Jumat, 23 April 2010

MENGULIK KOMIK


Komik makin menggelitik. Ini tampak dari tiga acara yang berkaitan dengan komik di tempat dan waktu berbeda yang digelar Maret silam. Awal hingga medio Maret, duo kartunis Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad menggelar pameran karya-karya mereka dalam ajang Benny & Mice Expo di Bentara Budaya Jakarta. Pengunjung dapat melihat secara lengkap jejak karya mereka baik yang pernah dipublikasikan di harian Kompas Minggu, atau media lainnya di mana kedua kartunis itu bekerja, Harian Kontan dan Surabaya Post Minggu. Pada paruh akhir bulan tersebut, 22 perupa terlibat pameran The Comical Brothers yang diadakan di Galeri Nasional oleh Andi’s Gallery. Nama-nama kondang seperti Ugo Untoro, dan Eko Nugroho ikut terlibat dan menampilkan karya mereka yang memiliki ‘citarasa’ komik cukup kental. Dikuratori oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono, pameran itu mencoba merespon kemunculan karya-karya yang kerap disebut Lukisan Komikal. Kurator yang juga perupa ini, sadar benar bahwa sejatinya, komik pernah memiliki posisi signifikan dalam ranah seni rupa pada decade ‘60 hingga ‘70an. “Sayang pada era ‘80an, komik seakan kehilangan penerus,” ungkap Bambang dalam kuratorialnya. Namun, setelah hamper dua decade ‘bergerilya’ komik kini mulai kembali diminati. Generasi muda mulai mencari akar keberadaan komiknya setelah jenuh dengan serbuan komik asing. Tak mengejutkan bila nama-nama begawan komik seperti R.A. Kosasih, Kho Ping Ho, Teguh Santosa dan Saleh Ardisoma kembali muncul ke permukaan seiring diterbitkannya kembali karya-karya mereka. Nama yang disebut belakangan meluncurkan buku komik Wayang Purwa. Lewat komiknya, Saleh seakan ingin membuktikan bahwa komik masih jadi daya tarik besar di kancah seni. (ISA), Foto:Dok. Bambang Toko

Tidak ada komentar:

Posting Komentar