Kamis, 15 April 2010

RADEN SALEH DAN SUBYEKTIVITAS SEJARAH


Sejarah selalu punya subyektivitas, bahkan ketika ia dituangkan ke atas kanvas. Keberpihakan menjadi muatan yang niscaya ada dalam sebuah karya rupa. Dan itu bukan sesuatu yang diharamkan. Bukankah seni, apa pun bentuknya adalah sebuah pernyataan sikap? Dalam pergelaran Opera Diponegoro arahan Sardono W. Kusumo di Salihara beberapa pekan silam, ada kisah menarik di balik lukisan Penangkapan Diponegoro yang dipakai sebagai latar depan pertunjukan libretto dalam bahasa Jawa tersebut. Kisah itu disampaikan dengan menarik oleh sejarawan Inggris Peter Carey. Menurut penyusun biografi Diponegoro berjudul "The Power of Prophecy Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855," Raden Saleh dengan gamblang menjelaskan keberpihakannya pada heroisme Diponegoro. “Berbeda dengan lukisan N. Pieneman, pelukis Belanda yang berjudul Penaklukan Diponegoro, karya Saleh menempatkan Diponegoro dalam sudut pandang yang berbeda. “Jika dalam karya Pieneman, Diponegoro ditempatkan sebagai pesakitan yang kalah lewat pose terpuruk dan bersimpuh di bawah kaki serdadu Belanda, Saleh menempatkannya sebagai seorang pahlawan terhormat,” Carey menjelaskan. Saleh, menurut Carey juga menunjukkan keberpihakannya dengan cara yang cukup terbuka. “Ia menempatkan sekaligus tiga gambar dirinya di antara para serdadu Belanda dengan pose menakzimi Diponegoro,” katanya. Jika diamati, ketiga sosok Raden Saleh itu memang dengan mudah dapat dibedakan dari ‘penghuni’ kanvas lainnya. Ia berpakaian beskap dalam tiga warna berbeda, dengan kumis melintang khasnya, menatap kagum pada Diponegoro. Hal lain yang juga dapat dengan mudah ditangkap sebagai keberpihakan Saleh adalah ukuran kepala serdadu Belanda yang tidak proporsional dengan tubuhnya. “Keanehan proporsi tubuh ini menjelaskan sikapnya secara eksplisit. Mungkin Saleh ingin menganalogikan para penjajah dengan buta (raksasa-red) dalam pewayangan yang selalu digambarkan dengan proporsi tubuh yang bermasalah,” jelas Carey yang segera menangguk tawa penonton. Memang, kisah di balik sebuah karya –terlebih karya fenomenal- selalu menyimpan daya tarik yang sama kuat dengan karya itu sendiri. (ISA), Foto: Dok. Salihara/ Witjak Widhi Cahya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar