dating kalau sedang ada jadwal pemotretan saja. Hanya yang sempat membuat saya kaget adalah karena saya sama sekali tidak punya pengetahuan tentang sitstem kerja agensi fotografi. Jadi saya harus belajar lagi dari nol soal hal yang harus diurusi dari hulu ke hilir sebuah agensi foto.

Apa Sam ikut memberi arahan?
NPM: Iya, kalau dia sedang ada di sini. Sayangnya Sam itu kan sangat sibuk dan sesekali saja ada di kantor.
NAR: Iya, kalau ada di sini, Mas Sam pasti jadi teman diskusi yang asyik. Tapi di The Looop juga ada Account Executive yang akan mengarahkan kita bagaimana dealing dengan klien, gimana kalau mendapat layout yang rumit, jadi kendala yang ada tidak terlalu memusingkan.

Bagaimana pendapat Anda berdua tentang Sam?
NAR: Perfeksionis dan sangat idealis. Tapi yang paling saya kagumi dari Sam Nugroho adalah sistem pencahayaannya yang menurut saya tidak ada duanya. Saya bicara begini bukan karena saya ada di The Looop. Saya berani bilang begini setelah mengamati pencahayaan hampir semua fotografer komersial senior di sini (Jakarta). Bahkan, mungkin kalau dibandingkan dengan fotografer komersial Asia pun, Sam masih bisa diadu sistem pencahayaannya. Dia bisa melukis cahaya. Kalau sebuah objek difoto seorang fotografer lain, dengan lampu yang sama hasilnya tetap akan berbeda ketika difoto oleh Mas Sam. Itu yang banyak saya pelajari ketika ‘menonton’ Mas Sam memotret.

Yang paling berkesan dari kerja di The Looop?
NAR: Dukungan yang saya dapat di sini. Sejak lama saya memang ingin sekali terjun ke fotografi komersial. Ilmu saya tentang pencahayaan, tentang bagaimana dealing dengan klien meningkat pesat selama saya di sini karena dukungan Sam dan tim The Looop. Kalau saya jalan sendiri, mungkin proses yang sala lewati tidak berjalan secepat sekarang. The Looop bias dibilang katalisator saya menjadi fotografer komersial.
NPM: Setuju sama Mbak Nurul. Tapi kalau secara personal, yang berkesan buat saya adalah ketika Sam pameran foto fashion 1939 di Senayan City beberapa bulan lalu. Di sana dia kolaborasi sama saya. Buat saya ini sebuah penghargaan, sebab sepanjang pengetahuan saya dan teman-teman di sini, saya dan dia itu sangat bertolak belakang. Kalau Sam perfeksionis, maka saya kebalikannya, sangat tidak perfeksionis. Mungkin itu yang ingin dipertemukan, dia biasa sees beauty in perfection, sementara saya terbiasa sees beauty in imperfection.

Chemistry Anda berdua dengan Sam dan teman-teman lainnya?
NPM: Saya sih sayang sama dia (sambil menunjuk Nurul), dia aja yang sering nolak saya, hahaha… Tapi teman-teman The Looop itu asyik semua. Terutama dengan Glenn yang sudah saya kenal sejak kami masih di Surabaya.
NAR: Kalau sama Mas Sam, mungkin karena jarang ketemu, jadi chemistrynya tidak sekuat dengan teman-teman lain. Kalau dengan teman lain seperti Ully, karena frekuensi bertemunya lebih banyak, jadi kami lebih dekat. Kalau mau bergosip, saya datang ke Nicoline. Semua pada dasarnya okey, Cuma ya itu, susah ketemunya. Kita mau rapat lengkap saja susahnya minta ampun. Tapi kalau sudah ketemu sih asyik banget.

Sebagai Sebagai dua perempuan di antara sekian banyak lelaki, apakah ada perlakuan khusus yang diberikan, lebih dimanja misalnya?
NAR: Nggak ada sama sekali. Kami mungkin malah sering dianggap lelaki juga, hahaha… Eh, tapi kalau Nicoline masih dianggap perempuan ya, hahaha…
NPM: Itu karena saya pakai high heels. Tapi ada loh, perlakuan khusus, barang bawaan kita sering dibawakan, hahaha… (Cetusan NIcoline segera disambut Nurul dengan anggukan kepala bercampur tawa). (Indah Ariani), Fotografer: Glenn Prasetya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar