Jumat, 23 April 2010

DARI BALI, TENTANG MEREKA


Di balik kemahsyuran Bali, ada nama-nama yang menopangnya. Ini cerita tentang mereka. Dituturkan lewat mata sembilan warga dunia, kisah ini dihaturkan bagi hidup anak-anak alam.

Dua orang pria duduk berhadapan di tepi pantai, dinaungi payung besar. Tubuh keduanya menjelma siluet hitam di benderang siang. Mata mereka memandang jauh, jatuh mendarat di kaki lazuardi. Di kejauhan, tiga orang –satu wanita dan dua pria- bercengkerama dengan suasana. Payung mereka diterbangkan angin yang terlalu lasak mengajak mereka bermain. Payung yang mungkin membelah diri di udara dan tertangkap oleh enam pria yang berdiri berjajar di tepi kolam. Berwajah sumringah, mereka tengadah memandang ke sebuah arah. Pohon kelapa yang berdiri di antara mereka meliuk, melambai mengabarkan sukacita.

Sukacita yang terasa di ruang pamer Komaneka Fine Art Gallery, Ubud pada sebuah malam awal Maret 2010 silam, ketika tiga citra itu dipamerkan bersama puluhan citra lainnya dalam sebuah pameran bertajuk Bali Portraits. Terekam beku dalam kanvas, wajah-wajah pesohor Pulau Dewata tetap memancarkan aura yang sama. Taksu yang mereka punya seakan merebak di setiap sudut potret tak berbingkai yang digantung rapi dengan ukuran seragam. “Kami sengaja membuat ukuran seragam agar mood pameran ini bisa terjaga,” ungkap Indra Leonardi yang bersama Koman Wahyu Suteja menjadi kurator sekaligus koordinator pemotretan.

Foto-foto yang dipamerkan sembilan fotografer yang tergabung dalam organisasi fotografer Internasional, Societ of Twenty-five –biasa juga disebut dengan XXV-, ini dilakukan hanya satu hari, di tiga tempat berbeda. “Lumayan susah mengatur waktunya, mengingat model yang begitu banyak. Tapi syukurlah, semua berjalan lancar. Fotografer dan model sama antusianya,” kisah Indra sembari tertawa. BUkan tanpa halangan. Seniman Nyoman Gunarsa, menurut Indra bahkan nyaris urung ikut berfoto. “Pak Gunarsa waktu itu sedang sakit. Kami sudah berpikir bahwa pemotretan akan berlangsung tanpa kehadirannya. Tapi Pak Gunarsa ternyata memaksa diri datang. Mengharukan sekali,” katany Indra yang merupakan satu-satunya fotografer dari Asia yang tergabung dalam XXV.

Para tokoh berasal dari latar belakang yang berbeda, termasuk pendiri museum, visual artis, fotografer, perancang busana dan perhiasan, arsitek dan interior designer, musisi dan produser musik, pemilik galleri, ahli kuliner, penulis/sastrawan, dan ikon budaya. Nama-nama besar seperti Nyoman, Made Wianta, Jean Cotteau, Delia von Rueti adalah beberapa dari sekitar 30-an tokoh yang difoto oleh sembilan fotografer. Marcus Bell (Australia), Peter Dyer(UK), Hanson Fong (USA), Indra Leonardi (Indonesia), Curt Littlecott (USA), Susan Michal (USA), Ralph Romaguera (USA), Paul Skipworth (USA), Vicky Taufer (USA).

Pameran ini akan dibawa ber keliling ke beberapa Negara, di mana anggota kelompok XXV berada setelah sebelumnya dipamerkan selama sepuluh hari di Komaneka. “Hasil penjualan foto yang dipamerkan akan disumbangkan kepada Komunitas Anak Alam,” jelas Indra. Komunitas Anak Alam adalah sebuah komunitas anak-anak muda Indonesia dengan latar belakang berbeda yang bertujuan untuk membantu pendidikan, juga mensejahterakan kaum marginal dan anak-anak yang kurang beruntung di Desa Blandingan, sebuah area di bukit sekitar Danau Batur di Kintamani, Bali.

Tiga Tempat Pertama
Untuk mereka yang berjasa membawa nama harum Bali di mancanegara, Indra dan Koman memilih lokasi yang memiliki arti tersendiri di kancah budaya Bali. “Kami memilih tiga tempat yang menjadi pionir di Bali. Ada Puri Lukisan di Ubud yang merupakan museum seni dan budaya pertama di Bali. Lalu di Tandjung Sari, Sanur butik hotel, dan terakhir di Kendra Gallery Seminyak yang merupakan galeri seni kontemporer pertama di pulau Dewata ini,” para Indra pangjang lebar. Namun, untuk alasan artistik dan suasana yang sesuai, beberapa pemotretan dilaksanakan di tempat para tokoh penting tersebut.

Hal lain yang menarik dari pameran ini adalah waktu eksekusi dan persiapannya yang demikian pendek. “Hanya lima hari. Pemotretan satu hari, empat hari proses cetak dan display. Semua dilakukan serba ngebut,” tukas Indra sambil tertawa. Tentu bukan hal mudah mengkoordinasi sejumlah fotografer senior dan tersohor yang masing-masing memiliki gaya berbeda. Beruntung, semangat para fotografer yang datang dari berbagai belahan bumi itu terus terjaga hingga pameran dibuka. “Itu tadi, fotografer dan model sama excitednya. Jadi semua bisa berjalan lancer,” ungkap Indra tanpa menutupi rasa senangnya.

Para fotografer dan modelnya, kisah Indra, berkolaborasi dengan sangat antusias untuk mencoba dan menciptakan berbagai pose yang berbeda pada setiap sesi pengambilan foto. Ratusan bingkai tercipta dari tiga sesi pemotretan yang berlangsung pada waktu yang bersamaan di tiga lokasi berbeda. Cuaca yang kurang baik tak menghalangi mereka semua membuat karya-karya dramatis dengan konsep yang kuat, kendati mereka memotret hanya dengan bantuan pencahayaan alami. Upaya yang layak ditakzimi. (Indah S. Ariani), Foto: Dok. Societ of Twenty-five

Tidak ada komentar:

Posting Komentar