Kamis, 15 April 2010

MENAKZIMI NIETZSCHE?


Pertanyaan tentang hakikat manusia selalu saja berulang. Frederich Wilhelm Nietzche termasuk filsuf yang pernah ikut memikirkannya dan melontarkan pertanyaan tentang ‘aku.’ Pemikiran ini menjadi bahan diskusi yang berujung pada pameran 14 perupa. Diskusi antara seorang kurator, Heru Hikayat, dan dosen filsafat, Roy Voragen, membuahkan visualisasi. Pameran di Semarang Gallery awal Maret lalu itu memang meminjam judul buku otobiografi Nietzsche itu, Ecce Homo. Nurdian Ichsan, misalnya, menafsirkan Ecce Homo sebagai seorang pria yang berbaring miring, menekuk lutut serupa janin yang menggeletak sendiri di tengah lantai lapang dalam karya berjudul Man on The Center. Nuansa yang mirip hadir dari karya seri Agus Suwage berjudul The Beginning dan The End. Selain persoalan ‘aku’ yang merujuk pada individu tunggal, sebagian perupa lain mengambil langsung sosok Nietzsche ke atas kanvas untuk menerjemahkan Ecce Homo. Roumy Handayani Pesona, dan Aminuddin Th. Siregar. Karya yang menggelitik dan menarik hadir dari Iswanto. Alih-alih mengurusi ‘aku’ dan Nietzsche, ia malah bermain-main dengan sosok Pramoedya Ananta Toer. Judul mbeling ia sematkan untuk salah satu karyanya, Saya Lebih Suka Pram Daripada Nietzsche. Tapi, siapa pun yang disukai, Ecce Homo tetap menarik untuk ditakzimi karena ia bicara tentang eksistensi manusia. (ISA), Foto: Dok. Semarang Gallery.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar